TAFSIR ILMU GHAIB

مَا كَانَ اللَّهُ لِيَذَرَ الْمُؤْمِنِينَ عَلَى مَا أَنْتُمْ عَلَيْهِ حَتَّى يَمِيزَ الْخَبِيثَ مِنَ الطَّيِّبِ وَمَا كَانَ اللَّهُ لِيُطْلِعَكُمْ عَلَى الْغَيْبِ وَلَكِنَّ اللَّهَ يَجْتَبِي مِنْ رُسُلِهِ مَنْ يَشَاءُ فَآَمِنُوا بِاللَّهِ وَرُسُلِهِ وَإِنْ تُؤْمِنُوا وَتَتَّقُوا فَلَكُمْ أَجْرٌ عَظِيمٌ

 “Dan sekali-sekali Allah tidak akan memperlihatkan kepada kamu hal-hal yang ghaib, akan tetapi Allah memilih siapa yang dikehendaki-Nya di antara rasul-rasul-Nya. Karena itu, berimanlah kepada Allah dan rasul-rasul-Nya; dan jika kamu beriman dan bertakwa maka bagimu pahala yang besar“. (QS Ali Imran [3]: 179)

وقال ايضا

عَالِمُ الْغَيْبِ فَلَا يُظْهِرُ عَلَى غَيْبِهِ أَحَدًا (26) إِلَّا مَنِ ارْتَضَى مِنْ رَسُولٍ فَإِنَّهُ يَسْلُكُ مِنْ بَيْنِ يَدَيْهِ وَمِنْ خَلْفِهِ رَصَدًا

“(Dia adalah Tuhan) Yang Mengetahui yang ghaib, maka Dia tidak memperlihatkan kepada seorangpun tentang yang ghaib itu, kecuali kepada rasul yang dikehendaki-Nya, maka sesungguhnya Dia mengadakan penjaga-penjaga (malaikat) di muka dan di belakangnya“. (QS al-Jinn [72]: 26-27)

Mengenai hal-hal gaib

Dua ayat di atas—di samping beberapa ayat lain yang senada—menegaskan bahwa satu-satunya yang tahu akan hal-hal yang gaib hanyalah Allah SWT selaku Pencipta dan Pengatur alam semesta raya beserta segala dimensi dan isinya. Mulai dari yang kosmos hingga yang mikros, baik yang kongkret maupun yang abstrak, baik berupa materi maupun energi, mulai dari yang riil hingga yang maya, dari yang empiris hingga yang mistis, tak ada yang lepas dari pandangan dan pengetahuan Allah. Mulai alam nasut (manusia), alam jin hingga alam malakut (malaikat), dan bahkan menyangkut eksistensi ruang dan waktu, maka hanya Allah-lah yang Maha Mengetahui secara general dan seksama akan semua itu. Artinya hal-hal gaib adalah murni wilayah prerogatif pengetahuan Allah SWT Yang Maha Luas.

Sebagaimana maklum, bahwa yang dikatakan hal-hal gaib adalah segala sesuatu yang tidak terjangkau oleh pengetahuan manusia dan tidak pula bisa dilakukan pembuktian secara empiris. Hal-hal gaib menyangkut segala sesuatu yang pernah terjadi di masa-masa lampau yang tidak bisa ditelusuri oleh arkeologi dan sejarah atau sesuatu yang akan terjadi di masa-masa mendatang yang tidak bisa diprediksi atau jadi obyek canggihnya ilmu pengetahuan (sains). Hal-hal gaib adalah bagian dari kebenaran (truth) yang hanya bisa disikapi dengan keimanan (trust). Hal-hal gaib misalnya mengenai hari kiamat, surga dan neraka, realisasi pahala dan siksa di alam barzakh dan akhirat, penciptaan alam semesta, segala keberadaan, keadaan, kejadian dan eksistensi alam semesta yang tidak terjangkau oleh nalar manusia, bahkan kejadian di masa sekarang yang tidak kita saksikan langsung dan tidak pula bisa dianalisa.

Tak siapapun—baik ia manusia, malaikat, jin, maupun makhluk lain—memiliki pengetahuan apapun tentang hal-hal gaib tanpa seizin Allah. Pengetahuan akan hal-hal gaib diberikan oleh Allah hanya kepada hamba-hamba pilihannya, yaitu para rasul yang dikehendaki-Nya. Dan itupun dalam momen-momen dan dalam kesempatan-kesempatan tertentu sebagai penguat dari pengakuan seorang rasul akan kebenaran ajaran yang dibawanya. Menurut al-Qurthubi, kemampuan mengetahui hal-hal gaib merupakan bagian dari mukjizat para rasul. Namun suatu ketika seorang rasul juga mengaku bahwa dia tidak tahu-menahu akan hal-hal gaib tanpa ada petunjuk (pemberitahuan wahyu) kepadanya.

Allah berfirman sebagai jawaban untuk Nabi SAW dalam menghadapi orang-orang yang menanyakan seputar hal-hal gaib (hari kiamat);

 öqs9ur àMZä. ãNn=ôãr& |=ø‹tóø9$# ßN÷ŽsYò6tGó™]w z`ÏB Ύöy‚ø9$# $tBur zÓÍ_¡¡tB âäþq¡9$#

Dan sekiranya aku mengetahui yang ghaib, tentulah aku membuat kebajikan sebanyak-banyaknya dan aku tidak akan ditimpa kemudharatan” (QS al-A’raaf [7]: 188). Jadi pada dasarnya, hal-hal gaib bukan “konsumsi” umat manusia secara umum. Jika orang-orang khawash seperti para nabi dan rasul tidak serta-merta tahu akan hal-hal gaib kecuali diberitahu melalui wahyu atau ilham, maka apalagi bagi orang awam. Hal-hal gaib itu di satu sisi justru sebagai ujian bagi keimanan seseorang. Apakah dia mengedepankan hati sehingga menyikapinya dengan iman, ataukah dia mendahulukan rasionalitas sekuler sehingga menolaknya hanya karena hal-hal gaib itu sulit dinalar dengan logika (falsafah) dan tidak empiris. Mempercayai hal-hal gaib merupakan salah satu rukun iman. Allah, para malaikat dan hari kiamat juga gaib sifatnya.

Tentang Mukasyafah

Jika hal-hal gaib bukan wilayah pengetahuan manusia, maka bagaimana dengan istilah “mukasyafah” atau “tembus pandang” atau mengetahui sesuatu yang gaib yang tidak lazim diketahui oleh kebanyakan orang yang konon dialami oleh seorang wali atau orang-orang khawash yang ditengarai “dekat” dengan Allah? Benar-benar terjadikah mukasyafah itu bagi selain rasul?

Bila kita merujuk pada dua ayat di atas maka mukasyafah (mengetahui hal-hal gaib) tidak bisa dialami kecuali oleh rasul-rasul yang dikehendaki oleh Allah. Atau orang-orang yang diberi ilmu khusus yang langsung dari Allah (ladunni) sebagaimana Nabi Khidlir a.s. ketika dalam perjalanan menemani Nabi Musa a.s. Pada perjalanan menuntut ilmu tersebut, bahkan Nabi Musa tidak tahu-menahu akan hal-hal gaib yang justeru diketahui oleh Nabi Khidlir a.s. Sebab Allah telah membekali Khidlir dengan ilmu ladunni yang tidak dimiliki oleh Nabi Musa. (baca surah al-Kahfi [18]: 60-82). Juga seperti mukjizat yang dimiliki oleh Nabi Isa a.s. sebagaimana dijelaskan dalam QS Ali Imran [3]: 49, “Dan aku (Isa al-Masih) kabarkan kepadamu apa yang kamu makan dan apa yang kamu simpan di rumahmu“. Nabi Isa a.s. bisa memberitakan dengan pasti dan benar, apa yang sudah dimakan oleh seseorang maupun apa yang disimpan seseorang di rumahnya.  

Jika demikian halnya, lantas bisakah bagi selain rasul untuk mengetahui hal-hal gaib sebagai bentuk kekeramatan bagi seorang wali misalnya? Al-Zamahsyari berpendapat bahwa ayat di atas jelas-jelas menafikan terjadinya karamah berupa bisa melihat hal-hal gaib bagi selain rasul meskipun ia adalah seorang wali yang diridhai Allah. Ayat tersebut juga menafikan dan membatalkan keberadaan ilmu nujum (ramalan-ramalan perbintangan). Sedangkan al-Wahidi berpendapat menafikan keberadaan ilmu nujum namun dia menerima keberadaan karamah pada para wali Allah.

Ibnu al-Khatib memperkuat pendapat al-Wahidi bahwa seorang wali bisa diberi ilham oleh Allah untuk mengetahui hal-hal gaib (kejadian-kejadian) di masa mendatang. Menurutnya, ayat di atas tidaklah menjadi dalil penafian mukasyafah akan hal-hal gaib selain mengenai hari kiamat. Hal gaib dalam QS al-Jinn: [72]: 26 di atas maksudnya adalah hari kiamat, sebab dalam ayat tersebut kata “ghaib” menggunakan bentuk mufrad (tunggal) dan ayat sebelumnya menyinggung masalah hari kiamat. Sebab—menurut Ibnu al-Khatib—pada kenyataannya ada orang-orang yang diberi kemampuan oleh Allah SWT untuk mengetahui hal-hal yang gaib (mukasyafah), meskipun ia bukanlah seorang rasul.

Faktor bisa mukasyafah

Dalam sebuah hadis qudsi (firman Allah kepada Nabi di luar al-Qur’an) riwayat al-Bukhari dari Abu Hurairah r.a., diceritakan bahwa Nabi SAW bersabda, bahwa Allah SWT berfirman, “Tiada henti-hentinya seorang hamba mendekatkan diri kepada-Ku dengan amal-amal nawafil (sunnah) sehingga Aku mencintainya. Dan bila Aku mencintainya maka Aku menjadi pendengarannya ketika dia mendengar, menjadi penglihatannya ketika dia melihat dan menjadi lisannya ketika dia bicara, bila dia berdoa kepada-Ku maka pasti Aku kabulkan dan bila dia meminta kepada-Ku maka Aku pasti memberinya“. Atau dalam riwayat lain “…dan menjadi tangannya ketika dia memegang dan menjadi kakinya ketika dia berjalan

Hadits qudsi di atas mengindikasikan, bahwa seseorang yang telah dicintai (menjadi wali) Allah bisa saja diberi kekeramatan oleh Allah untuk mengetahui hal-hal gaib atau kejadian-kejadian di masa mendatang. Artinya, dengan kebersihan dan kejernihan jiwanya karena kedekatannya kepada Allah, seorang wali memiliki firasat tajam yang disertai ilham. Atau dengan bahasa lain bahwa dari kejernihan hati seorang wali Allah, maka apa yang diucapkannya bisa menjadi kenyataan di masa mendatang meskipun pada dasarnya ia tidak tahu-menahu tentang hal-hal gaib di masa mendatang yang kasat mata itu. Bila apa yang diucapkan seorang wali mengenai hal-hal yang belum terjadi adalah murni merupakan tuntunan ilham dari Allah SWT, maka tak perlu diherankan bila suatu saat sesuai kenyataan.

Yang ironis, justeru banyak kalangan yang dengan dangkal mengartikan hadis di atas dengan pengertian yang bertentangan dengan dalil-dalil gamblang dalam al-Qur’an. Tidak benar bahwa hadis di atas dianggap mengindikasikan ajaran hulul dan ittihad. Artinya Allah bersemayam dalam makhluk-Nya atau manunggal dalam makhluk-Nya atau menampakkan diri dalam wujud makhluk-Nya. Paham ini ditentang oleh para ahlut-tauhid dan sama sekali tidak berdasar. Mayoritas ulama menganggap paham hulul dan ittihad adalah sesat, jauh dari tuntunan ajaran Islam. Pengertian yang benar dari hadis di atas adalah bahwa seorang wali diberi ilham ilahiyah sehingga dia bisa mengetahui hal-hal yang tidak diketahui oleh kebanyakan orang (mukasyafah). Dengan kata kiasan, dia melihat dengan penglihatan Tuhan (penglihatan istimewa yang tidak lazim terjadi).

Menurut sebagian ahli tafsir bahwa makna dari ayat 179 QS Ali Imran di atas adalah bahwa secara sunnatullah, Allah tidak menampakkan hal-hal gaib kepada orang-orang awam (mayoritas umat) sehingga bisa mengklaim bahwa si A adalah mukmin dan si B adalah munafik. Bahkan tak ada jalan untuk itu kecuali dengan diberikan ujian-ujian oleh Allah sehingga dengan ujian itu akan ketahuan mana yang benar-benar mukmin dan mana yang munafik (pura-pura jadi mukmin). Atau menurut sebagian ahli tafsir, arti ayat di atas adalah bahwa Allah tidak menjadikan kalian semua mengetahui akan hal-hal gaib dengan cara yang dialami oleh Rasul sehingga kalian tidak membutuhkan Rasul (untuk mengetahui hal-hal gaib itu). Tetapi Allah mengkhususkan orang-orang yang dikehendaki-Nya untuk diberi mandat risalah (kerasulan) kemudian Allah memberi tugas kepada kamu semua untuk mengikuti para Rasul Allah itu.   Ust.Anshory Huzaimi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

RSS
Telegram
WhatsApp