AYAT-AYAT KETELADANAN ASHABUL-KAHFI

أَمْ حَسِبْتَ أَنَّ أَصْحَابَ الْكَهْفِ وَالرَّقِيمِ كَانُوا مِنْ آَيَاتِنَا عَجَبًا

“Apakah kamu mengira bahwa orang-orang yang mendiami gua dan (yang mempunyai) raqim itu, mereka termasuk tanda-tanda kekuasaan Kami yang mengherankan?” (QS al-Kahfi [18]: 9)

نَحْنُ نَقُصُّ عَلَيْكَ نَبَأَهُمْ بِالْحَقِّ إِنَّهُمْ فِتْيَةٌ آَمَنُوا بِرَبِّهِمْ وَزِدْنَاهُمْ هُدًى

“Kami ceritakan kisah mereka kepadamu (Muhammad) dengan sebenarnya. Sesungguhnya mereka itu adalah pemuda-pemuda yang beriman kepada Tuhan mereka dan Kami tambahkan kepada mereka petunjuk” (QS al-Kahfi [18]: 13)

TENTANG ٍٍSURAH AL-KAHFI

Dua ayat di atas merupakan bagian-bagian awal dari surah al-Kahfi. Nama surah ini juga diambil dari kisah Ashabul-Kahfi (penghuni-penghuni gua) yang akan menjadi topik bahasan kita kali ini. Kisah mereka dijelaskan oleh Al-Qur’an dalam surah al-Kahfi [18] mulai ayat 9 sampai 26. Surah ini diturunkan ketika Nabi SAW masih berada di Mekah (sebelum hijrah ke Madinah). Surah ini termasuk salah satu surah yang turun karena ada suatu sebab, yaitu ketika Nabi ditanyai mengenai kisah mereka oleh orang-orang Kristiani dari Najran (lembah di perbatasan antara Saudi Arabia dan Yaman).

Surah ini membuktikan kemukjizatan Al-Qur’an sebagai firman Allah, sebab Nabi SAW yang umi (tidak bisa baca dan tulis) itu ternyata mampu menyuguhkan sebuah kisah yang begitu rinci dengan gaya bahasa luar biasa indah tentang sesuatu yang sebelumnya sama sekali tidak diketahui oleh Nabi. Mustahil Nabi bisa menghadirkan kisah-kisah seperti dalam surah al-Kahfi ini kalau sekiranya tidak datang dari wahyu yang bersumber dari kekuatan Malakut (Malaikat Jibril a.s.) yang diperintahkan oleh Allah untuk menyampaikan kepada Nabi sebagai jawaban atas orang-orang yang menanyakan hal-hal yang gaib (mesteri) tersebut.

Kisah tentang Ashabul-Kahfi sudah menjadi semacam perbincangan umum di tengah komunitas Ahlul-Kitab (orang-orang Yahudi dan Nasrani). Bahkan di antara orang-orang Quraisy juga ada yang mendengar selentingan tentang kisah Ashabul-Kahfi yang unik dan di luar kebiasaan hukum alam itu. Di samping mengenai Ashabul-Kahfi, Orang-orang Nasrani Najran yang datang kepada Nabi juga menanyakan perihal roh serta seputar kisah Iskandar “Dzul-Qarnain” sang penakluk (Alexander the Great).

Nabi-pun berjanji (memastikan) akan menceritakan hal-hal yang mereka tanyakan itu pada esok hari. Namun yang terjadi justeru wahyu terlambat datang kepada Nabi. Keterlambatan ini dalam rangka Allah memberi “pelajaran” kepada Nabi agar tidak mengatakan sesuatu yang belum terjadi dengan kata “pasti”, melainkan harus mengucapkan kata “insya Allah” (bila Allah menghendaki). Ini sebagaimana disinggung dalam surah yang sama ayat 23 dan 24,

Ÿwur £`s9qà)s? >äô“($t±Ï9 ’ÎoTÎ) ×@Ïã$sù šÏ9ºsŒ #´‰xî ÇËÌÈ HwÎ) br& uä!$t±o„ ª!$# 4 

 “Dan jangan sekali-sekali kamu mengatakan terhadap sesuatu; “sesungguhnya aku akan mengerjakan itu besok pagi, kecuali (dengan menyebut): “Insya Allah“.

Melalui surah ini, Allah SWT menjelaskan bahwa Ashabul-Kahfi adalah beberapa pemuda yang beriman kepada Tuhan mereka Yang Maha Esa (Allah). Mereka menghindarkan diri dari kelaliman dan kesewenang-wenangan Dikyanus (Decius), Kaisar Romawi yang berkuasa pada pertengahan abad 3 Masehi. Para pemuda itu dengan keteguhan hati dan lantang menyampaikan pernyataan agama tauhid mereka di depan Decius, “Tuhan kami adalah Tuhan langit dan bumi, kami sekali-sekali tidak menyeru tuhan selain Dia“.

Dan tentu pernyataan tegas itu membuat Decius sangat berang, karena mereka dianggap tidak mengikuti keyakinan yang sesuai dengan keyakinan Romawi saat itu (penuhanan berhala-berhala sebagai dewa-dewa mereka). Atas saran salah satu dari mereka sendiri, bahwa demi keselamatan mereka maka sebaiknya mereka mengungsi ke dalam gua. Dan merekapun mengikuti nasehat itu. Mereka mengasingkan diri dalam suatu gua yang terpencil dan jauh dari khalayak ramai. Hal itu mereka lakukan demi melindungi agama mereka, yakni meyakini keesaan Tuhan (Allah) Pencipta dan Pengatur alam semesta. Decius yang terkenal congkak itu sangat memusuhi orang-orang beragama yang dianggap berseberangan keyakinan dengannya termasuk pemuda-pemuda Ashabul-Kahfi itu.

TIDUR SELAMA 309 TAHUN

Menurut Ibnu Abbas dan mayoritas ahli tafsir, pemuda-pemuda beriman itu meninggalkan kota Decsus (sekarang Tarsus, salah satu kota di Turki yang dilintasi oleh sungai Tarsus) pada malam hari. Merekapun terus mengembara. Di tengah perjalanan mereka bertemu dengan seorang penggembala bernama Kinchitinus. Dia lantas beriman mengikuti agama para pemuda itu. Dia dan anjingnya ikut pergi bersama para pemuda itu ke manapun mereka pergi. Akhirnya mereka menemukan sebuah gua yang cukup lebar—dengan mulut gua menghadap 7 bintang yang terangkai (utara)—yang mereka anggap aman untuk tempat berlindung dari kejaran orang-orang Decius. Gua ini masih dalam wilayah kekaisaran Romawi.

Dan ketika memasuki gua, mereka berdoa, “Wahai Tuhan kami, berikanlah rahmat kepada kami dari sisi-Mu dan sempurnakanlah bagi kami petunjuk yang lurus dalam urusan kami (ini)”. Mereka memasuki gua pada pagi hari. Dan merekapun tidur untuk beristirahat. Sementara anjing yang menyertai mereka menjulurkan kedua tangannya ke arah mulut gua. Andai saja ada orang yang melongok ke mulut gua itu pasti ia akan melarikan diri karena ketakutan oleh suasana menyeramkan itu.

Dan pada saat mereka mulai tidur beristirahat itulah, Allah membuat peristiwa luar biasa atas diri mereka. Allah “mematikan” pendengaran mereka—sehingga mereka tertidur pulas tak terganggu oleh apapun—selama masa 309 tahun Qamariyah (bila dihitung secara Masehi maka sama dengan 300 tahun). Allah membolak-balikkan posisi tidur mereka kadang miring ke kanan kadang ke kiri. Menurut Ibnu Abbas bahwa hal itu agar tubuh mereka tidak “termakan” oleh tanah dalam waktu yang sangat lama itu. Dari sinilah para pemuda beriman itu kemudian disebut “Ashabul Kahfi” (para penghuni gua).

Dalam pada itu, pasukan Decius terus memburu keberadaan mereka. Akhirnya mereka tiba di gua itu. Dia memerintahkan pasukannya untuk menutup pintu gua sekaligus sebagai kuburan bagi mereka, sambil meneriaki mereka yang ia yakini berada di dalam gua. Dia berpikir pemuda-pemuda itu pasti akan mati kelaparan dan kehausan di dalam sana. Decius mengira bahwa para pemuda itu terjaga, padahal mereka sudah tertidur pulas tak terganggu atau terbangun oleh suara apapun. Begitulah Allah menyelamatkan hamba-hamba yang diridhai-Nya.

Dan setelah waktu yang lama itu, Allah kemudian membangunkan mereka sehingga satu sama lain saling bertanya, sudah berapa lamakah mereka tertidur (menghuni) gua itu?. Sebagian dari mereka berkata, “Kita tertidur di sini kira-kira satu atau setengah hari“. Dan sebagian yang lain mengatakan, “Tuhanmu lebih tahu berapa lama kamu tinggal di sini. Salah satu kamu harus pergi ke kota dengan membawa mata uang ini untuk membeli makanan yang terbaik (halal), dan sebaiknya bersikap sangat bati-hati dan jangan sampai menceritakan perihal (kita) ini kepada siapapun“.

Dan ketika salah satu dari mereka pergi ke kota untuk membeli makanan dengan mata uang mereka, maka dia sadar dan tahu bahwa mata uang yang dia bawa tersebut adalah mata uang yang masa berlakunya pada 300-an tahun silam. Sebab sisi mata uang yang mereka bawa bergambar Kaisar Romawi pada masanya. Akhirnya keberadaan mereka yang “aneh” itu mulai diketahui oleh sebagian masyarakat.

Selang beberapa waktu kemudian ada dua orang mukmin mencatat perihal (kisah) Ashabul-Kahfi itu, silsilah dan nama-nama mereka pada sebatang lempeng timah dan memasukkan timah itu ke dalam kotak dari tembaga, lalu memasukkan kotak tersebut dalam monumen yang mereka bangun di atas pintu gua, agar suatu ketika ada orang-orang mukmin yang mengetahui perihal para pemuda (Ashabul-Kahfi) itu sebelum hari kiamat tiba. Dan karena hal itulah, maka selain disebut Ashabul-Kahfi, pemuda-pemuda beriman itu juga disebut “orang-orang yang memiliki catatan bernomer (raqim)” sebagaimana disebutkan dalam ayat 9 di atas.

Dan pada saat wilayah itu diperintah oleh seorang raja bijak bernama Tendocis yang banyak didukung oleh komunitas mukmin kala itu, dia memerintahkan agar di atas gua itu dibangun sebuah tempat ibadah. Sementara orang-orang musyrik saat itu berpendapat agar di tempat itu dibangun sebuah gedung. Namun mereka mengusulkan hal itu dengan tujuan agar tempat itu tertutup dan menjadi rahasia selamanya. Sehingga kebenaran kisah mereka tak terdengar oleh saipapun. Sebab bila kisah Ashabul-Kahfi sampai terdengar khalayak, mereka khawatir opini mereka yang ingkar kiamat itu akan kalah pengaruh dengan orang-orang mukmin. Namun sang raja akhirnya membangun tempat ibadah di atas gua tersebut dan membuat perayaan di tempat itu pada setiap tahun.

Dan dari sinilah Allah memberikan pelajaran penting kepada orang-orang yang bertemu langsung dengan Ashabul-Kahfi atau mendengar kisah mereka yang luar biasa itu, bahwa sesungguhnya janji Allah akan membangkitkan orang-orang yang telah mati dengan roh dan jasadnya sekaligus adalah nyata dan benar adanya. Bahwa hari kiamat tidak perlu diperselisihkan atau diperdebatkan lagi, sebab kiamat pasti akan datang kelak sebagai akhir dari kehidupan dunia ini. Kisah Ashabul-Kahfi ini merupakan salah satu bukti kongkret akan kebangkitan manusia setelah kematiannya.

SIAPA SAJA MEREKA ITU?

Orang-orang Ahli Kitab berbeda pendapat soal berapa jumlah mereka sebenarnya. Orang-orang Kristiani aliran Yaqobiyah mengatakan, Ashabul-Kahfi itu berjumlah tiga orang plus anjing mereka. Dan orang-orang Kristiani Nestoriyah mengatakan, mereka itu berjumlah lima plus anjing mereka. Dan orang-orang mukmin mengatakan, jumlah mereka tujuh orang plus anjing mereka. Dalam menyikapi perbedaan pendapat tersebut, Nabi hanya diperintahkan untuk mengatakan, “Tuhanku lebih tahu tentang jumlah mereka“.. Nabi juga dilarang menanyakan perihal mereka kepada Ahlul-Kitab, sebab Allah-lah Yang Maha Tahu perihal mereka. Dan melalui wahyu, Allah memberitahukan kepada Nabi perihal mereka secara rinci. Sedikit sekali orang yang tahu jumlah mereka sebenarnya. Ibnu Abbas mengatakan, “Aku termasuk salah satu dari yang sedikit itu“.

Masih menurut Ibnu Abbas r.a. bahwa mereka berjumlah tujuh orang plus anjing mereka. Nama-nama mereka adalah; Talmikha (sang pemimpin rombongan), Maksamlena, Marthanus, Benionus, Sarinonus, Dinwanus dan Kinchitinus (sang penggembala). Sedangkan anjingnya bernama Qitmir. Anjing itu berwarna hitam dengan tutul-tutul putih. Ia lebih besar dari anjing Qilti yang mini dan lebih kecil dari anjing Kurdi.

Kisah Ashabul-Kahfi ini merupakan semacam mukjizat atau karomah yang diberikan oleh Allah kepada orang-orang yang dicintai dan dipilih-Nya. Sekaligus membuktikan bahwa Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu yang dikehendaki-Nya. Tak ada hal yang mustahil bila Allah menghendaki. Posisi (bayangan cahaya) matahari ketika mereka baru tiba di gua di pagi hari miring ke arah kanan, Namun ketika mereka bangun di sore hari, ternyata matahari miring ke sebelah kiri. Itu membutikan bahwa mereka bangun tidur dalam waktu yang sama sekali berbeda dan bahkan sangat lama jaraknya dibanding ketika mereka hendak tidur. Meskipun di antara mereka merasa tertidur “hanya” satu hari, ternyata mereka telah melewati masa lebih dari tiga abad lamanya dengan kondisi fisik yang normal. Pemuda-pemuda itu terbangun dengan kondisi bugar dan tetap muda sebagaimana ketika hendak tidur pada 300 tahun silam.

EPILOG

Apa yang dialami oleh Ashabul-Kahfi juga mirip dengan apa yang dialami oleh Uzair (salah satu Nabi Allah yang bukan termasuk Rasul), hanya saja masa tidur Uzair “cuma” 100 tahun lamanya. Kuda yang tunggangannya tinggal tulang-belulang, namun minuman yang dibawanya masih segar dan nyaman (tidak sirna atau basi). Begitulah Allah menyelamatkan hamba-hamba pilihan-Nya sekaligus sebagai pelajaran bagi umat manusia agar hal itu direnungkan. Sebagaimana Allah telah menyelamatkan Musa a.s. dari kepungan pasukan Fir’aun Ramses II dengan cara membelah Laut Merah untuk diseberangi. Atau menyelamatkan Isa al-Masih a.s. dari kejaran orang-orang Yahudi yang hendak menghabisinya dengan cara diangkat ke langit. Atau menyelamatkan Ibrahim a.s. dari kobaran api yang membakarnya yang dilakukan oleh raja lalim Namrudz.

Dalam sebuah hadits disebutkan, “Barangsiapa hafal sepuluh ayat pertama dari surah al-Kahfi, maka dia terpelihara dari (pengaruh) Dajjal” (HR Muslim, Ahmad, Abu Daud, al-Nasa’i dari Abu al-Darda’. Dalam riwayat lain dikatakan, “Barangsiapa hafal sepuluh ayat pertama dari surah al-Kahfi, maka ayat-ayat itu akan menjadi penerang baginya (kelak) di hari kiamat” (HR Abu Ubaidah dan Ibnu Murdawaih). Di samping memperbanyak bershalawat kepada Nabi Muhammad SAW, surah al-Kahfi juga sunnah dibaca pada setiap malam Jumat. Wallahu A’lamu bish-shawab. Ust.Anshory Huzaimi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

RSS
Telegram
WhatsApp