HABIB ABUBAKAR BIN ABDULLAH ALATHAS

GURU BESAR HABIB ALI AL HABSYI

T’lah kujemput gelas

Dari Abu Bakar Al Attas

Guruku, Pemimpin dunia

Dengan Gelas itu

Berpendaran rahasia-rahasia padaku

Penggalan syair di atas adalah pujian Habib Ali bin Muhammad Al Habsyi kepada guru besarnya, Habib Abubakar bin Abdullah Al Attas, seorang waliyullah yang memiliki hal yang agung, samudera ilmu yang luas, serta karamah yang luar biasa.

Habib Abubakar lahir pada 16 Jumadal Ula 1216 H. Ayah beliau adalah Al Arif billah Habib Abdullah bin Thalib bin Husain bin Umar bin Abdurrahman Al Attas. Ibunya, Salma binti Syekh Muhamad bin Mubarak Ba Sahl.

Semenjak kecil, Habib Abubakar belajar di bawah bimbingan para ulama’ dan pembesar para auliya’. Beliau mempelajari kitab suci Al Qur’an pada Syekh Umar bin Aqil bin Hiyed.

Guru beliau yang lain adalah Syekh Abdullah bin Ahmad Basaudan, Syekh Said bin Muhammad Ba Asyin (pengarang kitab fiqh Busyrol Karim) dan Syekh Umar bin Abubakar Ba Junaid.

Beliau juga belajar pada Habib Muhammad bin Abdullah bin Quthban, Seiwun (w 1250 H), Habib Muhammad bin Husain Al Habsyi dan Habib Abdullah bin Husain Bilfaqih (w 1266 H).

Thoriqoh dan ilbas (pemakaian serban oleh guru mursyid kepada muridnya) diambilnya dari sang ayah dan bersambung sampai sohiburratib Habib Umar bin Abdurrahman Al Attas.

Lalu beliau pergi ke Yaman, untuk menimba ilmu pada Habib Abdurrahman bin Sulaiman Al Ahdal (w 1250 H) yang tinggal di Zabid.

Tak hanya di Hadramaut, beliau juga berangkat ke Makkah dan belajar pada Syekh Muhammad bin Hadi Al Misri selama 3 tahun. Di Madinah, beliau belajar pada Syekh Mansur Al Badiri.

Setelah sekian lama di Madinah, timbul keinginan beliau untuk menetap di Kota Rasulullah SAW tersebut. Akan tetapi atas saran Habib Shaleh bin Abdullah Al Attas, beliau pulang ke Huraidoh. Menurut Habib Shaleh, akan banyak yang mengambil manfaat dari beliau di sana. “Aku lihat di punggungmu banyak anak, sebaiknya mereka tinggal di Huraidoh saja,” saran Habib Soleh.

Habib Abubakar juga berguru pada Habib Hasan bin Soleh Al Bahr (w 1273 H). Suatu hari beliau pergi mengunjungi Habib Hasan. Setelah tinggal bersamanya selama 24 hari, Habib Abubakar minta izin untuk berziarah ke Tarim, namun Habib Hasan tidak memperkenankannya. “Aku cukupkan engkau tanpa harus datang ke Tarim, pulanglah ke Huraidhoh,” saran Habib Hasan. Maka beliau pun pulang. Beberapa hari kemudian tersiarlah kabar bahwa Habib Hasan bin Soleh Al Bahr telah wafat. Sadarlah Habib Abubakar bahwa itulah kunjungannya yang terakhir pada gurunya tersebut.

Guru beliau yang lain masih banyak. Bahkan, Habib Abubakar berkata, “Aku punya beberapa guru dari ahli barzakh, di antaranya Syekh Ali Baras, Habib Umar bin Abdurrahman Al Attas (kakek beliau), Syekh Muhammad bin Utsman Al-Amudi (Qaidun) dan Syekh Naji bin Amta’.”

Selain itu, beliau juga punya guru dari Rijalil Ghaib, di antaranya Al Khidhir AS. 

Keluasan ilmunya serta ketinggian maqomnya melahirkan murid-murid yang menjadi para auliya’ dan ulama’ besar, diantaranya, Salim dan Abdullah, putranya sendiri, Habib Hasan bin Ali bin Ja’far Al Attas, Habib Ali bin Salim bin Syekh Abubakar, Habib Ahmad bin Hasan Al Attas (pengarang kitab Tadzkirun Nas), Habib Abdul Qadir bin Ahmad bin Tohir, Habib Abdul Qadir bin Umar bin Toha Assegaf, Sayyid Husein bin Muhammad bin Husain Al Attas (ayah pengarang kitab Tajul A’ros), Habib Ahmad bin Muhammad bin Hamzah Al Attas, dan Sayyid Abdullah bin Salim Aidid.

Di antara murid-murid beliau yang termasyhur adalah Habib Ali bin Muhammad Al Habsyi. Antara Habib Abubakar dan Habib Ali Habsyi ini terdapat kedekatan tersendiri.

PERTEMUAN PERTAMA

Habib Ali Habsyi bertemu dengan Habib Abubakar pertama kali di Syihr, kemudian di Haromain pada tahun 1276 H. Habib Ali Habsyi pernah menceritakan pertemuan pertamanya di Syihr “Ketika aku masuk ke tempat beliau dan melihat wajahnya yang bercahaya, hampir saja hatiku terbang. Aku berkata dalam hati ‘Oh, ini  malaikat atau manusia'”

Habib Ali sangat terkesan dengan pertemuan itu hingga malam harinya tidak bisa tidur.

Selama 13 hari bersama Habib Abubakar, Habib Ali membaca kitab Rasyafat.. Selanjutnya, Habib Abubakar pergi ke Mukalla, Habib Ali terus mengikutinya. Beliau senantiasa menghabiskan waktunya untuk mengambil berkah dan manfaat dari Habib Abubakar.

Pada tahun 1278 H Habib Abubakar berkunjung ke Seiwun. Pada malam kedatangannya, Habib Ali belum mengetahui kedatangan sang guru, namun saat tidur, beliau berkali-kali mendengar suara, “Bagaimana mungkin engkau tidur padahal gurumu masuk daerahmu”

Pagi harinya Habib Ali bertanya-tanya tentang Habib Abubakar. Terdengar kabar bahwa Habib Abubakar berada di Masjid Toha. Habib Ali bergegas menuju ke Masjid yang saat itu sudah banyak orang berkumpul menyambut kedatangan Habib Abubakar. Saat melihat gurunya, Habib Ali merasa seakan-akan tak melihat seorang pun di Masjid kecuali Habib Abubakar. Ini karena cintanya yang sangat besar. Lalu Habib Ali mendekat dan mencium tangan Habib Abubakar “Selamat datang Habsyi kita.” sambut Habib Abubakar.

Hari itu Habib Ali sangat berharap agar Habib Abubakar bisa singgah ke rumahnya, kebetulan salah satu keluarga Habib Ali wafat, “Andai Habib Abubakar mau menyolati, tentu dia jadi orang beruntung,” kata beliau dalam hati. Tiba-tiba Habib Abubakar berkata, “Aku akan menyolati Syarifah.” Apa yang terbersit dalam hati Habib Ali Habsyi ternyata Habib Abubakar meng-kasyf-nya.

 

PUJIAN HABIB ALI

Syair Habib Ali penuh dengan pujian pada sang guru, seperti qosidah Fi Huroidhoh qod hadhorna dan sebagainya, dalam berbagai qasidahnya Habib Ali menyebut karomah, keistimewaaan, manaqib, dan pertemuan Habib Ali dengan beliau.

Seorang pecintanya pernah bertanya, “Kenapa qasidahmu penuh dengan pujian pada Habib Abubakar?” Habib Ali menjawab, “Karena Habib Abubakar adalah ayah ruh bagiku”

Habib Ali bercerita, “Alangkah indahnya majlis Habib Abubakar, jika beliau menggerakkan bibirnya, menyampaikan ilmunya, rasanya aku tak ingin beliau diam, aku tak lagi ingin makan dan minum, aku ingin majlis Habib Abubakar berlangsung terus sepanjang tahun”

Beliau  menilai itulah saat-saat terpenting dalam hidupnya. “Hari-hari yang kulalui bersama Habib Abubakar lebih indah dari hari raya di pagi yang cerah,” kenang Habib Ali.

Habib Abubakar sendiri menyatakan bahwa hubungan ini telah terjadi sebelum Habib Ali lahir. Beliau berkata kepadanya, “Aku menjagamu sejak engkau masih di lambung ayahmu.”

TIGA KAROMAH

Ada tiga karomah Habib Abubakar yang jarang dimiliki para wali lain.

Pertama, beliau termasuk ahli khothwah, saat beliau berjalan seakan bumi terlipat. Beliau berkata, “Setiap Jumat aku mengunjungi Makkah, Madinah dan bertawaf. Sungguh! Allah menjadikan bumi seperti telur di tanganku.”

Kedua, banyak orang yang menyaksikannya di beberapa tempat dalam waktu yang bersamaan.

Ketiga, dengan izin Allah beliau bisa membedakan mana orang beruntung dan mana orang kelak akan celaka dengan  melihat tulisan di dahinya.

Habib Abubakar berkata pada Habib Ali, “Anakku, tidak satu pun waliyullah di belahan barat maupun timur kecuali aku mengetahuinya. Sebagian wali, dia sendiri tidak mengetahui kewaliannya, dan hanya aku yang memberitahukan kepadanya.”

Suatu ketika beliau bermaksud melakukan ziarah ke makam Nabi Hud AS. Tak lama kemudian beliau kembali. Saat ditanya, beliau menjawab bahwa telah bertemu Nabi Hud as di jalan. Peristiwa semacam ini bukanlah sesuatu yang mustahil terjadi pada para kekasih Allah, sekalipun sulit diterima akal sehat. Sungguh! Allah Maha Kuasa atas segala yang dikehendaki-Nya.

Pernah beliau berkata pada seseorang, “Gantungkan tasbihku ini.” Orang itu menurutinya. Dia kemudian duduk sambil memijati beliau. Subhanallah!  Tiba-tiba tasbih itu bergerak sendiri dan berdzikir menyebut nama Allah SWT.

Pada saat yang lain, seseorang memberinya empat butir telur. Ketika hendak dikupas beliau berkata, “Kupas yang satu ini saja, yang lain jangan.” Orang itu bertanya dengan perasaan heran, “Kenapa Ya Habib?”

“Yang ini halal, yang lain haram”

Setelah diselidiki, ternyata telur-telur itu memang didapat dengan cara yang tidak halal.

Habib Abubakar mengisi waktu-waktunya dengan banyak berdzikir. Setiap hari membaca “Lailaha illalloh” 12 ribu kali, “Allah Allah” 12 ribu kali “Huwa  Huwa” 12 ribu kali.

“Allah memberi barokah waktuku. Di antara Maghrib dan Isya’ aku bisa membaca surat yasin sebanyak enam puluh kali,” katanya suatu ketika.

Habib Abubakar pernah berdoa agar dimudahkan untuk memiliki shadaqah jariyah berupa masjid dan sumur. Sepulang dari Haramain, beliau melaksanakan penggalian sumur di Huraidoh dengan disaksikan para haba’ib. Dalam hal ini putra beliau bercerita, “Ayah pernah berkata padaku, ‘Airnya akan keluar saat aku masih hidup.’ Saat itu pembuatan sumur terus berlanjut. Sampai akhirnya air keluar, aku teringat perkataan ayahku, dan memang saat itu ayahku sedikit sakit, maka aku merasa bahwa tidak lama lagi ayahku akan meninggal. Tiga hari kemudian ayah pun wafat”.

Dalam masalah ilmu beliau seakan tiada duanya. Habib Ahmad bin Hasan Al Attas mengatakan bahwa tak seorang pun di dunia ini yang menyamai beliau dalam ilmu syari’at dan haqiqat.

Meski demikian, terkadang Habib Abubakar membiarkan dirinya salah dalam nahwu dan memberi kesempatan orang lain untuk mengoreksinya, padahal beliau lautan segala ilmu. Suatu saat Habib Abubakar mengajak Habib Ali berdiskusi tentang ilmu nahwu. Luar biasa! Ternyata pengetahuan beliau tentang nahwu mengungguli para ahli nahwu.

Keluasan ilmunya terbukti dari kepiawaiannya dalam menafsirkan ayat Al-Qur’an. Pernah suatu ketika dia membahas penafsiran surat ath-thalaq ayat 12.

اللَّهُ الَّذِي خَلَقَ سَبْعَ سَمَوَاتٍ وَمِنَ الْأَرْضِ مِثْلَهُنَّ يَتَنَزَّلُ الْأَمْرُ بَيْنَهُنَّ لِتَعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ وَأَنَّ اللَّهَ قَدْ أَحَاطَ بِكُلِّ شَيْءٍ عِلْمًا

“Allah-lah yang menciptakan tujuh langit dan seperti itu pula bumi. Perintah Allah berlaku padanya, agar kamu mengetahui bahwasanya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu, dan Sesungguhnya Allah, ilmu-Nya benar-benar meliputi segala sesuatu.”

Beliau  mulai membahasnya ba’da Maghrib. Menjelang tengah malam, pembahasan masih sampai di kalimat  “Yatanazzalu Al Amru”  Beliau berkata, “Kalau aku mau, tentu para penulis tak sanggup untuk mencatat penjelasanku. Semua keistimewaan yang dimiliki keluargaku, ada padaku. Dan aku melebihi mereka dalam memahami kitab suci Al Qur’an.”

WASIAT

Ketika Habib Ali minta wasiat, beliau berkata, “Anakku, rahasia adalah amanat, tidak ditaruh di kertas-kertas , tapi dari hati ke hati. Aku wasiatkan padamu tiga hal. Yang keempat bukan sekarang waktunya. Pertama, pasanglah niat yang baik dalam setiap perbuatanmu. Kedua, jagalah hatimu agar selalu bersama Allah. Ketiga, lakukan solat witir 11 rakaat dengan kaifiyyah seperti yang aku dapat dari Habib Hasan bin Soleh Al Bahr. ( Baca bonus edisi ini )

Setiap saatnya, Habib Abubakar selalu merasakan kehadiran kakeknya, Rasulullah SAW. Kecintaannya pada beliau SAW memenuhi sanubarinya. Hal ini tercermin dari ucapannya: “Kalau sekejap mata saja Nabi luput dari ingatanku, maka tak kuanggap lagi diriku sebagai seorang muslim.”

Menjelang akhir umurnya, beliau jatuh sakit. Beliau berkata pada salah seorang putranya, Habib Salim; “Wahai Salim!, mungkin sakitku ini adalah sakit yang merupakan  penutup usiaku.” Tak lama kemudian beliau menghadap Allah, Rabbul Alamin.

Guru para auliya’ ini wafat di Huraidhah pada tanggal 17 Dzulqa’dah 1281 H sdalam usia 65 tahun. Semoga Allah merahmati beliau ra. Amin. Masun Said Alwy

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

RSS
Telegram
WhatsApp