KISAH NABI NUH DAN BANJIR TOPAN *)

Nuh adalah salah satu nabi Allah yang memiliki gelar Ulul-Azmi (yang memiliki keteguhan hati dalam berdakwah). Tidak semua Nabi Allah bergelar Ulul-Azmi. Pendapat kebanyakan ulama bahwa Ulul-Azmi hanya ada lima orang Nabi. Mereka adalah; 1) Nabi Muhammad. SAW, 2) Nabi Ibrahim a.s., 3) Nabi Musa a.s., 4) Nabi Isa a.s. dan 5) Nabi Nuh a.s.

Sebagian ulama berpendapat bahwa Nabi Nuh a.s. merupakan Rasul Allah yang pertama. Sebelum Nuh a.s. maka hanya ada nabi-nabi Allah yang tidak merangkap jadi Rasul. Dan Nuh-lah nabi pertama yang secara terang-terangan mengajak khalayak (kaumnya) untuk mengikuti agama Allah, yakni agama tauhid yang jauh dari perilaku syirik kepada Tuhan Yang Maha Esa. Terkait dengan kerasulan Nuh, Allah SWT berfirman:

 “Sesungguhnya Kami telah memberikan wahyu kepadamu (Muhammad) sebagaimana Kami telah memberikan wahyu kepada Nuh dan nabi-nabi yang kemudiannya“. QS An-Nisaa’ [4]:163

Allah mengutus Nuh pada kaumnya yang merupakan komunitas penyembah berhala dan arca. Mereka menyekutukan Allah dengan sesembahan yang mereka pahat dengan tangan mereka sendiri. Jika dintanya mengenai sesembahan-sesembahan itu maka mereka menjawab, “Kami menemukan bapak moyang kami juga menyembahnya”. Ratusan atau bahkan sudah ribuan tahun sebelumnya kaum Nuh berada dalam kesesatan yang nyata. Hingga Allah mengutus seorang Rasul yang telah dipilih-Nya. Rasul tersebut tak lain adalah saudara mereka sendiri yaitu Nuh. Nuh datang di tengah kaumnya untuk mengentas mereka dari kesesatan menuju cahaya hidayah ilahiyah, yakni agama yang benar. Agama monoteisme (tauhid) dengan ajaran moral yang tinggi.

Namun di manapun dan mungkin sampai kapanpun kebenaran selalu mendapatkan tantangan dan tentangan. Tidak terkecuali kebenaran yang dibawa oleh Nuh kepada kaumnya. Para Nabi Allah rata-rata juga mengalami hal yang sama. Nabi Nuh-pun tak henti-hentinya ditentang, ditertawakan, diolok-olok oleh kaumnya, namun dia tetap bersikukuh pada prinsip kebenaran yang diwahyukan oleh Allah kepadanya.

Siang dan malam, pagi dan sore, setiap hari tiada henti-hentinya Nuh mengajak kaumnya meninggalkan sesembahan batil yang membudaya itu. Nuh terus menyerukan kaumnya, baik secara diam-diam maupun terang-terangan. Secara person to person maupun massif Nuh tiada henti-hentinya dan tiada bosan-bosannya mengajak masyarakatnya untuk mengesakan dan menyembah Allah Tuhan semesta alam. Mengajak kaumnya untuk memohon ampun kepada Allah dengan meninggalkan berhala-berhala mereka yang antara lain bernama; wadd, suwa’, yaghuts, ya’uq, nasr dan lain-lain.

Namun ajakan penuh kesabaran tersebut tak pernah mendapat respon baik dari masyarakatnya yang relatif primitif itu. Berbagai dialog yang dilakukan oleh Nuh terhadap para pemuka kaum itu tidak membuahkan hasil sama sekali. Dan justeru mereka semakin menjadi-jadi dalam menertawakan Nuh dan menganggap Nuh sebagai orang gila yang mengada-ada. Sikap congkak dan arogan terus mereka lakukan terhadap Nabi Nuh. Namun Nuh tetap bersabar mengajak mereka ke jalan Allah hingga kurun waktu hampir 10 abad lamanya.

Kaum itu berkata kepada Nuh, “Hai Nuh, sesungguhnya kamu telah berbantah dengan kami dan kamu telah memperpanjang bantahanmu terhadap kami, maka datangkanlah kepada kami azab yang kamu ancamkan kepada kami, jika kamu termasuk orang-orang yang benar”. Demikianlah sanggahan kaumnya ketika Nuh mengancam mereka dengan datangnya siksa Allah jika mereka tidak mau beriman dan mengikuti ajaran Nuh a.s.

Nuh menjawab, “Hanyalah Allah yang akan mendatangkan azab itu kepadamu jika Dia menghendaki, dan kamu sekali-sekali tidak dapat melepaskan diri”.

Allah mengutus Nuh a.s. tidak kurang dari masa 950 tahun, namun dakwah penuh keteguhan hati tersebut bisa dikatakan tak membuahkan hasil “memuaskan”. Hanya ada 80 orang saja yang mau beriman mengikuti ajaran agama tauhidnya Nuh. Itupun orang-orang yang memang sudah beriman kepada ajaran Nuh sejak awal. Jumlah tersebut untuk masa ratusan tahun tidak pernah bertambah lagi. Hingga pada suatu saat Nabi Nuh mengadukan perihal kaumnya tersebut untuk yang ke sekian kali kepada Allah. Akhirnya Allah SWT menjawab pengaduan Nuh tersebut bahwa tidak akan ada yang beriman dari kaumnya melainkan orang-orang yang memang sudah beriman sebelumnya.

Allah juga memerintahkan Nuh agar membuat bahtera (kapal kayu) yang besar dengan pengawasan dan petunjuk langsung dari Allah SWT. Allah juga berfirman agar Nuh jangan lagi mengadukan perihal kaumnya kepada Allah, sebab Allah akan menenggelamkan mereka semua kecuali orang-orang yang beriman.

Nabi Nuh kemudian membuat bahtera yang relatif besar sesuai petunjuk wahyu dari Allah. Nuh tidak membikin bahtera tersebut di tepi pantai, melainkan di atas bukit. Melihat hal “aneh” dan tidak lazim tersebut, kaumnya semakin menjadi-jadi mengolok-olok Nuh dengan menganggap Nuh sebagai orang yang tidak waras. Nuh-pun menjawab olok-olok mereka dengan mengatakan, “Jika kamu mengejek kami maka sesungguhnya kami(pun) mengejekmu sebagaimana kamu sekalian mengejek kami. Kelak kamu akan mengetahui siapa yang akan ditimpa oleh azab yang menghinakannya dan yang akan ditimpa oleh azab yang kekal”.

Dan janji Allah yang akan menenggelamkan kaum Nuh itupun datang. Maka Allah memerintahkan Nuh agar mengangkut di atas bahtera para pengikutnya (orang-orang yang beriman) yang jumlahnya hanya puluhan orang itu. Juga mengangkut sepasang-sepasang (jantan dan betina) dari masing-masing jenis/spesies binatang yang ada. Nuh berkata kepada mereka semua, “Naiklah kamu sekalian ke dalamnya dengan menyebut nama Allah di waktu berlayar dan berlabuhnya”. Dan mereka semua naik ke atas bahtera itu.

Maka hujan deraspun turun selama 40 hari 40 malam. Air bah datang melanda. Air bah tidak hanya datang dari langit, tapi juga meluap dari sumber-sumber di bawah tanah. Maka terjadilah banjir yang maha dahsyat dalam sejarah bumi. Banjir Topan tiada tanding. Banjir yang menenggelamkan sebuah kawasan yang sangat luas. Banjir yang menenggelamkan puncak bukit yang ada di kawasan tersebut. Banjir yang memiliki gelombang-gelombang dahsyat menyerupai bukit-bukit dan gunung-gunung. Semuanya yang ada di permukaan kawasan itu tenggelam sesuai janji Allah sebelumnya. Tidak terkecuali putera Nuh sendiri yang bernama Qan’aan.

Adapun putera-putera Nuh yang lain ada 3 orang yaitu; Sam, Ham dan Jafits. Ketiganya beriman dan mengikuti ajaran Nuh a.s. Hanya Qan’aan yang membelot bersama orang-orang yang menentang Nuh a.s. Namun dalam kapasitas kemanusiaannya, sebagai seorang ayah rasa kebapakan Nuh terhadap Qan’aan masih sangat kental dengan kasih sayang. Sebelum Qan’aan tenggelam Nuh sempat menyeru kepada anaknya tersebut yang berada di tempat terpencil, “Hai anakku, naiklah kamu bersama kami dan janganlah kamu berada bersama orang-orang yang kafir!”

Namun puteranya tetap pada pendiriannya yang salah itu dengan menjawab, “Aku akan mencari perlindungan ke gunung yang dapat memeliharaku dari air bah”. Nuh berkata, “Tidak ada yang melindungi di hari ini dari azab Allah selain Allah (saja) Yang Maha Penyayang”. Akhirnya gelombangpun menghalangi mereka berdua, maka jadilah anak itu di antara orang-orang yang ditenggelamkan.

Dan ketika azab berupa air bah itu telah menenggelamkan orang-orang yang ingkar pada ajaran Nuh beserta harta benda, lahan dan pemukiman mereka, maka turunlah firman, “Hai bumi, telanlah airmu dan hai langit (hujan) berhentilah”, maka airpun berangsur surut sesuai perintah Allah, dan bahtera Nuh-pun berlabuh di sebuah bukit benama Judie. Binasalah orang-orang yang dzalim itu. Dan selamatlah para pengikut ajaran Nabi Nuh a.s.

Sementara Nabi Nuh sendiri yang kehilangan putranya mengadu kepada Allah perihal puteranya, “Ya Tuhanku, sesungguhnya anakku termasuk keluargaku, dan sesungguhnya janji-Mu itulah yang benar. Dan Engkau adalah hakim yang seadil-adilnya”.

Allah berfirman, “Hai Nuh, sesungguhnya dia bukanlah termasuk keluargamu (yang dijanjikan akan diselamatkan), sesungguhnya (perbuatannya) adalah perbuatan yang tidak baik. Sebab itu janganlah kamu memohon kepada-ku sesuatu yang kamu tidak mengetahui (hakikat)nya. Sesungguhnya Aku memperingatkan kepadamu supaya kamu jangan termasuk orang-orang yang tidak berpengetahuan”.

Nuh berkata, “Ya Tuhanku, sesungguhnya aku berlindung kepada Engkau dari memohon kepada Engkau sesuatu yang aku tidak mengetahui (hakikat)nya. Dan sekiranya Engkau tidak memberi ampun kepadaku dan (tidak) menaruh belas kasih kepadaku niscaya aku akan termasuk orang-orang yang merugi”.

Dan akhirnya difirmankan kepada Nuh, “Hai Nuh, turunlah dengan selamat sejahtera dan penuh keberkatan dari Kami atasmu dan atas umat-umat (yang mukmin) dari orang-orang yang bersamamu. Dan ada pula umat-umat yang Kami beri kesenangan pada mereka (dalam kehidupan dunia), kemudian mereka akan ditimpa azab yang pedih dari Kami”.

Kisah mengenai banjir Topan di zaman Nabi Nuh a.s. ini merupakan salah satu hal gaib, karena terjadi pada zaman pra sejarah ribuan atau bahkan puluhan ribu tahun silam. Namun kisah mengenai banjir Topan sudah tersebar luas dari generasi ke generasi. Kitab suci Taurat maupun Injil juga menceritakan perihal banjir dahsyat yang langka tersebut. Itulah salah satu bentuk azab Allah yang terjadi di dunia atas orang-orang yang mengingkari ajaran-Nya. Cerita tersebut kembali diangkat oleh Allah dalam al-Qur’an agar bisa dibuat peringatan dan bahan renungan bagi yang membaca atau mendengarnya, sehingga bisa mengambil intisari dari hikmahnya.

*) Cerita ini disadur dari QS Hud [11] dan Nuh [71].

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

RSS
Telegram
WhatsApp