KRITERIA PEREMPUAN SALEHA

Sebagai kelengkapan kehidupan manusia di dunia, Allah menciptakan kaum perempuan untuk mendampingi kaum laki-laki. Disamping sebagai “hiburan” kaum laki-laki, perempuan juga dibebani tugas khusus dalam tata kehidupan dunia seperti halnya kaum laki-laki. Masing-masing kaum laki-laki dan perempuan memiliki kewajiban dan hak sendiri-sendiri yang diberikan oleh Allah secara adil, berimbang dan proporsoional. Kehidupan manusia diciptakan secara berpasang-pasang oleh Allah agar eksistensi manusia sebagai hamba sekaligus khalifah Allah di muka bumi terus lestari hingga kiamat tiba. Dengan pernikahan, Allah memberikan solusi bijak dan rasional untuk mempertemukan kaum Adam dan kaum Hawa sebagai pasangan yang akan menjalani kelangsungan hidup di dunia.

Kemudian, seperti apakah kira-kira gambaran dan tipologi wanita yang patut dijadikan pasangan (isteri) oleh seorang laki-laki sehingga keduanya akan mampu menjalankan tugasnya sebagaimana tersebut di atas?

Nabi menerangkan bahwa perempuan dinikahi oleh seseorang karena empat faktor; pertama kecantikannya (lahir maupun batin), kedua kekayaannya, ketiga nasab/silsilahnya, dan keempat agamanya. Nabi menganjurkan agar faktor keempat (agama) yang dijadikan pertimbangan utama bagi seorang laki-laki jika hendak menikahi seorang perempuan. Meskipun sah-sah saja faktor yang lain jadi pertimbangan juga, asal tidak menyalahi koridor agama (aturan syariat). Di kesempatan lain Nabi juga menganjurkan agar seseorang menikahi perempuan yang bisa menimbulkan rasa cintanya. Dan cinta bisa timbul oleh salah satu empat faktor di atas.

Dalam al-Qur’an banyak sekali penggambaran tentang tipologi perempuan. Mulai dari yang berperilaku karimah hingga sayyi’ah. Mulai dari yang mendukung perjuangan agama hingga perusak agama. Salah satu ayat al-Qur’an memberikan gambaran tentang perempuan saleha dan tentu sangat baik jika dijadikan pendamping hidup karena akan menjadikan seseorang mencapai kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat. Dalam QS al-Ahzab ayat 35 ada 10 (sepuluh) sifat dan kriteria kaum perempuan yang bila semuanya ada pada perempuan maka ia merupakan sosok ideal menurut agama, baik sebagai pribadi, sebagai hamba Allah maupun sebagai seorang isteri.

Pertama, ia haruslah seorang muslimah (beragama Islam). Artinya ia memeluk Islam dengan sungguh-sungguh dan mengerjakan semua rukun Islam yang lima pada umumnya, utamanya ibadah shalat 5 waktu maupun shalat-shalat lain yang sunnah. Shalat merupakan tiang dan tolok ukur agama seseorang. Mendirikan shalat berarti mendirikan agama, meninggalkan shalat berarti merobohkan agama. Shalat juga menjadi sebab terkabulnya amal-amal yang lain.

Kedua, ia haruslah mu’minah (beriman). Iman kepada Allah, para malaikat, kitab-kitab Allah, para rasul-Nya, adanya hari kiamat serta terhadap takdir baik maupun buruk. Iman merupakan sesuatu yang abstrak yang hanya bisa dilihat dari indikatornya. Indikator iman adalah tingkat ketakwaan. Takwa adalah mengerjakan segala yang diperintahkan oleh agama dan menjauhi segala yang dilarang oleh agama.

Ketiga, ia haruslah wanita qanitah (taat), baik taat beragama maupun taat kepada orang tua dan kepada suami bila sudah berkeluarga. Ketaatan wajib bagi seseorang selagi tidak dalam rangka maksiat kepada Allah dan rasul-Nya. Kata qanitah juga bisa berarti wara’ (menjaga diri) dari hal-hal yang tidak bermanfaat, makruh apalagi haram. Ketaatan merupakan modal utama seorang isteri mendapat ridha dari suami.

Keempat, ia harus shadiqah (jujur atau benar). Jujur dalam berbicara maupun berbuat. Kejujuran adalah modal hidup bersosial dan berumah tangga. Bahkan sifat shidiq (jujur dan benar) merupakan sifat wajib para Rasul. Tidak jujur dalam ucapan berarti dusta dan tidak jujur dalam tindakan berarti khianat. Kata shadiqah juga bisa berarti wanita baik-baik, memegang nilai-nilai kebenaran meskipun berisiko.

Kelima, ia merupakan wanita shabirah (sabar atau tabah). Tabah dalam arti menekuni kewajiban ibadah maupun tugas rumah tangga dan sosial yang tidak ringan. Juga sabar menghindarkan diri dari perbuatan maksiat serta sabar bila mendapati musibah. Kata sabar juga bisa diartikan ulet dan telaten. Kesabaran merupakan kecerdasan emosi yang penting. Tanpa kesabaran mustahil seorang ibu mampu membesarkan dan mendidik anak-anaknya.

Keenam, ia adalah khasyi’ah (khusyu’). Khusyu’ merupakan sikap terpuji. Khusyu’ dalam beribadah berarti konsentrasi ketika beribadah dan ibadahnya hanya semata-mata karena Allah. Khusyu’ menurut sebagian ulama merupakan salah satu syarat diterimanya amal ibadah di sisi Allah SWT. Ibadah yang khusyu’ akan membuahkan perilaku yang terpuji. Shalat yang dikerjakan dengan khusyu’ dan ikhlas dapat mencegah dari perbuatan keji dan mungkar.

Ketujuh, ia adalah mutashaddiqah (ahli bersedekah). Bersedekah merupakan ibadah mulia yang bernuansa sosial-horizontal. Perintah berzakat atau bersedekah dalam al-Qur’an sering digandengkan dengan perintah shalat. Sedekah dapat menolak musibah. Semakin orang rajin bersedekah semakin pula ia dicintai oleh orang lain. Bagi seorang isteri jika hendak bersedekah maka harus sepengetahuan suaminya.

Kedelapan, ia merupakan shai’mah (suka beribadah puasa). Ibadah puasa yang wajib hanya di bulan Ramadhan. Puasa sunnah bagi seorang isteri yang suaminya sedang di rumah, maka harus mendapat izin dari si suami. Puasa akan melatih kesabaran dan mengekang hawa nafsu. Puasa akan membuahkan sikap takwa yang lebih baik. Puasa tidak hanya dalam hal makan dan minum, tapi juga puasa dari hal-hal yang tidak bermanfaat, apalagi perbuatan yang dilarang oleh agama.

Kesembilan, ia haruslah seorang hafidhat farjaha (menjaga kemaluannya). Terutama ketika suami sedang tidak di rumah. Sebab godaan seorang isteri sangatlah berat ketika ia ditinggal oleh suaminya dalam waktu yang relatif lama. Adalah dosa yang sangat besar jika seseorang berselingkuh. Di samping berdosa kepada Allah selingkuh merupakan tindakan khianat yang sangat keji yang bisa berdampak serius pada kehidupan berumah-tangga. Termasuk menjaga kemaluan adalah menjaga aurat dari lelaki yang bukan mahramnya. Juga menjaga diri dari setiap godaan laki-laki atau dari sikap-sikap yang bisa menimbulkan hasrat laki-laki untuk menggodanya

Kesepuluh, ia adalah dzakiratullah (suka berdzikir kepada Allah). Memperbanyak dzikir kepada Allah SWT merupakan cara jitu dicintai oleh Allah (menjadi wali Allah). Allah pasti mengingat orang yang mengingat-Nya. Dzikir bisa dengan cara mengingat Allah dalam hati maupun dengan menyebut nama-Nya dengan lisan. Dzikir bisa dengan membaca nama Allah atau asma’ul-husna yang ada. Juga bisa dengan membaca Bismillah, Alhamdulillah, Ya Allah, Subhanallah, La ilaha illallah, Allahu Akbar dan sebagainya.

Bila kesepuluh sifat atau kriteria di atas tersebut terdapat pada seorang wanita, maka ia adalah wanita shaleha yang sejati dan ideal sebagaimana para kekasih Allah atau para isteri Nabi SAW. Begitu pula jika sepuluh hal tersebut juga terdapat pada kaum laki-laki maka berarti ia adalah seorang saleh sejati yang berhak mendapatkan ampunan dan pahala agung sebagaimana dijanjikan Allah dalam akhir ayat 35 surah al-Ahzab. Wallahu A’lamu bish-shawab. Ust. Anshory Huzaimi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

RSS
Telegram
WhatsApp