NASIHAT UNTUK PEMIMPIN

Kalam Salaf AL HABIB ABDULLAH BIN ALWI ALHADDAD

Al-Habib Abdullah bin Alwi Al-Haddad dilahirkan di kota Tarim, Hadramaut, pada malam Kamis tanggal 5 Shofar 1044 H. Sejak kecil penglihatannya tidak tampak akan tetapi Allah SWT menggantinya dengan kekuatan cahaya pandangan batin yang bersemayam di lubuk hati. Pada masa tersebut beliau duduk dan mengambil ilmu kepada para Ulama’ di zamannya. Guru besar sekaligus guru pembuka segala rahasia ilmu beliau adalah Al-Habib Umar bin Abdurrahman Al-Atthos. Sehingga tersebar luaslah nama beliau yang harum ke seluruh pelosok dan banyak orang yang mengambil manfaat serta ilmu kepadanya.

            Beliau berpesan kepada para pimpinan atau penguasa daerah bahwa mereka adalah sebagai teladan bagi seluruh rakyat yang ia pimpin. Termasuk perkara yang paling penting bagi seorang pemimpin. Ia wajib mengetahui apa agama Islam itu? Bagaimana pandangan, maksud dan tujuan dalam Islam itu? Ia harus belajar tentang ilmu-ilmu keislaman dan keimanan. Harus tahu apa-apa saja yang diwajibkan dan apa saja yang diharamkan. Mengetahui kewajiban antara hubungan dia dengan Allah SWT dan mengetahui kewajiban rakyat yang ia pimpin. Pemimpin yang belajar agama dengan benar pasti akan mengerti dan menggunakan petunjuk dari Allah SWT. Namun bagi yang tidak belajar dan tidak tahu maka akan terjerumus kepada keburukan dan kesesatan, dan tercela dari segi apapun. Orang yang tidak mengerti, termasuk tingkatan paling terburuk di dalam lapisan masyarakat, karena ia pasti akan mencelakakan dirinya dan orang lain.

            Dan seyogyanya seorang pemimpin itu adalah seorang yang luas pandangan akalnya. Seorang yang sholeh dan seorang yang benar-benar dalam memberikan nasehat kepada yang ia pimpin.

Rasulullah SAW menyatakan dalam haditsnya :

إِذَا أَرَادَ الله بِالأَمِيرِ خَيراً جَعَلَ لَهُ وَزِيْرًا صَالِحًا، إِنْ نَسِيَ ذَكَرَهُ وَ إِنْ ذَكَرَ أَعَانَهُ. وَ إِذَا أَرَادَ بِهِ سُوءًا جَعَلَ لَهُ وَزِيرًا غَيْرَ صَالِحٍ، إِنْ نَسِيَ لمَ يُذَكِّرْه وَ إِنْ ذَكَرَ لمَ يُعِنْهُ.

Apabila Allah SWT menginginkan kepada seorang pemimpin suatu kebaikan maka pasti Allah SWT akan menganugrahkan kepadanya seorang wakil yang sholeh, apabila dia lupa maka wakilnya akan mengingatkannya dan apabila dia ingat pasti wakilnya akan membantunya. Dan apabila Allah SWT menginginkan suatu keburukan pada seorang pemimpin maka Allah SWT akan memberikan kepadanya seorang wakil yang bejat moralnya, apabila dia lupa pasti wakilnya tidak akan mengingatkannya, dan apabila dia ingat pasti wakilnya tidak akan membantunya.

Dikisahkan pada zaman khalifah Umar bin Abdul Aziz, pada suatu ketika terdengar isak tangis yang keras di rumah beliau, maka masyarakatpun berduyun-duyun datang ke rumah khalifah. Mereka mengatakan: “Wahai khalifah, apa yang terjadi di rumahmu? Maka beliaupun menjawab: “Aku akan menceraikan semua istriku dan akan ku pilih satu saja. Karena aku lebih disibukkan oleh istri-istriku ini terhadap urusan yang jauh lebih penting sebagai pemimpin yang harus bertanggung-jawab untuk memimpin masyarakat Islam yang banyak. Pada kesempatan yang lain khalifah Umar bin Abdul Aziz akan mandi dengan air hangat yang mana kompor untuk mendidihkan air tersebut adalah milik dapur umum. Namun setelah sang khalifah mengetahui hal demikian, beliau urungkan niatnya untuk mandi dengan air hangat dan memilih mandi dengan air dingin. Padahal pada saat itu adalah musim dingin yang luar biasa. Hal ini menunjukkan sifat kehati-hatian dan takut untuk mengunakan uang rakyatnya terhadap kehidupan dunia yang fana ini.

Semoga yang sedikit ini dapat menambah wawasan dan dapat mengingatkan kita yang lupa sebagai seorang pimpinan, karena setiap individu muslim adalah merupakan pimpinan bagi dirinya sendiri.

Maka “Tiada yang bermanfaat dan memberikan manfaat di dunia ini hingga di akhirat kelak kecuali duduknya kita dengan Arifin billah, orang-orang yang dekat kepada Allah SWT” itulah sebuah pernyataan dan kalam mutiara yang telah disampaikan oleh Al-Habib Al-Quthb Ali bin Muhammad Al-Habsyi. Yang mana telah dikatakan oleh Al-Habib Abdullah bin Alwi Al-Haddad “Membaca dan membuka kitab karangan orang-orang yang sholeh itu sama dengan kita duduk dengan mereka”. Maka mudah-mudahan insya Allah kita semua dikumpulkan kelak di hari esok bersama mereka dan Rasulullah SAW memandang kita dengan pandangan penuh kasih sayang dalam keadaan ridho dan diridhoi oleh Allah SWT. Ust. Alwi Ali Alhabsyi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

RSS
Telegram
WhatsApp