NASEHAT DAN KALAM MUALLIF MAULID SIMTUD DUROR

AL-HABIB ALI BIN MUHAMMAD AL-HABSYI

Kalam dan wasiat Habib Ali bin Muhammad Al-Habsyi bagaikan samudra yang luas. Walaupun setetes air samudra itu pernah kita dengar ataupun kita baca, rasanya nasehat itu sangat mengena dan tepat sasaran. Sehingga kalam dan nasehat beliau, sering dibaca dan diterangkan dalam pertemuan-pertemuan (majlis khair) yang diadakan di beberapa kota baik di Indonesia maupun di luar negeri. CN pun tidak ingin ketinggalan, kali ini juga menyajikan beberapa kalam beliau yang lain. Berikut cuplikan kalam beliau yang kami kutip dari Manaqibul Habib Ali bin Muhammad Al-Habsyi, Putra Riyadi,1421H, Novel Muhammad Alaydrus.

Beliau mengatakan bahwa dahulu nasehat sangat bermanfaat dan menggoreskan kesan di hati. Sesungguhnya mendengarkan nasehat itu bukan hanya sekedar khusyu’, namun kesan nasehat adalah jika nasehat itu dapat menyebabkan kalian meninggalkan maksiat, menyesali dosa, membangkitkan semangat untuk berbuat taat.

Dalam hal yang berhubungan dengan nafs, beliau mengatakan, nafs itu ada tujuh. Tidak ada seorang pun berbicara tentang ke tujuh nafs itu dengan tepat seperti pengarang kitab As-Sair Was Suluk, suatu kitab yang agung dan lengkap. Ketika Habib Hasan bin Sholeh Al-Bahr membaca kitab itu, beliau berkata tidak ada seorangpun yang dapat menunjukkan sifat nafs dan bersifat secara tepat seperti Sayid Abubakar bin Abdullah Alatas. Beliau mensifati bahwa Nafs yang pertama adalah Al-Ammarah. Nafsul Ammarah ini adalah nafs yang selalu mengajak kepada keburukan. Kedua, Nafsul Lawwamah yaitu nafs yang mencela pemiliknya ketika berbuat maksiat. Ketiga, Nafsul Mulhamah adalah nafs yang dapat membedakan antara bisikan malaikat dengan bisikan setan. Sedangkan yang keempat, Nafsul Muthmainnah, kelima, Nafsul Radhiyah, keenam, Nafsul Mardhiyah dan ketujuh, Nafsul Kamilah, semuanya untuk tingkatan orang-orang yang sempurna.

Beliau mengatakan, tidak ada yang merintangi manusia dari Allah seperti nafs dan dunia. Bahkan yang keluar paling akhir dari kepala kaum shiddiqin  adalah nafs mereka. Jika dunia telah menguasai hati manusia, maka hati akan rusak sehingga tidak tahu jalan kebenaran. Sebab, teman dunia adalah setan. Jika dunia telah memasuki hati, temannya pasti akan mengikutinya dari belakang. Dan jika setan telah berada di dalam hati, maka ia akan merusaknya.

Tentang ruh, Habib Ali mengatakan, jika mendengar sifat-sifat yang mulia ruh, kita merindukannya. Namun ruh terikat dalam kurungan. Jasad adalah tempat ruh dan kurungan ruh, tapi juga pembantu ruh. Makanan ruh adalah dzikir. Jika kamu sidq dalam berdzikir kepada Allah, niscaya kamu akan mencukupi diri dengan dzikir itu, kamu tidak akan membutuhkan makanan dan minuman. Kamu akan menjadi seperti malaikat yang tidak makan dan minum, karena makanan malaikat adalah dzikir dan tasbih. Ruh sesungguhnya selalu ingin kembali ke asalnya.

Ruh terbang dengan sayap-sayap cinta

menuju alamnya yang tinggi,

menuju tempat asalnya

Mengembara di taman-taman surga

dan tinggal di lentera-lentera bercahaya

Tanpa bulu sayap-sayap itu terbang

lalu menetap di sisi Tuhan alam semesta

Berkelana di taman Quds di bukit

Minum dari samudera kaum arifin

Wahai ruh, relakah kau tinggal abadi

dalam jasad yang gelap dan kotor ini?

Di mana kau dahulu sebelum menghuni jasad?

Bukankan kau dahulu berada di Hadhrah Al-Qudh,

hendaknya kau ingat itu

Kau tinggal bersama para malaikat yang mulia

Minum dari telaga uns dan memetik buahnya

Sampai akhirnya kau diletakkan

atas perintah Allah dalam kurungan

‘tuk mengujimu, maka jadilah sebaik-baik yang diuji

Semoga Allah menjadikan kita orang-orang yang arif, mendekat kita kepada-Nya, mempertemukan Cahaya (furu’) dengan pokok (ushul) dan tetap meletakkan sir pada tempat dan ahlinya.

Beliau juga mengatakan bahwa  dzikir adalah makanan yang sebenarnya. Kekuatan itu bukan berasal dari makanan dan minuman, namun kekuatan itu timbul karena kosongnya hati dari segala kesibukan duniawi. Jika hati telah kosong dari segala kesibukan, seorang hamba akan menjadi kuat. Bahkan dalam pandangan ahli suluk makanan itu melemahkan. Jika ruh telah kuat, jasad pun akan menjadi kuat. Sesungguhnya makanan tidak akan mengenyangkan, minuman tidak akan menghilangkan dahaga, tapi Allah-lah yang menjadikan seseorang menjadi kenyang dan puas setelah makan dan minum. Dan jika ruhani seseorang telah kuat, dzikir menjadi makanannya.  

Habib Ali juga menasehatkan tentang pentingnya memanfaatkan waktu. Beliau menuturkan, jika ada seseorang berdiri di depan jendela membawa wadah penuh dengan uang, kemudian ia melemparkan uang itu ke jalan hingga habis, tentu orang-orang akan berkata, “Orang ini gila”

Manusia setiap hari melewatkan umurnya sia-sia, padahal setiap tarikan nafasnya tak terhingga nilainya. Namun demikian tidak ada seorangpun yang mengatakan kepadanya, “Kau gila.” Andaikan saja ia mau menyendiri di sore hari, memohon ampun kepada Allah atas kesalahan-kesalahannya, dan bersyukur bila ternyata hari itu ia telah berbuat kebaikan. Namun, sayang ia tidak berbuat demikian. Ia lalai kepada Allah dan berpaling dari-Nya.

Al-qur’an telah memberi peringatan, sunnah telah memberi peringatan, namun hati tetap keras. Peringatan apalagi yang kalian harapkan setelah kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW? Al-Habib SAW telah memberi peringatan, menyeru dan membimbing ke jalan  Allah. Mata kita telah melihat dan telinga telah mendengar. Apalagi yang kalian tunggu? Kematian yang datang dengan tiba-tiba!? Bukalah mata hati kalian dan gunakan telinga kalian untuk mendengar kitabullah. Ketahuilah perjalanan hari telah memberi peringatan. Malam demi malam telah memberi kalian peringatan. Kalian telah mengetahui perjalanan hidup kekasih kalian Muhammad SAW dan apa saja yang beliau alami.

لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَة

Sesungguhnya ada pada diri Rasulullah itu telah suri teladan yang baik kalian” (Al Ahzab :21)

Jika tidak meneladani Nabi SAW, lantas kita mau meneladani siapa? Jika tidak mencontoh beliau lantas kita akan mencontoh siapa?

Aku memperingatkan kalian hanya karena melaksanakan perintah Allah, dalam firman-Nya :

وَذَكِّرْ فَإِنَّ الذِّكْرَى تَنْفَعُ الْمُؤْمِنِينَ

“Dan tetaplah memberi peringatan, karena sesungguhnya peringatan itu bermanfaat bagi orang-orang yang beriman.” (Adz-Dzariyat : 55)

Aku menyakini bahwa kalian semua adalah orang-orang yang beriman, yang menginginkan kebaikan dan menyesal jika tidak mendapatkannya. Aku yakin bahwa nasehat akan membekas di hati kalian dan akan kalian terima dengan baik. Aku juga yakin, bahwa tidak ada seorangpun dari kalian menginginkan keburukan. Tidak seorangpun dari kalian yang meragukan janji Allah bahwa pahala kebaikan akan dilipatgandakan. Abdul Kadir Al-Habsyi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

RSS
Telegram
WhatsApp