Sahabat Ka’ab bin Malik

MEMETIK BUAH KEJUJURAN

Sungguh mengagumkan!. Seorang hamba mendapatkan ampunan dan Allah mengabadikannya dalam kitab suci Al Qur’an berkat kejujurannya.

وَعَلَى الثَّلَاثَةِ الَّذِينَ خُلِّفُوا حَتَّى إِذَا ضَاقَتْ عَلَيْهِمُ الْأَرْضُ بِمَا رَحُبَتْ وَضَاقَتْ عَلَيْهِمْ أَنْفُسُهُمْ وَظَنُّوا أَنْ لَا مَلْجَأَ مِنَ اللَّهِ إِلَّا إِلَيْهِ ثُمَّ تَابَ عَلَيْهِمْ لِيَتُوبُوا إِنَّ اللَّهَ هُوَ التَّوَّابُ الرَّحِيمُ

dan terhadap tiga orang yang ditangguhkan (penerimaan taubat) mereka, hingga apabila bumi telah menjadi sempit bagi mereka, padahal bumi itu luas dan jiwa merekapun telah sempit (pula terasa) oleh mereka, serta mereka telah mengetahui bahwa tidak ada tempat lari dari (siksa) Allah, melainkan kepada-Nya saja. Kemudian Allah menerima taubat mereka agar mereka tetap dalam taubatnya. Sesungguhnya Allah-lah Yang maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang. (QS At Taubah 118)

Manusia mulia yang dimaksud dalam ayat ini, salah satunya adalah Ka’ab bin Malik. Kemuliaan ini didapatnya karena sifat terpuji serta keteguhannya dalam menjunjung tinggi kejujuran dan ketulusan.

Nama lengkapnya ‘Amr bin Al Qain bin Ka’ab bin Sawaad bin Ghanm bin Ka’ab bin Salamah. Pada masa jahiliyah, ia dikenal dengan Abu Basyir. Beliau adalah satu dari tiga sahabat Nabi yang dikenal sebagai penyair terkemuka. Dua sahabat yang lain, Hassan bin Tsabit dan Abdullah bin Rawahah.

Kisah kejujuran pemuka Anshar dari suku Khazraj ini, berawal saat Rasulullah mengambil keputusan untuk menyerang Romawi. Atas perintah Nabi, kaum muslimin segera melakukan persiapan dan berlomba-lomba menginfakkan harta yang mereka miliki.

Di tengah kesibukan kaum muslimin dengan berbagai persiapan, Ka’ab bin Malik belum melakukan apa-apa. Padahal sebelumnya, Ka’ab tidak pernah absen dalam satu peperangan pun.

Tatkala Rasulullah berangkat bersama pasukan, Ka’ab masih juga belum melakukan persiapan. Batinnya berharap bisa menyusul mereka. Namun akhirnya, langkahnya benar-benar terhambat. Dia benar-benar meyesali keterlambatannya. Kesedihannya bertambah, ketika tahu bahwa orang-orang yang tidak bergabung dalam jihad itu hanya orang-orang yang tertuduh munafik atau kaum yang lemah fisiknya.

Saat tiba di medan perang Tabuk, Rasulullah bertanya: “Apa yang terjadi dengan Ka’ab?”

Seorang laki-laki menjawab dengan sindiran,”Baju kesayangannya telah menahannya”. Mendengar itu, Muadz menukas, “Sungguh buruk perkataanmu. Demi Allah, kami tidak mengetahui tentang dirinya kecuali yang baik saja”. Rasulullah terdiam.

Ketika Rasulullah kembali dari peperangan, orang-orang yang tidak ikut perang segera menemui beliau untuk menyampaikan alasan-alasan mereka. Jumlahnya delapan puluh orang lebih. Rasulullah pun menerima alasan-alasan itu dan memohonkan ampun bagi mereka.

Tibalah giliran Ka’ab. Dengan hati berdebar dia maju menghadap Rasulullah saw. Sempat terbesit dalam benaknya untuk mengajukan alasan kepada beliau, agar selamat dari kemarahan. Namun Ka’ab mengurungkan niatnya dan membulatkan tekad untuk berkata jujur kepada Nabi SAW. Ka’ab mengucapkan salam kepada beliau. “Kemarilah!” kata Nabi. Ka’ab pun mendekat dan duduk di hadapan beliau.

“Apa yang menahanmu? Bukankah engkau telah mempertaruhkan punggungmu?”

“Benar, wahai Rasulullah. Demi Allah, seandainya saat ini aku duduk di hadapan orang selain engkau, tentu aku sampaikan segala argumentasi yang dapat menyelamatkanku dari kemarahan, karena aku pandai berdiplomasi. Namun aku tahu betul, seandainya hari ini aku berdusta supaya engkau memaklumiku, niscaya Allah yang akan memberitahukan kepadamu. Aku katakan alasan yang sebenarnya dengan jujur kepadamu. Dan sungguh, aku berharap ampunan Allah dengan kejujuranku. Demi Allah, aku sama sekali tidak memiliki alasan saat berdiam di rumah dan tidak ikut serta perang bersamamu.”

Nabi berujar “Laki-laki ini telah berkata jujur. Berdirilah sampai Allah memutuskan perkaramu,”

Ka’ab pun berdiri dan meninggalkan beliau.

Dalam perjalanan pulang sekelompok laki-laki dari Bani Salimah mengejar Ka’ab seraya berkata,”Demi Allah, kami tidak mengetahui engkau berbuat dosa sebelum ini. Mengapa engkau tidak beralasan seperti yang dilakukan orang-orang itu? Sungguh, permohonan ampun Rasulullah untukmu akan menghapus dosamu.”

Mereka terus membujuk hingga Ka’ab berpikir untuk kembali kepada Rasulullah dan mengajukan alasan kepada beliau. Lantas Ka’ab bertanya, ”Adakah orang yang mengalami hal seperti ini?”

“Ada! Dua orang laki-laki menyampaikan alasan sepertimu. Dan Rasulullah mengatakan kepada mereka, persis seperti yang beliau katakan kepadamu.”

“Siapa mereka?”

”Murarah bin Ar Rabi’ Al ‘Amri dan Hilal bin Umayyah Al Waqifi.”

Ka’ab pun berlalu meninggalkan mereka.

Sejak saat itu, Rasulullah melarang para sahabat berbicara dengan mereka bertiga. Dua sahabat yang lain, tak tahan menghadapi hajr (isolasi) yang dilakukan kaum muslimin terhadap mereka. Mereka mengurung diri dalam rumah dan tak henti-hentinya menangis. Sedangkan Ka’ab, sebagai orang yang termuda dan terkuat di antara mereka, berusaha menguatkan hatinya untuk menemui orang-orang. Dia berharap akan ada seseorang yang menyapanya. Namun tak seorang pun mau berbicara dengannya. Sebuah ujian yang dirasanya amat berat.

Ketika  memasuki masjid, Ka’ab mengucapkan salam kepada Rasulullah sambil melihat gerak bibir Nabi saw. Hatinya berharap, Nabi akan menjawab salamnya.

Ketika shalat dimulai, Ka’ab mengambil posisi terdekat dengan Rasulullah SAW.

Dia mencuri-curi pandang kepada beliau SAW. Ketika Ka’ab sedang konsentrasi dalam ibadahnya, Nabi memandangnya. Dan bila Ka’ab meliriknya, beliau memalingkan wajahnya.

Keadaan itu terus berlanjut hingga Ka’ab merasa beban itu semakin berat. Ka’ab pun menemui Abu Qatadah, sepupunya yang sangat dicintai. Dia memanjat dinding rumah saudaranya itu dan mengucapkan salam padanya. Namun Abu Qatadah tidak menjawab salamnya. Ka’ab berkata memelas, “Wahai, Abu Qatadah! Demi Allah, bukankah engkau mengetahui bahwa Ka’ab mencintai Allah dan RasulNya?”

la hanya terdiam dan tidak menanggapi perkataannya. Ka’ab mengulangi kata-katanya tadi berkali-kali, hingga saudaranya berujar singkat, “Allah dan Rasul-Nya yang lebih mengetahui,” kali ini ia tak tahan, air matanya meleleh.

Suatu ketika, saat Ka’ab berjalan di pasar kota Madinah, seorang penjual makanan dari Syam bertanya kepada orang-orang: “Siapakah yang mau menunjukkan Ka’ab bin Malik kepadaku?”

Orang-orang pun memberitahukannya. Orang itu segera mendatanginya. Kemudian menyerahkan sehelai surat dari Raja Ghassan. Tertulis dalam surat itu:

“Telah sampai berita kepada kami, bahwa temanmu telah menyia-nyiakanmu. Sedangkan Allah tidak menjadikanmu orang yang terhina dan tersia-siakan. Bergabunglah dengan kami, maka kami akan menolongmu”.

Ka’ab berkata dalam hati, “lni pun cobaan untukku,” lalu dilemparnya surat itu ke dalam tungku api.

Setelah berlalu empat puluh hari semenjak Rasulullah dan para sahabat mengisolasi mereka bertiga, tiba-tiba datang utusan Nabi saw dengan membawa perintah agar Ka’ab menjauhi istrinya. Ka’ab bertanya, “Apa yang harus kulakukan?, Apa aku harus menceraikannya?”

Sang utusan menjawab, “Tidak, tapi jauhilah ia dan jangan engkau sentuh.”

Ka’ab menyampaikan hal itu kepada istrinya, “Kembalilah kepada keluargamu. Tinggallah bersama mereka sampai Allah memutuskan perkara ini.” Dengan berat hati, sang istri pun meninggalkan suaminya.

Setelah itu, Ka’ab pergi menyendiri. Hari demi hari terus berlalu. Ka’ab menghabiskan waktunya dengan bermunajat. Hingga tibalah suatu pagi, saat jiwanya terasa sempit dan bumi yang dipijaknya seakan tak dikenali lagi seperti yang Allah kisahkan (QS:…)

Tiba-tiba ia mendengar seseorang berteriak: “Wahai, Ka’ab bin Malik! Berbahagialah!”

Tanpa bertanya berita apa yang dibawa utusan itu, Ka’ab segera bersujud menghaturkan syukur ke hadiratNya.

Utusan itu menyampaikan bahwa Rasulullah telah mengumumkan kepada para sahabat setelah shalat Subuh bahwa Allah telah menerima taubat mereka bertiga.

Sungguh tak terlukiskan kebahagiaannya saat itu. Sebagai ungkapan kegembiraannya Ka’ab memberikan dua pakaian yang dikenakannya kepada laki-laki tersebut. Padahal, ia tidak memiliki baju lagi. Ka’ab meminjam baju lain dan bergegas ke masjid menemui Rasulullah.

Begitu tiba, Thalhah bin Ubaidillah berdiri dan berlari kecil menghampiri Ka’ab, kemudian ia menggamit tangannya seraya mengucapkan selamat untuknya. Sungguh, tidak ada seorang pun yang berdiri dan melakukan seperti yang dilakukan Thalhah, hingga Ka’ab pun tidak pernah melupakan kebaikannya itu.

Orang-orang berbondong-bondong menemui Ka’ab serta dua orang temannya untuk mengekspresikan kegembiraan mereka atas berita ini.

Ka’ab masuk masjid dan mengucapkan salam kepada Rasulullah. Saat itu wajah beliau berseri-seri dan bersinar bak bulan purnama.

Tatkala Ka’ab sudah duduk di depan Nabi, beliau berkata: “Berbahagialah dengan hari terbaik yang engkau jumpai semenjak ibumu melahirkanmu”.

“Apakah pengampunan ini darimu, wahai Rasulullah? ataukah dari Allah?” tanya Ka’ab.

“Tidak! Pengampunan ini datang langsung dari Allah.”

“Wahai Rasulullah! Sungguh, sebagai cerminan nyata taubatku, aku sedekahkan hartaku di jalan Allah”.

“Sisakan sebagian hartamu untuk dirimu, karena itu lebih baik bagimu,” ujar Rasulullah menyarankan.

“Kalau begitu, aku sisakan anak panah yang kugunakan dalam perang Khaibar. Sungguh, Allah telah menyelamatkanku dari perkara pelik ini karena kejujuran. Sebagai wujud taubatku pula, aku tidak akan berbicara kecuali dengan jujur”.

Semenjak itu, Ka’ab tidak pernah berdusta. Dan ia mohon kepada Allah agar menjaga sisa umurnya. Pada masa tuanya, ia kehilangan penglihatannya. Sosok patriot yang memiliki kejujuran setegar batu karang ini wafat pada masa pemerintahan Mu’awiyyah bin Abi Sufyan.

Semoga rahmat dan keridhaan Allah senantiasa tercurah atas diri penyair Rasulullah ini. Masun Said Alwy

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

RSS
Telegram
WhatsApp