TUDUHAN KEJI PAUS DAN KELEMBUTAN NABI

dok 2006

Paus Benedictus XI dari Vatikan, meminta kaum Muslimin untuk masuk dan terlibat dalam dialog peradaban yang tidak mengenal istilah “perang suci” atau jihad yang dikenal dalam kamus Islam. Menurut Paus, pemahaman perang suci atau jihad bertentangan dengan tabiat Tuhan.

Permintaan Paus yang disampaikan dalam sebuah seminar di  Jerman beberapa waktu lalu itu, ditolak oleh kaum Muslimin Jerman. Mereka memandang lebih baik Paus mengikuti inisiatif yang kini juga berkembang di sejumlah masyarakat Barat, untuk mencari akar kekerasan dan terorisme lalu mencabutnya, ketimbang mengarahkan tudingan hanya kepada kaum Muslimin dan ajaran Islam.

Dalam seminar yang digelar di Universitas Regensburg, Bavarian Jerman, sebelumnya, Paus mengatakan, “Ajaran Kristiani selalu terikat dengan logika. Kaum Kristiani berbeda pandangan dengan orang-orang yang yakin dengan pola penyebaran agamanya dengan pedang,” demikian ungkap Paus seperti dilansir kantior berita Reuters.

Paus juga mengutip perkataan seorang penguasa Bizantium di abad keempat belas, saat menuliskan dialog dengan seorang Persia, bahwa, “Nabi Muhammad telah merampas tanpa kemanusiaan. Seperti perintahnya menyebarkan agama yang ia serukan dengan pedang.” Paus juga menambahkan, bahwa jihad atau perang suci tidak selaras dengan tabiat ketuhanan dan tabiat jiwa manusia. Karenanya, ia menilai saat ini sangat penting digelar dialog antara dua dunia besar, Dunia Kristen dan Dunia Islam. Di sisi lain, Paus juga meminta pemerintah Jerman untuk segera memadukan sikap yang lebih baik terhadap kaum Muslimin yang tinggal di Jerman. Tanpa berlaku sektarian terhadap kaum minoritas Muslim.

Menurut Jubir Paus, Federick L, perkataan Paus tentang jihad dan perang suci hanya sekedar dalam konteks menjelaskan tema yang dibicarakan, bukan untuk menuding bahwa Islam identik dengan kekerasan. “Ini hanya contoh. Kami tahu bahwa dalam Islam juga ada berbagai aliran dan sikap berbeda, antara yang keras maupun yang tidak keras. Paus tidak ingin memberi penafsiran bahwa Islam itu keras,” katanya

 Inilah sikap asli non Muslim, yang mewakili streotip kebencian terhadap Islam. Bukan sekali, dua kali, tapi entah keberapa kali, dan untuk kesekian kali Paus mewakili kesalapahaman terhadap Islam dan peranan dakwah nabi Muhammad itu secara fatal. Meskipun, konon, Paus telah meminta ma’af atas “kealpaann”nya dalam menilai jihad Islam itu, melalui wakilnya. Umat Islam harus menyadari, bahwa toleransi yang terbangun selama ini masih semu, jika kebencian Barat yang diwakili Non Muslim itu masih mengendap dalam pikiran mereka.

Non Muslim harus belajar banyak dari Islam, melalui sumber-sumber yang absah dan literatur yang mu’tabar dari Islam sendiri, bukan dari Orientalis atau pakar Kristiani yang membenci Islam. Mereka harus mengenali sosok kelembutan Nabi Muhammad SAW, seperti para islamisis mereka yang jujur mengenali profil manusia besar itu. Melalui sekelumit dari peristiwa bersejarah ini, coba renungkanlah, betapa lembut kepemimpinan Nabi Muhammad yang digambarkan secara kasar oleh musuh-musuh Islam itu.

Muhammad diutus untuk menjadi rahmat bagi seluruh alam. Maka beliau dinugerahi oleh Allah sifat yang penyantun, paling lapang dadanya, paling lembut wataknya, paling baik akhlaqnya dan paling penyayang dalam bergaul. Beliau adalah seorang pemaaf, beliau memaafkan orang yang pernah menganiaya dirinya, mengusirnya dari kampung halaman, mencacinya, memeranginya dan membunuh para sahabatnya. Salah satu peristiwa monumental yang menunjukkan sifat kasih sayang dan pemaaf Rasul SAW adalah Peristiwa Pembebasan Kota Mekah (Fathu Mekah).

Digambarkan oleh sejarawan Muslim Husein Haikal, pada waktu itu Muhammad berhenti di hulu kota Mekah, di hadapan Bukit Hind. Di tempat itu dibangunnya sebuah kubah (kemah lengkung), tidak jauh dari makam Abu Thalib dan Khadijah. Ketika ia ditanya, maukah ia beristirahat di rumahnya, dijawablah: “Tidak. Tidak ada rumah yang mereka tinggalkan buat saya di Mekah,” katanya. Kemudian ia masuk ke dalam kemah lengkung itu, dan beristirahat dengan hati penuh rasa syukur kepada Allah, karena ia telah kembali secara terhormat, dengan membawa kemenangan ke dalam kota, yakni kota yang dulu telah mengganggu, menyiksa dan mengusirnya dari keluarga dan kampung halaman beliau. Ia membebaskan pandangan ke lembah wadi dan gunung-gemunung yang ada di sekelilingnya. Gunung-gunung, tempat beliau dahulu tinggal di celah-celahnya, ketika orang-orang Quraisy sudah begitu keras menentangnya.

 Di pegunungan itulah, yang juga di antaranya terdapat Gua Hira, tempat ia menjalankan tahannuth ketika datang kepadanya wahyu:

  ‘Bacalah! Dengan nama Tuhanmu Yang menciptakan. Menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah. Dan Tuhanmu Maha Pemurah. Yang mengajarkan dengan Pena. Mengajarkan kepada manusia apa yang belum diketahuinya…” (Qur’an, 96: 1-5)

Ke sekitar gunung-gunung itu ia melepaskan pandang, ke lembah-lembah, dengan rumah-rumah Mekah yang bertebaran, dan di tengah-tengah adalah Rumah Suci. Airmata menitik dari matanya, setitik airmata Islam dan rasa syukur demi Kebenaran Yang Mutlak, yang dalam segala soal kepada-Nya jua akan kembali.

Saat itu juga terasa olehnya bahwa tugasnya sebagai komandan sudah selesai. Tidak lama tinggal dalam kemah itu, ia segera keluar lagi. Dinaikinya untanya Al-Qashwa, dan ia pergi meneruskan perjalanan ke Ka’bah. Ia bertawaf di Ka’bah tujuh kali dan menyentuh sudut (hajar aswad) dengan sebatang tongkat di tangan. Selesai ia melakukan tawaf, dipanggilnya Uthman bin Talha dan pintu Ka’bah dibuka. Sekarang Muhammad berdiri di depan pintu, orang pun mulai berbondong-bondong. Ia berkhotbah di hadapan mereka itu serta membacakan firman Tuhan:

 “ Hai manusia, Sesungguhnya kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa – bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Mengenal”.  (Qur’an, 49: 13)

Kemudian ia bertanya kepada mereka:

“Orang-orang Quraisy. Menurut pendapat kamu, apa yang akan kuperbuat terhadap kamu sekarang?”

“Yang baik-baik. Saudara yang pemurah, sepupu yang pemurah.” jawab mereka.

“Pergilah kalian, sekarang kalian telah bebas!” katanya.

Dengan ucapan itu maka kepada Quraisy dan seluruh penduduk Mekah ia telah memberikan pengampunan umum (amnesti).

Alangkah indahnya pengampunan itu dikala ia mampu untuk berbuat apa saja sekehendaknya. Alangkah besarnya jiwa itu, jiwa yang telah melampaui segala kebesaran, melampaui segala rasa dengki dan dendam di hati. Jiwa yang telah dapat menjauhi segala perasaan duniawi, telah mencapai segala yang di atas kemampuan insani. Itu orang-orang Quraisy, yang sudah dikenal betul oleh Muhammad, siapa-siapa mereka yang pernah berkomplot hendak membunuhnya, siapa-siapa yang telah menganiayanya dan menganiaya sahabat-sahabatnya dahulu, siapa-siapa yang memeranginya di Badr dan di Uhud, siapa yang dahulu mengepungnya dalam perang Khandaq? Dan siapa-siapa yang telah menghasut orang-orang Arab semua supaya melawannya, dan siapa pula, kalau berhasil, yang akan membunuhnya, akan mencabiknya sampai berkeping-keping kapan saja kesempatan itu ada!? Mereka itu, orang-orang Quraisy itu sekarang dalam genggaman tangan Muhammad, berada di bawah telapak kakinya. Perintahnya akan segera dilaksanakan terhadap mereka. Nyawa mereka semua kini tergantung hanya di ujung bibirnya dan pada wewenangnya atas ribuan balatentara yang bersenjatakan lengkap, yang akan dapat mengikis habis Mekah dengan seluruh penduduknya dalam sekejap mata.

Tetapi Muhammad, tetapi Nabi, tetapi Rasulullah, bukanlah manusia yang mengenal permusuhan, atau yang akan membangkitkan permusuhan di kalangan umat manusia! Beliau adalah rahmat yang dihadiahkan Allah kepada alam semesta. Muhammad bukanlah seorang tangan besi, tapi ia adalah Nabi yang Pengasih. Kepada seluruh dunia dan semua generasi ia telah memberi teladan tentang kebaikan dan keteguhan menepati janji, tentang kebebasan jiwa yang belum pernah dicapai oleh siapa pun. Sungguh orang yang mau melihat secara obyektif, tentu akan mengakui kebenaran bahwa ia adalah seorang utusan Allah.

Peristiwa Fath Mekkah ini juga sekaligus mementahkan tuduhan tokoh-tokoh non muslim yang tidak mengerti tentang Islam. Yang menuduh bahwa Nabi Muhammad telah merampas tanpa kemanusiaan, menyebarkan agama Islam dengan pedang. Sarjana Barat yang obyektif dan jujur telah menemukan dan membuktikan bahwa Muhammad adalah seorang yang mengajak kepada kebenaran, berlaku amanah, berbuat adil, mengajak pada persamaan hak dan perdamaian, serta menyembah pada Tuhan (Allah) Yang Esa. Mereka telah menulis berbagai buku yang berbicara tentang kebenaran Islam secara obyektif dan ilmiah. Di antaranya adalah Ilmuwan Perancis Maurice Bucaille, Ilmuwan Amerika Michael H. Hart, dan sejarawan Inggris Thomas Arnold. Sudah tidak dipungkiri bahwa orang-orang Barat yang masuk Islam, mereka berasal dari golongan terpelajar dan menengah ke atas, yang memiliki tingkat kecerdasan dan kedewasaan di atas rata-rata manusia. (Dari berbagai sumber). Ernas Siswanto

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

RSS
Telegram
WhatsApp