Tenang Bertemu Rasulullah SAW

Syukur alhamdulillah kita haturkan kehadirat Allah SWT. Shalawat dan salam tercurah kepada baginda Rasulullah SAW. Saya bersyukur kepada Allah atas adanya pertemuan ini, dimana saya melihat wajah-wajah kebaikan yang berkumpul di majlis ini. Bersama para ulama, solihin, dan pecinta Nabi SAW. Telah tampak pada wajah kita tanda-tanda kecintaan pada nabi. Kita mendengarkan cerita Nabi Muhammad SAW untuk kemudian merasa nikmat dengan menyebut nasab beliau, sifat lahir dan batin beliau, akhlak dhohir dan batin serta mukjizat-mukjizatnya. Serta kita mengingat kembali bagaimana Nabi SAW bermuamalah, mempunyai hubungan baik yang diridloi oleh Allah SWT dengan para sahabat.

Kita hadir di majlis ini, adalah perkumpulan yang sangat mulia yang telah disaksikan oleh al-Qur’anul Karim. Perkumpulan yang sangat agung, dimana Allah berfirman dalam al-Qur’an :

öقُلْ بِفَضْلِ اللَّهِ وَبِرَحْمَتِهِ فَبِذَلِكَ فَلْيَفْرَحُوا هُوَ خَيْرٌ مِمَّا يَجْمَعُونَ

Katakanlah: “Dengan kurnia Allah dan rahmat-Nya, hendaklah dengan itu mereka bergembira. kurnia Allah dan rahmat-Nya itu adalah lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan“.(QS. Yunus : 58)

Para ulama menyebutkan bahwa yang dimaksud dengan Fadlu Allah (kemuliaan yang Allah berikan) adalah terlahirnya Nabi Muhammad SAW. Nabi SAW adalah hadiah yang diberikan Allah kepada kita. Mencintai Nabi, mencintai keluarga Nabi merupakan kewajiban bagi kita. Allah berfirman dalam  al-Qur’an :

ذَلِكَ الَّذِي يُبَشِّرُ اللَّهُ عِبَادَهُ الَّذِينَ آَمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ قُلْ لَا أَسْأَلُكُمْ عَلَيْهِ أَجْرًا إِلَّا الْمَوَدَّةَ فِي الْقُرْبَى

Itulah (karunia) yang (dengan itu) Allah menggembirakan hamba- hamba-Nya yang beriman dan mengerjakan amal yang saleh. Katakanlah: “Aku tidak meminta kepadamu sesuatu upahpun atas seruanku kecuali kasih sayang dalam kekeluargaan”. (QS. Al-Syura : 23)

Mencintai Nabi dan keluarganya hukumnya wajib. Barangsiapa yang mencintai keluarga Nabi berarti mencintai Nabi, dan barangsiapa yang mencintai Nabi berarti mencintai Allah SWT. Allah berfirman,

قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ

Katakanlah: “Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu.” Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS. Al-Imran : 31)

Barangsiapa yang taat kepada Rasul berarti ia taat kepada Allah. sebaliknya barangsiapa yang menyebabkan murka Rasul berarti ia menyebabkan murka Allah dan pantas mendapatkan adzab Allah SWT. Imam Syafi’i menyebutkan, “Wahai keluarga Nabi SAW, mencintai kalian adalah fardlu yang telah Allah turunkan di dalam al-Qur’an. Cukup bagi kalian kemuliaan tatkala orang yang tidak bersholawat kepada kalian sholatnya tidak sempurna.” Barangsiapa yang melupakan Allah SWT, maka akan mendapatkan adzab dari Allah. Alhamdulillah pada hari ini kita berkumpul dalam rangka mendengarkan sejarah Nabi SAW.

Tapi yang perlu kita perhatikan adalah bagaimana kita memusatkan pikiran pada tiap bagian dari pembacaan maulid tersebut. Jangan memikirkan yang lain, karena kita tengah mengenang Nabi SAW. Kenapa engkau selalu ada kesibukan ketika ada maulid Nabi, sedangkan didalamnya ada qasidah, nasyid. Sungguh sesuatu yang tidak pantas. Ketika kita tengah membaca maulid Nabi SAW seakan-akan kita tengah berada dalam suatu taman, dimana kita keluar dalam keadaan gembira, ruh-ruh kita menjadi gembira karena mendengar qasidah dan nasyid. Disebutkan oleh Syekh Abu Muroyyib, “Bahwasanya qasidah-qasidah yang diucapkan menurut thariqah Sadziliyah adalah bisa membawa kita dalam kemajuan dalam berfikir dalam memuji nabi kita Muhammad SAW.”

Allah berfirman dalam al-Qur’an :

ô قَدْ جَاءَكُمْ مِنَ اللَّهِ نُورٌ وَكِتَابٌ مُبِينٌ

Sesungguhnya Telah datang kepadamu cahaya dari Allah, dan Kitab yang menerangkan. (QS. Al-Maidah : 15)

Maka barangsiapa yang mengikutinya berarti dia mengikuti jalan-jalan keselamatan di dunia sampai akhirat. Itu adalah pujian untuk nabi kita Muhammad SAW. Sebagaimana Alah berfirman dalam al-Qur’an :

لَقَدْ جَاءَكُمْ رَسُولٌ مِنْ أَنْفُسِكُمْ عَزِيزٌ عَلَيْهِ مَا عَنِتُّمْ حَرِيصٌ عَلَيْكُمْ بِالْمُؤْمِنِينَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ

Sungguh telah datang kepadamu seorang Rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, amat belas kasihan lagi Penyayang terhadap orang-orang mukmin. (QS. At-Taubah : 128)

Allah SWT mengkhusukan dua nama Rouf dan Rochim yang mana keduanya merupakan dua dari nama-nama Allah diberikan kepada Nabi Muhammad SAW. Betapa kasih dan sayangnya beliau.

Bangsa Arab waktu itu adalah bangsa yang tidak mengenal ilmu pengetahuan. Tidak mengenal tata cara hidup. Mereka saling mendholimi. Yang kuat makan yang lemah, bahkan mengubur anak-anak perempuannya. Suatu saat Rasul menanyakan kepada para sahabatnya, “Siapa diantara kalian yang bisa membuat aku tertawa kemudian membuat aku menangis”. Saat itu Sayyidina Umar bin Khottob mengatakan, “Aku ya Rasulullah. Dulu aku punya berhala yang aku buat dari khalawah (manisan). Pada waktu aku lapar, aku ambil tangannya, aku potong kakinya, aku makan kepalanya dan begitu seterusnya.” Mendengar hal ini tertawalah Rasululah SAW sehingga tampaklah gigi geraham beliau. Beliau mengatakan, “Mana akal-akal kalian pada waktu itu. Lalu apa yang bisa membuat aku menangis?” Umar bercerita, “Aku mempunyai anak perempuan. Suatu saat aku bawa dia ke tengah padang pasir. Aku dudukkan dia, kemudian aku menggali lubang untuk kuburannya. Setiap ada pasir yang mengenai wajah dan leherku, anakku membersihkan pasir itu dari tubuhku. Dia tidak tahu sebenarnya aku tengah menggali kuburan untuk dia. Setelah selesai menggali aku kubur dia.” Mendengar kisah ini Nabi menangis. Demikian keadaan bangsa Arab pada waktu itu. Lalu bagaimanakah keadaan orang-orang ajam (selain Arab). Lebih daripada itu kebodohannya. Allah berfirman :

u هُوَ الَّذِي بَعَثَ فِي الْأُمِّيِّينَ رَسُولًا مِنْهُمْ يَتْلُو عَلَيْهِمْ آَيَاتِهِ وَيُزَكِّيهِمْ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَإِنْ كَانُوا مِنْ قَبْلُ لَفِي ضَلَالٍ مُبِينٍ

Dia-lah yang mengutus kepada kaum yang buta huruf seorang Rasul di antara mereka, yang membacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, mensucikan mereka dan mengajarkan mereka Kitab dan hikmah (As Sunnah). dan Sesungguhnya mereka sebelumnya benar-benar dalam kesesatan yang nyata, (QS. Al-Jum’ah : 2)

Pada waktu bangsa Arab dikenal suka berperang. Banyaknya persengketaan. Yang dihembuskan oleh hawa nafsu syetan. Maka Nabi Muhammad SAW diutus kepada mereka sebagai rahmat. Tapi coba kita perhatikan, bagaimana Rasulullah bisa merubah keadaan yang demikian itu. Dari bangsa yang tadinya tidak mengerti menjadi bangsa yang mengerti. Menjadi sadar, memahami isyarat-isyarat Allah, bertauhid, memahami ilmu pengetahuan. Bahkan mereka menjadi orang-orang yang menghafal kiab-kitab Allah SWT. Menjadi ulama’ pewaris Rasulullah SAW. Coba lihat Abdullah bin Umar, Salim Abdullah bin Umar, Abdullah bin Abbas, Sayyidah Aisyah rha., Abu Hurairoh al-Yamani, dan lain sebagainya. Merekalah para sahabat Nabi yang mengajarkan ilmu Rasulullah.

Kita tidak bertemu dengan mereka. Tapi dari mana kita mendapatkan ilmu. Kita mendapatkan ilmu dari silsilah rentetan guru-guru kita yang bersambung kepada para sahabat dan kepada Nabi SAW. Mereka mendapat Nadhor (pengawasan ) langsung dari Nabi SAW. sehingga mereka mampu mengemban beban berat yang ditugaskan kepada mereka.  Diantara para sahabat ada yang pergi ke negeri yang jauh. Ada yang ke China dan meninggal di sana. Padahal waktu itu tidak ada transportasi yang mudah. Mereka menempuh perjalanan berbulan-bulan. Semua itu mereka lakukan karena kecintaan yang tinggi kepada Rasulullah SAW.

Namun bukan berarti cinta Nabi tapi tetap durhaka kepada kedua orang tuanya. Bukan dikatakan cinta Nabi tapi tetap mengganggu sesama muslim. Orang yang mencintai nabi akan mengikuti apa yang nabi lakukan. Nasihatilah kaum muslimin yang masih berbuat kesalahan. Islam mengajarkan dakwah bukan dengan kekerasan. Allah berfirman :

ادْعُ إِلَى سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ إِنَّ رَبَّكَ هُوَ أَعْلَمُ بِمَنْ ضَلَّ عَنْ سَبِيلِهِ وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِينَ

Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk. (QS. An-Nahl : 125)

Yang dimaksud Hikmah dalam ayat ini ialah perkataan yang tegas dan benar yang dapat membedakan antara yang hak dengan yang bathil.

Kita sekarang berkumpul pada jamuan Allah SWT. Jamuan kecintaan kepada Nabi. Hendaknya maulid juga dirayakan di bulan-bulan yang lain. Lihatlah kesabaran beliau dalam mendidik para sahabat, kesabaran beliau dalam memperlihatkan tanda-tanda kenabian. Walaupun diganggu dan didholimi. Semua itu adalah bagian dari karunia Allah SWT. Nabi Muhammad SAW adalah Nabi yang besar nabi yang agung, pemimpin para nabi. Disebutkan dalam sebuah hadits, “Aku adalah cahaya yang diciptakan sebelum Adam as. 2000 tahun. Kalau bukan karena Aku niscaya Allah tidak akan menciptakan Adam dan seluruh makhluk-Nya.” Dan barangsiapa yang memandang wajah Rasulullah, maka dia adalah orang yang beruntung di hadapan Allah SWT.

Seorang munafik pernah berkata kepada salah seorang Bani Hasyim, Sesungguhnya kalian adalah orang yang suka menunda-nunda membayar hutang. Itulah salah satu contoh bentuk permusuhan kaum munafik kepada Nabi kita SAW.

Suatu saat ada seorang munafik mengikatkan surbannya ke leher nabi dan menariknya kuat-kuat. Sedikit saja leher itu tertekan terlihat bekas kemerah-merahan pada leher nabi SAW.

Apapun yang menimpa sahabat mereka adukan kepada Nabi SAW. Suatu hari dalam suatu keadaan, seorang sahabat berkata, “Ya Rasulullah kita tidak punya air kecuali sangat sedikit.” Kemudian nabi berkata, “Berikanlah padaku air itu. Kemudian Rasulullah memasukkan tangannya dan berkata mari semua ke sini ambillah air yang penuh berkah ini.” Air itu menjadi penuh hingga tumpah-tumpah. Kemudian para sahabat mengambil air itu dan air tersebut tidak berkurang sama sekali. Imam Bushiri menyebutkan, “Telah makan dari satu sho’ makanan yang diberi berkah oleh Allah lewat diri Nabi 1000 orang yang lapar. Dan telah minum dari air yang diberkati 1000 orang yang haus.”

Disebutkan dalam sejarah seorang sahabat yang bernama Abu Talhah. Ketika itu Abu Talhah melihat Nabi dalam keadaan lapar. Kemudian dia memerintahkan kepada istrinya untuk membuat makanan. Disembelihlah kambing dan dimasak oelh istrinya. Si istri berkata kepada Abu Talhah agar Rasul mengajak lima orang saja, karena makanan yang disediakan tidak cukup banyak. Setelah berkata demikian, kepada Rasul SAW, ternyata Rasulullah malah mengajak seluruh orang yang ada di masjid dengan mengatakan, “Mari semuanya ke rumah Abu Talhah, kita sekarang punya makanan.” Abu Talhah berlari menemui istrinya dan mengatakan keadaan yang terjadi. Istrinya menjawab, “Kalau begitu Allah yang akan menentukan dan Rasul yang membagi makanan ini”. Rasul berkata kepada Abu Talhah agar tidak mencampur bahan makanan itu sebelum beliau datang. Ketika Nabi datang, beliau meludahi adonan makanan itu. Kemudian nabi menyuruh sahabatnya untuk masuk sepuluh-sepuluh orang. Demikianlah para sahabat makan minum sepuasnya. Namun Nabi tidak mendahului makan. Beliau terakhir makan. Kemudian sisa makanan diberikan dan tampak seperi sediakala. Seperti tidak kurang sedikitpun.

Selain memberikan berkah pada makanan, air liur Nabi juga menyembuhkan segala macam penyakit. Namun sangat disayangkan mereka yang tidak diberi cahaya hidayah Allah tidak akan mampu menerima itu semua. Pribahasa mengatakan, “Kadang-kadang mata tidak dapat menangkap cahaya matahari karena sakit mata. Terkadang lidah tidak dapat merasakan nikmatnya makanan karena sakit”. Itulah yang terjadi pada kaum munafik.

Mudah-mudahan kita dijaga oleh Allah SWT dari perbuatan-perbuatan tersebut. Dikisahkan pula dimana seorang sahabat Nabi pernah mengundang Nabi ke rumahnya. Saat itu ia menyembelih seekor kambing. Ketika ia menyembelih kambing, kedua anaknya yang masih kecil melihatnya. Maka kedua anak itu meniru tindakan bapaknya tersebut. Kakaknya mengatakan, “Coba kau lihat bagaimana orang tua kita menyembelih kambing, mari kita praktekkan.” Kemudian adiknya ditidurkan dan disembelih. Sedang saat itu orang tuanya lagi sibuk menyiapkan makanan untuk Rasulullah. Ketika si bapak keluar, dia terkejut melihat anaknya yang kecil terkapar dengan leher terputus dan si kakak pingsan. Tapi sahabat dan istrinya ini sepakat untuk menyembunyikan masalah ini dari Rasululah sampai beliau selesai makan. Maka kemudian ia tutupi kedua anaknya tersebut dengan tikar.

Tapi Allah telah mengutus Jibril dan memberitahukan apa yang telah terjadi pada keluarga sahabatnya itu. Ketika sampai ke rumah sahabatnya ini, nabi berkata, “Mana kedua anakmu” “Tidur wahai Rasulullah”, jawabnya. “Kalau memang mereka tidur aku ingin melihatnya.” Kata Rasulullah SAW. Maka tidak mungkin lagi ia mengelak. Kemudian dibukalah tikar itu. Terlihat keadaan anaknya yang sangat mengenaskan. Kemudian nabi menempelkan leher yang terputus itu kepada jasadnya. Kemudian Nabi mengatakan, “Bangunlah dengan izin Allah.” kemudian yang pingsan tadi ditepuk oleh nabi sambil berkata, “Bangunlah dengan izin Allah.” Subhanallah, semua bekas-bekas darah tiba-tiba lenyap semua tanpa berbekas. Inilah salah satu mukjizat Nabi kita Muhammad SAW.

Mudah-mudah kita diizinkan oleh Allah berkumpul dengan Rasulullah memandang wajah suci beliau serta mendapatkan syafaat beliau amin. Muhammad Nawawi

Ceramah disampaikan pada hari Jum’at

18 Rabiulawal 1428 H / 6 April 2007

Di kediaman Alm. Habib Jakfar bin Syaikhon Assegaf Pasuruan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

RSS
Telegram
WhatsApp