SMACK DOWN DAN NILAI-NILAI KELEMBUTAN DALAM ISLAM

dok 2007

Beberapa pekan terakhir kita dikejutkan oleh jatuhnya beberapa korban anak– anak, baik korban luka–luka sampai korban meninggal dunia. Hal ini di sebabkan pengaruh tayangan di salah satu stasiun televisi swasta tanah air yaitu pertarungan gulat bebas atau smack down, yang menampilkan sosok tubuh–tubuh kekar baik laki–laki atau wanita, sebuah pertarungan antar manusia yang mengesampingkan aturan main, sportivitas, dan jauh dari kesan beradab. Semenjak awal tayangan ini banyak menuai protes dari berbagai kalangan, karena memang tidak ada manfaat yang jelas dan positif baik bagi kemajuan pribadi maupun dalam upaya menumbuhkan karakter yang berbudaya. Akan tetapi mungkin karena rating acara tersebut cukup tinggi dan diminati banyak orang maka tayangan ini berlangsung cukup lama di layar kaca kita.

Melihat smack down, kita teringat kembali sejarah kekaisaran romawi kuno, dimana pertarungan manusia dengan manusia, atau manusia dengan binatang menjadi hiburan yang dinikmati oleh makhluk yang namanya manusia juga. Kematian, cedera, cacat, darah, dan teriakan kesakitan, tampaknya tidak lagi menjadi hal yang memilukan disaat melihat adegan yang di luar peri kemanusiaan itu, bahkan ada kecenderungan malah “diharapkan”.

Penulis berpendapat bahwa pertumbuhan karakter seseorang atau karakter masyarakat adalah akibat dari pola kebiasaan dan pembiasaan yang kontinyu memberikan input terhadap diri seseorang dan masyarakat.

Smack Down, saat ini telah memakan korban secara fisik terhadap anak-anak kita, akan tetapi pernahkah kita berfikir bahwa pengaruh tayangan atau berita mengenai kekerasan justru akan membawa dampak yang sangat berbahaya yaitu hilangnya kepekaan hati nurani terhadap penderitaan orang lain, dengan kata lain menyebabkan tumbuhnya karakter “raja tega” di tengah masyarakat kita.

Bukan hanya smack down yang seharusnya menjadi komplain kita terhadap tayangan kekerasan, pada media cetak, masih sering kita lihat foto–foto tentang kekerasan atau korban dari kekerasan ditampilkan secara gamblang. Tentang kecelakaan, korban yang berdarah–darah, dan bentuk kekerasan lain masih sering disajikan pada halaman paling depan.

Pada media elektronik, adegan kekerasan baik dalam bentuk sinetron atau berita juga tak jarang kita saksikan. Tentu hal ini semakin mengasah karakter bengis manusia semakin menjadi–jadi. Tak terbayangkan jika tayangan tersebut ditonton oleh anak–anak,  semenjak kecil mereka telah terbiasa melihat adegan–adegan seperti itu, tentu pertumbuhan mental dan karakternya tidak akan positif. Belum lagi permainan video game yang menggambarkan pertarungan–pertarungan sangat diminati baik orang tua maupun anak – anak, akan semakin menambah catatan bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi kekerasan telah mewabah di negeri ini, dengan semakin seringnya info tentang kekerasan seakan masyarakat telah “biasa” melihat kejadian tersebut. Ini harus menjadi bahan renungan agar masyarakat tidak terjebak pada “sakit jiwa sosial”, yaitu tatak terhadap kekerasan yang akan berimbas pada kesewenang–wenangan terhadap sesamanya. Hal ini menjadi batu ujian bagi kita yang selama ini konsisten memperjuangkan penanaman nilai–nilai kelembutan Islam pada putra/putri kita.

Lihat saja fenomena akhir–akhir ini, semakin marak kekerasan ditengah–tengah kita, kasus carok massal, mutilasi, perampokan dengan pembunuhan. Perampasan, hingga bentuk–bentuk kekerasan dalam rumah tangga baik yang menimpa anggota keluarga maupun pembantu rumah tangga semakin banyak. Adakah korelasinya  dengan pembahasan kita di atas?

Ada pula kekerasan yang terjadi antar kelompok, antar suku, atau antar kampung. Sering pula kita saksikan, kekerasan juga dilakukan antara warga dengan warga, maupun di antara aparat sendiri, bahkan aparat dengan warga juga seringkali terjadi bentrok yang berujung pada kekerasan.

Kesewenang–wenangan, pemaksaan kehendak, yang kuat menindas yang lemah, menggunting dalam lipatan, mengambil keuntungan diatas penderitaaan orang lain, ini juga termasuk kekerasan. Bisa juga merupakan dampak tak langsung dari makin merebaknya info–info tentang kekerasan disekitar kita. Akhirnya kekerasan bukan lagi menjadi sesuatu yang ditakuti, akan tetapi kekerasan yang terjadi seakan sudah jadi “makanan” sehari–hari.

Maka sudah selayaknya kita sebagai insan yang sangat memegang teguh prinsip keagamaan dapat memiliki filter yang optimal dalam mengantisipasi hal tersebut. Islam telah mengajarkan sikap welas asih, saling menyayangi, dan menghormati.

Ajaran Islam sangat menjunjung tinggi peri kemanusiaan, jangankan manusia, hewan saja begitu dilindungi dalam Islam. Begitu agungnya nilai–nilai kelembutan dalam agama ini. Seperti  yang firmankan oleh Allah SWT dalam Al Qur,an agar kita selalu berbuat baik terhadap sesama,

(#r߉ç6ôã$#ur ©!$# Ÿwur (#qä.Ύô³è@ ¾ÏmÎ/ $\«ø‹x© ( Èûøït$Î!ºuqø9$$Î/ur $YZ»|¡ômÎ) “É‹Î/ur 4’n1öà)ø9$# 4’yJ»tGuŠø9$#ur ÈûüÅ3»|¡yJø9$#ur ͑$pgø:$#ur “ÏŒ 4’n1öà)ø9$# ͑$pgø:$#ur É=ãYàfø9$# É=Ïm$¢Á9$#ur É=/Zyfø9$$Î/ Èûøó$#ur È@‹Î6¡¡9$# $tBur ôMs3n=tB öNä3ãZ»yJ÷ƒr& 3 ¨bÎ) ©!$# Ÿw =Ïtä† `tB tb%Ÿ2 Zw$tFøƒèC #·‘qã‚sù ÇÌÏÈ

 “Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan- Nya dengan sesuatupun. Dan berbuat baiklah kepada dua orang ibu-bapa, karib kerabat, anak – anak yatim, orang –orang miskin, tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh, teman sejawat, ibnu sabil, dan hamba sahayamu. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang – orang yang sombong dan membangga – banggakan diri”. (QS An-Nisa’ 36).

Larangan berlaku aniaya juga disabdakan oleh Rosulullah SAW, “Sesungguhnya Allah akan menyiksa orang yang menyiksa sesama manusia di dunia. (Baca: Terjemah Riadlus Shalihin jilid 2; H. Salim Bahreisj; pen: PT Alma’arif. Bandung 1972; hal: 339).

Dengan demikian kita harus berupaya menciptakan lingkungan yang saling mengasihi dan menyayangi, di antaranya memiliki perhatian dengan sesama apa lagi terhadap orang–orang yang membutuhkan pertolongan. Sikap welas asih, tidak sewenang–wenang dan bijaksana dalam menyelesaikan segala persoalan harus di kedepankan.

Dalam memilih  input yang masuk dalam keluarga, juga  harus selektif, misalnya acara televisi, buku bacaan, dan majalah, sudah selayaknya kita arif dalam memilih, apa lagi melibatkan anak-anak di saat menerima informasi tersebut, pola pendampingan juga pengawasan dengan wujud pehatian kepada mereka haruslah lebih optimal disaat sekarang ini.

Di zaman ketika fasilitas informasi sangat mudah di dapat, fasilitas tersebut layaknya sebuah pisau bermata dua, tinggal kita yang memilih apakah akan digunakan dengan positif atau justru akan memperturutkan nafsu saja. Karena informasi juga termasuk salah satu pintu masuk terhadap budaya dari luar. Memang tidak semua budaya dari luar itu negatif ada pula budaya impor yang positif, akan tetapi tidak kita nafikan kadang kala terjadi benturan pada sendi – sendi antar budaya yang sering berakibat pada gejolak sosial. Dan jika tidak arif menyikapinya bukan tidak mungkin akan menimbulkan bentuk kekerasan baru.

Sudah menjadi hukum bahwa budaya yang kuat akan cenderung mempengaruhi budaya yang lemah, maka di tengah gejolak kompetisi budaya yang kian ketat bukan tidak mungkin Islam menjadi jawaban bagi kita sebagai benteng diri, keluarga, bahkan sebagai bangsa agar tidak terlampau larut dalam tarik–menarik ideologi dari luar yang semakin menggerus nilai–nilai budaya kita sebagai bangsa.  

Peran serta media dalam menyajikan informasi dengan santun, bertanggung jawab, juga mengedepankan upaya pendidikan pada masyarakat sudah selayaknya dimiliki, baik itu media cetak maupun penyiaran. Sikap peka terhadap masukan masyarakat dan tidak hanya mementingkan keuntungan semata harus di junjung tinggi, Bukan menunggu korban berjatuhan barulah ada tindakan.

Aparat hukum juga harus sigap dan tegas di dalam menangani kasus–kasus kekerasan, penegakan hukum yang optimal juga merupakan salah satu pilar dalam mengupayakan terciptanya lingkungan yang harmonis. Tanpa adanya penegakan hukum tentu perilaku sewenang–wenang akan tumbuh subur ditengah masyarakat.

Yang terakhir ulama juga memegang peranan cukup penting dalam mengawal tumbuhnya karakter masyarakat agar senantiasa terkontrol dan tidak kebablasan, ulama yang berwibawa, dekat dengan umat sangatlah berpengaruh dalam membentuk pribadi masyarakat. Jadi peran serta berbagai pihak sangat di perlukan untuk menumbuhkan nilai–nilai luhur sebuah bangsa, yaitu tatanan masyarakat yang santun, arif, dan berbudaya. Atau justru budaya kita yang luhur akan terkena “smack down” oleh budaya asing yang akan berimbas pada hilangnya jati diri kita sebagai bangsa yang besar. AR Helmi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

RSS
Telegram
WhatsApp