PUASA DARI SUDUT MEDIS

”Hausnya itu lho nggak tahan,” kata teman saya ketika memulai puasa Ramadhan tahun lalu. Walau merasa sangat haus, toh akhirnya ia sampai juga ke bedug Maghrib. ”Tapi begitu menyeruput teh manis saat buka, aduuuh… rasanya nikmat banget. Rasa haus yang seharian kutahan itupun hilang sudah,” tuturnya.

Tak terasa kini sudah setahun berjalan dan kita akan segera menyambut bulan suci di mana ribuan berkah dan ampunan memadati dunia. Menahan lapar dan haus, apalagi pada siang hari yang panas terik, terkadang memang butuh perjuangan tersendiri. Namun, jika puasa kita dilandasi dengan iman dan keikhlasan untuk ibadah, rasanya rasa lapar dan haus itu tak berarti apa-apa. Apalagi jika kita menyadari bahwa puasa ternyata juga membawa begitu banyak hikmah dan manfaat buat kita, salah satunya manfaat kesehatan.

Keluhan-keluhan yang sama pasti juga pernah Anda dengar, bahkan mungkin Anda sendiri  yang mengeluh. Sebenarnya dalam tolok ukur kemampuan, puasa 12 hingga 16 jam masih jauh dalam batas toleransi kita. Percayakah Anda bahwa manusia bisa bertahan sampai 40 hari hanya dengan air putih, dan sampai 100 hari dengan mengkonsumsi jus buah dan sayuran tanpa bahaya? Orang Hindu pun berpuasa 24 jam kala menunaikan prosesi Nyepi. Tentu kita malu jika ‘kalah dengan mereka yang nyata-nyata musyrik itu.

Sebagian besar umat muslim menyambut dengan gembira bulan yang indah ini. Namun ada juga yang keberatan karena mereka tersiksa dengan rasa lapar dan haus. Sungguh dengan begitu mereka tidak mendapati essensi puasa yaitu supaya ketaqwaan kita bertambah. Kita semua sudah tahu, puasa diperintahkan Allah kepada umat Islam dan umat-umat lain sebelumnya agar kita menjadi takwa (la’allakum tattaquun, Al Baqarah 183).

”Kesehatan merupakan salah satu hak bagi tubuh manusia” demikian sabda Nabi Muhammad SAW. Karena kesehatan merupakan hak asasi manusia, sesuatu yang sesuai dengan fitrah manusia, maka Islam menegaskan perlunya istiqomah memantapkan diri dengan menegakkan agama Islam. Satu-satunya jalan adalah dengan melaksanakan perintah-perintah-Nya dan meninggalkan larangan-Nya. Allah berfirman:

يَا أَيُّهَا النَّاسُ قَدْ جَاءَتْكُمْ مَوْعِظَةٌ مِنْ رَبِّكُمْ وَشِفَاءٌ لِمَا فِي الصُّدُورِ وَهُدًى وَرَحْمَةٌ لِلْمُؤْمِنِينَ

”Hai manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu pelajaran dari Tuhanmu dan penyembuh-penyembuh bagi penyakit-penyakit (yang berada) dalam dada dan petunjuk dan rahmat bagi orang-orang yang beriman” (QS:Yunus 57).

Puasa, bagian dari ibadah yang harus dilaksanakan oleh umat Islam dalam menegakkan agama, seiring dengan pernyataan imannya. Konsekuensi beriman antara lain melaksanakan perintah puasa. Betapa pentingnya berpuasa sehingga Allah menempatkan posisi hamba-Nya yang berpuasa dengan posisi yang istimewa. ”Puasa itu untuk-Ku. Tidak ada yang tahu. Dan Aku akan memberi pahala semau-Ku.” Di antara keistimewaan itu adalah kesehatan dan sekaligus kebahagiaan. Dengan berpuasa akan sehat jasmani, rohani dan hubungan sosial. Lalu kira-kira di manakah letak keterkaitan antara puasa Ramadan yang kita jalani setiap tahun ini dengan kesehatan?

Beberapa ahli dari negara-negara Barat dan Timur telah meneliti dan membuktikan tentang manfaat puasa. Tiga orang ahli dari Barat yang non-Muslim telah mengemukakan pendapat mereka tentang faedah puasa. Ketiga orang tersebut adalah Allan Cott M.D., seorang ahli dari Amerika, Dr. Yuri Nikolayev, direktur bagian diet Rumah Sakit Jiwa Moskow, dan Alvenia M. Fulton, direktur Lembaga Makanan Sehat “Fultonia” di Amerika.

Allan Cott, M.D., telah menghimpun hasil pengamatan dan penelitian para ilmuwan berbagai negara, lalu menghimpunnya dalam sebuah bukuberjudul  Why Fast ?  (Mengapa Puasa ?) yang sudah 17 kali cetak ulang dalam tempo sewindu. Di buku itu, Allan Cott, M.D. membeberkan berbagai hikmah puasa, antara lain: merasa lebih baik secara fisik dan mental, merasa lebih muda, membersihkan badan, menurunkan tekanan darah dan kadar lemak, lebih mampu mengendalikan seks, mengendorkan ketegangan jiwa, menajamkan fungsi indrawi, memperoleh kemampuan mengendalikan diri sendiri dan memperlambat proses penuaan.

Sementara itu, Dr. Yuri Nikolayev yang menilai kemampuan berpuasa  mengakibatkan orang yang bersangkutan menjadi awet muda, merupakan suatu penemuan terbesar abad ini. Ia mengatakan penemuan seperti jam radioaktif dan bom Exoset tidak berbanding jika disejajarkan dengan puasa. Lain halnya dengan Yuri, Alvenia M. Fulton menyatakan bahwa puasa adalah cara terbaik untuk memperindah dan mempercantik wanita secara alami. Puasa menghasilkan kelembutan pesona dan daya pikat. Puasa menormalkan fungsi-fungsi kewanitaan dan membentuk kembali keindahan tubuh (fasting is the ladies best beautifier, it brings grace charm and poice, it normalizes female functions and reshapes the body contour).

Secara biomolekuler, saat menjalankan puasa terjadi perubahan waktu masuknya cairan tubuh dari air yang kita minum. Waktu sahur kita minum banyak-banyak sehingga cairan tubuh kita menjadi lebih encer, sedangkan pada sore hari cairan tubuh menjadi lebih pekat karena tidak ada penambahan air. Dengan demikian, puasa memang bisa menjadi cara untuk melatih ginjal kita agar mampu mengeluarkan banyak air (berupa air kemih) sehabis sahur, dan menghemat pengeluaran air pada saat siang atau sore menjelang berbuka puasa.

Saat puasa, sirkulasi darah akan berkurang sebagai perimbangan untuk mencegah keluarnya keringat dan uap melalui pori-pori kulit serta saluran kencing tanpa perlu menggantinya. Menurunnya curah jantung dalam mendistribusikan darah keseluruh pembuluh darah akan membuat sirkulasi darah menurun dan ini memberi kesempatan otot jantung untuk beristirahat setelah bekerja keras satu tahun lamanya. Peristiwa ini memberi kesempatan pada jantung untuk memperbaiki vitalitas dan kekuatan sel-selnya.

Puasa juga berfungsi sebagai detoksifikasi untuk mengeluarkan kotoran, toksin atau racun dari dalam tubuh, meremajakan sel-sel tubuh dan mengganti sel-sel tubuh yang sudah rusak dengan yang baru. Puasa juga memperbaiki fungsi hormon, menjadikan kulit sehat dan meningkatkan daya tahan tubuh karena manusia mempunyai kemampuan terapi alamiah.

Bagi para wanita, puasa juga punya hikmah tersendiri yaitu dapat membuat kulit menjadi segar, sehat, lembut, dan berseri. Hal ini disebabkan metabolisme energi di kulit berjalan dengan sempurna dan berkesinambungan. Bahkan untuk wanita hamil 4-7 bulan sangat aman melakukan puasa karena dalam tahap ini biasanya tubuh sudah dalam tahap penyesuaian. Sungguh benar Janji Allah yang ditegaskan dengan sabda Nabi Muhammad SAW: ”Berpuasalah maka Anda akan sehat.” (H.R. Ibnu Suny dan Abu Nu’aim)

Manusia mempunyai cadangan energi yang disebut glikogen. Cadangan energi tersebut dapat bertahan selama 25 jam. Cadangan gizi inilah yang sewaktu-waktu akan dibakar menjadi energi, jika tubuh tidak mendapat suplai pangan dari luar. Jadi tidak ada  alasan bagi kita untuk berhalangan puasa karena tak tahan lapar kecuali untuk orang tua dan sakit. Ketika berpuasa, cadangan energi yang tersimpan dalam organ-organ tubuh dikeluarkan sehingga melegakan respirasi organ-organ tubuh serta sel-sel penyimpanannya. Peristiwa ini disebut peremajaan sel. Dengan peremajaan ini, kekebalan dan kesehatan tubuh kita akan meningkat.

Berpuasa dapat membantu meningkatkan penyerapan gizi makanan yang kita konsumsi. Dalam saluran pencernaan, sebelum makanan diserap, terjadi proses perubahan dari bentuk padat menjadi komponen yang lebih halus. Pada saat berpuasa, saluran pencernaan beristirahat selama beberapa jam. Dengan diistirahatkannya saluran pencernaan tersebut proses penyerapan makanan akan menjadi lebih efisien. Bagi para penderita Diabet, puasa juga membantu menormalkan kadar gula darah. Begitu juga dengan penderita kolesterol tinggi. Bahkan menurut dokter Probosuseno, spesialis penyakit dalam dari Rumah Sakit Dr Sardjito Yogyakarta, ibadah ini juga bisa memperbaiki penyakit maag yang fungsional.

Apa yang disebutkan di atas hanyalah sebagian kecil dari mukjizat puasa.  Namun, dalam pelaksanaannya ada beberapa tips yang layak anda coba agar tetap segar saat puasa. Sebagaimana diutarakan oleh Dr. Titi Sekarindah, Ahli Gizi RS. Pertamina Pusat Jakarta : Makan secara teratur waktu buka puasa dan sahur dengan menu seimbang terdiri dari karbohidrat 50-60%, protein 10-20%, lemak 20-25%, cukup vitamin, mineral, serta serat untuk memperlancar buang air besar. Sementara kebutuhan minum, sedikitnya 7-8 gelas sehari terdiri dari 3 gelas waktu sahur dan 5 gelas dari buka sampai sebelum tidur.

Pembagian makan adalah 50% untuk berbuka, 10% setelah sholat tarawih dan 40% pada waktu sahur. Menu yang dipilih pada waktu buka terdiri dari makanan pembuka berupa minuman atau makanan manis, seperti kurma atau teh manis. Makanan manis mengandung karbohidrat sederhana yang akan mudah diserap dan segera menaikkan kadar gula darah. Setelah sholat magrib, makan makanan pelengkap yang terdiri dari makanan sehari-hari dengan lauk dilengkapi dengansayuran dan buah. Setelah tarawih, kita  dapat makan camilan berupa roti atau buah. Makan sahur harus dipentingkan, karena sahur yang baik membuat puasa tidak terasa berat.

Hidangan sahur selayaknya seperti waktu buka, namun porsinya lebih kecil. Dianjurkan makan dengan kadar protein tinggi, agar pengosongan lambung terjadi lebih lama. Selain itu pencernaan dan penyerapan juga lebih lama dibanding makanan yang kadar karbohidratnya tinggi, sehingga tidak cepat terasa lapar. Saat makan sahur dapat ditambahkan segelas susu, terutama untuk anak-anak dan remaja. Pada orang dewasa dapat minum susu tanpa lemak. Suplemen multivitamin dan mineral boleh dikonsumsi pada waktu sahur, agar meningkatkan stamina dan daya tahan tubuh.

Mudah-mudahan dengan segera datangnya bulan penuh rahmat ini kita bisa semakin mendekatkan diri kepadaNya baik lewat shalat, membaca Al-Qur’an, dzikir, istighfar, qiyamul lail  serta puasa itu sendiri. Dengan puasa Ramadlan sebulan penuh akan membuat rohani makin sehat dan jiwa makin tenang. Hendaknya kita sabar menghadapi perasaan lapar dan haus selama puasa. Berfirman Allah dalam Surat Al-Baqarah 45 :

وَاسْتَعِينُوا بِالصَّبْرِ وَالصَّلَاةِ وَإِنَّهَا لَكَبِيرَةٌ إِلَّا عَلَى الْخَاشِعِينَ

 ”Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat kecuali bagi orang-orang yang khusyuk.”

Rasulullah menanti-nantikan datangnya bulan suci ini dan menangis ketika Ramadlan meninggalkannya. Masihkah anda berat menyambutnya? Ada ribuan hikmah dan kelebihan disana, layakkah kita yang berikrar sebagai muslim sejati menolak untuk menjalankan ibadah ini dengan alasan sekedar sakit perut atau tidak tahan lapar? Naudzubillahi min dzalik! dr. Achmad Anies Shahab@

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

RSS
Telegram
WhatsApp