PERAN IBU DALAM PENDIDIKAN ANAK

Dalam lazimnya kehidupan rumah tangga, seorang ayah lebih banyak menyibukkan diri di luar rumah untuk bekerja demi menghidupi keluarganya. Dengan begitu maka yang kontinyu berada di rumah adalah seorang ibu rumah tangga (isteri). Selain suami, isteri juga memiliki tugas dan peran yang tak kalah penting dibanding dengan  peran suami yang mencari nafkah. Seorang isteri pada akhirnya—mau tidak mau—harus menjalani tugas sebagai seorang ibu dalam rumah tangga manakala sebuah perkawinan telah dianugerahi anak oleh Sang Pencipta.

Anak—di samping sebagai cikal-bakal generasi penerus dalam kehidupan manusia—merupakan amanat yang menjadi tanggung jawab penuh orang tuanya. Kehadiran anak memang akan menambah kelengkapan kebahagiaan dalam kehidupan rumah tangga. Dan anak juga akan menjadi faktor penting bagi kemaslahatan kehidupan keluarga di samping sebagai obyek kasih sayang kedua orang tuanya. Meskipun tidak mustahil anak juga bisa menjadi masalah bagi kedua orang tuanya atau salah satunya.

Dalam al-Qur’an, Allah SWT memperingatkan kita akan kemungkinan buruk posisi anak terhadap kedua orang tunya. Allah berfirman:

{ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا إِنَّ مِنْ أَزْوَاجِكُمْ وَأَوْلَادِكُمْ عَدُوًّا لَكُمْ فَاحْذَرُوهُمْ وَإِنْ تَعْفُوا وَتَصْفَحُوا وَتَغْفِرُوا فَإِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَحِيمٌ} [التغابن: 14]

Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya di antara isteri-isterimu dan anak-anakmu ada yang menjadi musuh bagimu, maka berhati-hatilah kamu kepada mereka; dan jika kamu memaafkan dan tidak memarahi serta mengampuni (mereka) maka sesungguhnya Allah Maha Pengnampun lagi Maha Penyayang” (QS at-Taghabun [64]: 14). Artinya, Allah mengingatkan kita bahwa jika anak tidak dididik dengan benar maka tidak mustahil ia akan menjadi anak durhaka yang bisa merepotkan orang tuanya. Wal-‘iyadzu billah. Namun—meski demikian—kita sebagai orang tua tetap ditekankan agar lebih memandang anak-anak kita dengan pandangan kasih sayang.

Oleh karena kehadiran seorang anak bukan saja sebagai anugerah, namun juga sebagai amanat, maka orang tua wajib memelihara amanat itu dengan sebaik-baiknya. Sebelum mengenal pelbagai obyek lain dalam insteraksinya dengan dunia luar, anak dalam usia-usia pertumbuhan—khususnya usia balita—interaksinya “hanya” dengan ibu dan bapaknya. Kedua orang tua adalah obyek (sekaligus subyek) pertama yang ditemui anak dalam pergaulannya. Oleh karena mereka merupakan subyek utama dalam mendampingi anak dalam pertumbuhannya, maka mereka menjadi faktor paling penting dalam membentuk karakter dan kepribadian seorang anak.

Anak yang baru lahir ibarat kertas putih tanpa noda atau tulisan apapun, bagai lempeng cakram baru yang masih kosong dari format apapun. Oleh karenanya, maka kedua orang tua—terutama sang ibu yang paling dominan dalam mendampingi kesehariannya—akan sangat mewarnai dan “menentukan” corak karakter si anak. Jika baik pendidikan awal yang diberikan, maka anak lebih berpotensi berkarakter baik dan begitu pula sebaliknya. Artinya anak itu terlahir dalam kondisi fitrah (suci), hanya kedua orang tua dan lingkungan yang akan membentuk anak jadi berkarakter buruk. Ini sesuai dengan hadits Nabi:

كل مولود يولد على الفطرة وانما أبواه يهودانه أو ينصرانه أو يمجسانه

Setiap anak itu dilahirkan atas dasar firtah, hanya kedua orang tuanya yang menjadikannya sebagai yahudi, nasrani atau majusi“. Menurut sebagian ulama kata “fitrah” berarti fitrah al-Islam.

Dari penjelasan di atas, maka pendidikan awal (sejak dini) bagi seorang anak merupakan hal wajib yang sangat penting. Pendidik pertama yang akan membentuk karakter si anak tak lain adalah sang ibu. Oleh karenanya, maka seorang ibu mutlak harus memahami pendidikan yang baik bagi anaknya, utamanya pendidikan moral agama. Jika pendidikan (pembentukan karakter) awal sudah salah, maka itu sangat riskan sekali bagi karakter dan kepribadian anak ke depan.

 Seorang ibu haruslah memahami dasar-dasar pengetahuan agama dengan baik, memahami bagaimana seharusnya mendampingi dan mendidik yang baik. Itu akan menjadi modal baginya untuk memberikan “suntikan” awal bagi pembentukan mental yang baik sesuai dengan tuntunan akhlak karimah. Kesiapan mental, kedisiplinan, tanggung jawab, perilaku yang baik, sikap lemah-lembut, kasih sayang yang benar, kesabaran, keuletan, ketelatenan, kebesaran jiwa, pemberian teladan yang baik, memahami gejala kejiwaan anak, semuanya diperlukan oleh seorang ibu dalam membesarkan anak-anaknya. Pendidikan keluarga dan lingkungan kondusif yang bernuansa akhlak karimah sangat membantu pembentukan pribadi yang baik dan bertanggung jawab pada diri si anak.

Menyiapkan generasi yang baik tidak bisa dengan cara-cara instan. “Investasi” untuk itu bahkan sudah harus dilakukan oleh sesesorang sebelum membangun rumah tangga. Rasulullah s.a.w. memerintahkan kita agar tidak sembarangan memilih seorang calon tempat pembibitan anak (baca: isteri) yang akan melahirkan generasi kita ke depan. Menurut teori pendidikan modern ini yang disebut dengan pendidikan pra kelahiran (pre-natal). Rasulullah s.a.w. juga memerintahkan agar pasutri yang akan melakukan “aktifitas” suami-isteri terlebih dahulu membaca:

بسم الله الرحمن الرحيم  اللهم جنبنا الشيطان وجنب الشيطان ما رزقتنا

Ya Allah, jauhkanlah kami dari setan dan jauhkanlah setan dari (anak) yang Engkau rizkikan kepada kami“. Betapa indahnya tuntunan dari Nabi s.a.w. yang sarat nilai-nilai pendidikan itu.

Salah satu pendidikan paling penting dan utama dalam pendidikan keluarga adalah pendidikan tentang shalat. Shalat harus sudah ditanamkan sejak dini di masa kecil. Shalat adalah ibadah yang memerlukan pelatihan yang tidak sebentar. Mulai dari mengenal akan tata-cara shalat hingga anak terbiasa dengan ibadah shalat secara istiqamah dan sukarela. Namun bila terlihat gejala-gejala malas pada seorang anak maka shalat harus dipaksakan atas mereka dengan cara yang sebijaksana mungkin. Pendidikan shalat adalah pangkal dari pendidikan Islam, di samping mengenalkan anak pada pengertian yang benar tentang akidah dan dasar-dasar agama.

Di samping shalat, pendidikan yang lebih pas dilaksanakan seorang ibu adalah pendidikan baca al-Qur’an dengan benar. Meskipun dunia anak adalah dunia bermain, namun jangan dibiarkan anak kosong dari pendidikan shalat dan baca al-Qur’an. Bila seorang ibu bisa membaca al-Qur’an dengan benar dan baik, maka itu merupakan modal yang penting bagi pendidikan anak-anaknya. Dengan begitu anak akan mendapat porsi lebih baik dalam berlatih baca al-Qur’an, di samping—mungkin—sambil lalu mengaji kepada seorang guru ngaji.

Jika kita kagum terhadap cara berpikir Imam Syafi’i yang begitu cemerlangnya pemahaman beliau akan agama (fiqh) sehingga digelari dengan mujaddid-nya para mujtahid (imam madzhab) oleh para ulama, itu tak lepas dari modal besar yang dimilikinya sejak kecil. Bagaimana tidak, jika faktanya dia sudah hafal al-Qur’an sejak usia 7 tahun. Memahami al-Qur’an dengan benar adalah modal utama seseorang dalam mencari kebenaran sejati, kebenaran dari Allah Yang Maha Benar. Masa kecil adalah masa yang paling tepat untuk pendidikan baca, tulis dan menghafal.

Pendidikan akhlak karimah yang paling efektif dilakukan oleh seorang ibu untuk anak-anaknya adalah memberikan contoh langsung yang baik dalam keseharian anak. Ini akan sangat membentuk kepribadian yang baik bagi seorang anak. Anak lebih terpengaruh oleh hal-hal yang kongkret yang bisa mereka lihat, mereka dengar, mereka rasakan. Apapun yang disaksikan langsung oleh seorang anak maka akan terukir selamanya dalam benaknya dan tak mudah terhapuskan. Pepatah kuno mengatakan, “belajar di masa kecil bagai mengukir di atas batu“. Wallahu A’lamu bish-shawab. Ust. Anshory Huzaimi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

RSS
Telegram
WhatsApp