Konsep Jihad

Ceramah Habib Ali Al Jufri di Negeri “Sarang” Terorisme

Islam, sampai kapanpun akan tetap menang, tinggal tunggu waktu.

Pembaca yang budiman, masih terngiang di telinga kita tuduhan Dunia Barat terhadap Dunia Islam, bahwa Islam identik dengan terorisme Bahkan tanpa segan sedikitpun,

Amerika Serikat (AS) memproklamasikan diri untuk perang bersama melawan terorisme. Dalam makna lain, perang terhadap Islam mereka bungkus dengan penghancuran terorisme. Padahal, dan seluruh dunia sudah maklum, sebenarnya justru Amerikalah yang paling layak disebut sarang terorisme. Berikut ini paparan Habib Ali Abdurahman Al-Jufri yang disampaikan di Universitas San Diego Amerika Serikat tentang Jihad yang akhir-akhir ini menjadi phobia Barat terhadap Islam. Berikut intisari khotbah itu:

Syetan dan Nafsu

Memahami sesuatu haruslah paham sejarah sesuatu itu sendiri. Lahirnya kebajikan dan keburukan bersamaan dengan diturunkannya Adam turun ke bumi dengan simbol utama perseteruan antara Qabil dan Habil. Maka terjadilah perpindahan nafsu dari syetan kepada manusia. Hingga terjadilah pergumulan nyata antara sesama manusia. Tidak hanya antara manusia dengan syetan.

Syetan adalah musuh kita yang tak terlihat. Adalah suatu yang tidak adil jika Allah menciptakan musuh yang tidak bisa kita lihat dan tidak membekali kita senjata yang ampuh untuk mengahalaunya. Maka Allah berikan tuntunan dzikir sebagai benteng kita dari syetan hingga tidak bisa mendatangi kita.

Kemudian bergeserlah peperangan yang semula antara kita dengan syetan menjadi peperangan antara kita sesama manusia. Mereka condong kepada pola pikir syetan sekaligus menjadi bala tentara syetan di dunia hingga peperangan tersebut menjadi seimbang di muka bumi. Seperti halnya perseteruan antara Qabil dan Habil. Kisah permusuhan ini tidak hanya ada menurut perspektif Al-Qur’an tapi juga disebutkan dalam Taurat. Kisah Qabil mengalahkan Habil, menjadi cikal-bakal terbentuknya kekuatan baik dan blok kekuatan jahat dalam sejarah kehidupan manusia. Dan syetan adalah dalang intelektual di balik berbagai tindak kejahatan.

Syetan tak ‘kan bisa mempengaruhi manusia terkecuali jika orang tersebut condong dan merasa nyaman dengan tindak kejahatan tersebut, yang berarti dia ridla dengan kejahatan yang ada. Jika sudah seperti ini, maka hal ini merupakan musibah besar. Hal ini disebabkan karena ia mengabaikan pembinaan dan penyucian hatinya. Orang yang sombong misalnya, ia secara tidak sadar telah melukai orang yang ada didepannya dengan kesombongannya. Tidak bisa dipungkiri, bahwa terlukanya hati orang lain merupakan bentuk kejahatan. Namun sama sekali dia tidak menyadari hal tersebut.

Egoisme merupakan sifat yang tercela yang ada pada jiwa seseorang. Sikap egois terkadang mencelakakan orang lain demi tercapainya tujuan yang ia kehendaki. Anehnya, seringkali ia tidak merasa bahwa ia telah mengusik hati orang lain. Dia hanya sibuk dengan upaya bagaimana mendapatkan apa yang ia inginkan. Sedikitpun tidak pernah terpikir apakah hal ini salah atau tidak. Ia lukai perasaan orang lain tanpa sadar, tidak pula ia sengaja melukai hati orang lain. Andai kita memberitahuinya bahwa ia telah melukai hati orang lain, maka ia tidak akan merasa nyaman. Namun terlepas apapun dalihnya, kenyataannya kejahatan yang telah dia lakukan telah sampai pada orang lain. Maka dalam kondisi seperti ini, ia tetap dinyatakan bersalah meskipun dilakukan tanpa sengaja. Karena ia tidak memperbaiki sumber kesalahan yang ada pada dirinya. Berangkat dari rumusan inilah, maka akan selalu ada kompetisi antara baik dan buruk dari generasi ke generasi. Semuanya itu diabadikan dalam Taurat, Injil dan Al-Qur’an. Kisah Nabi Daud AS dan peperangan yang beliau lakukan serta pertumpahan darah yang terjadi demi membela kebenaran dari rongrongan kejahatan. Begitu juga kisah heroik Thalut yang memerangi Jalut. Perang selalu menghendaki pertumpahan darah. Namun yang perlu ditegaskan disini bahwa membela kebenaran harus dengan metode yang benar pula.

Dua poin pokok ini, pertama membela yang benar dan kedua metode yang benar harus dipahami. Lihatlah, Thalut berperang, Daud berperang. Para Nabi dan Sholihin terjun dalam pertempuran dan menumpahkan darah. Namun mereka berbekal dua poin tadi dan melawan dua poin yang lain yang menjadi tegaknya kejahatan. Maka tidak dibenarkan jika kita berpendapat bahwa dalam melawan dan membasmi kejahatan—yang terkadang harus berakhir dengan peperangan—dapat diterima dan dibenarkan kecuali jika ada dua point tadi yang saling berhadapan langsung dengan akar pemicu kejahatan. Dasarnya haruslah benar dan metodenya juga harus benar. Kita juga temukan ada dua kondisi diantara dua sikap yang kita sebutkan tadi, yaitu antara yang baik dan yang buruk. Yang pertama satu hal yang bermotif negatif namun modusnya terhormat, Mereka mengatasnamakan undang-undang hingga dia tidak bisa disalahkan oleh secara hukum. Kita semua sepakat bahwa ini tergolong kelompok yang jahat. Apakah dari kita ada yang berbeda pendapat tentang hal ini? Meyakini bahwa tindakan seperti ini bukan kejahatan? Hanya karena dilakukan dengan mengatasnamakan undang-undang? Apakah ada diantara kita yang berkeyakinan, jika ada seseorang datang dan mengambil barang berharga dari tasnya dengan modus yang tidak akan bisa dijerat oleh hukum bahkan di tolelir oleh hukum dan dianggap bebas tidak bersalah. Apakah masih ada di antara kita yang sepakat dengan hukum bahwa ia tidak bersalah?

Kemudian ada juga bentuk lain yang berdiri diantara kebaikan dan keburukan. Yaitu seseorang yang mempunyai akar dan motivasi yang baik namun sayang ia menggunakan cara yang tidak benar yang tidak dapat diterima dalam prinsip-prinsip kebaikan dalam rangka mempertahankan hak-haknya atau membela kebenaran. Yang seperti ini lebih dekat pada tindak kejahatan.

Dikisahkan ada dua orang sahabat yang sama-sama menyukai hal-hal yang bersifat tradisional atau kuno. Baik dari cara makan, berjalan, tempat tinggal. Keduanya lebih suka mengendarai kuda ketimbang naik mobil. Mereka lebih suka menggunakan hal-hal yang berbau tradisional yang berasal dari zaman pertengahan. Mereka adalah orang-orang yang peduli pada lingkungan. Satu ketika seorang dari mereka (sebut saja Fulan) mengunjungi sahabatnya. Ia datang dengan sepeda motor yang knalpotnya bermasalah hingga banyak mengeluarkan asap yang mencemari lingkungan sekitarnya. Sementara itu, sahabatnya (sebut saja Naluf), memiliki alat pemanggang listrik tapi ada kerusakan pada sumbu gasnya yang menyebabkan gas tersebut merembes keluar dan membuat layu pohon-pohon di kebunnya. Tibalah Fulan kerumah Naluf. Kemudian dipersilahkan masuk ke kebun sahabatnya tersebut. Sementara Naluf mempersiapkan minum. Tatkala kembali betapa kagetnya Naluf melihat sahabatnya, Fulan menghancurkan pemanggang listriknya dengan sebuah kayu. Ketika ia melihat hal itu ia bertanya, “Ada apa denganmu?” Fulan menjawab, “Pemanggangmu ini rusak hingga menyebabkan pepohonan layu sementara kita sepakat untuk memerangi pencemaran lingkungan”. Naluf pun tertawa menahan amarah seraya keluar seolah mau mengambil sesuatu. Sesaat kemudian ia menghampiri dan menghancurkan sepeda motor sahabatnya tadi. Tatkala Fulan keluar, didapatinya sepeda motornya telah rusak. Siapa yang merusaknya? Naluf menjawab, “Aku yang merusaknya demi memelihara komitmen yang sama-sama kita sepakati karena keberadaan motormu menyalahi komitmen kita dan telah mencemari lingkungan,” jawabnya. Kita semua sepakat bahwa tindakan tadi salah. Komitmen yang mereka sepakati memang bagus. Yaitu komitmen untuk menjaga lingkungan tapi cara yang mereka terapkan salah.

Kisah lain, seorang pelaku kriminal masuk ke rumah orang lain dengan membawa senjata kemudian ia membunuh kepala keluarganya, ia mengambil alih rumah itu dan menempatinya, dan bersenang-senang seolah di rumahnya sendiri. Dengan kekuatan senjata ia memperbudak penghuni rumah untuk melayaninya. Ia hunuskan pisau ke anak-anak setelah ia bunuh kepala keluarganya untuk kemudian membunuh wanita-wanita di rumah tersebut. Lalu datanglah seorang polisi dan langsung menyergapnya, ia berusaha menusuk polisi namun polisi lebih dulu menusuknya. Apakah polisi dalam keadaan demikian diangap sebagai pelaku kriminal dan patut disalahkan? Jelas tidak. Coba kita cermati kisah lainnya.

Ada pencuri masuk menyelinap rumah dan membunuh sang ayah. Saat ia keluar seorang anak mengamati nomor mobilnya yang ternyata berasal dari kota lain sebut saja Amerika. Pencuri itu keluar dan polisi kehilangan jejak. Sementara anak kecil tadi tumbuh dewasa seiring keinginnanya untuk balas dendam atas kematian sang ayah. Dia berhak menuntut balas atas kematian ayahnya. Bukankah ia berhak untuk melihat hukuman yang pantas terhadap pembunuh ayahnya. Secara prinsipil anak ini benar, namun ia tidak tahu bagaimana semestinya ia bertindak. Berangkatlah ia ke luar kota dengan prinsip bahwa ia berhak mencari keadilan dengan menuntut balas kematian ayahnya. Tatkala ia meminta visa bepergian ia berjanji akan menghormati keamanan di kota yang ia tuju. Ketika dia sampai di kota yang dimaksud segera ia bergegas mencari kesempatan. Ia ledakkan mobil yang bernomor seperti yang ia ingat sebelumnya. Kita semua sepakat bahwa ini adalah tindakan kriminal.

Episode pertama dari kisah pecinta lingkungan adalah salah. Kisah kedua tentang sepak terjang polisi adalah benar. Karena ia berlandaskan pada prinsip yang benar dengan cara yang benar pula karena memang ia seorang polisi. Serta berdasarkan hak yang benar untuk membela diri. Inilah prinsip Jihad dalam Islam. Dan inipula yang menjadi akar persoalan kita di Timur Tengah.

Episode kedua tentang anak yang meledakkan mobil hanya karena ia menemukan mobil bernomor sama dengan yang ia ingat dulu adalah salah. Inilah peristiwa yang patut disesalkan di Amerika. Kita semua sepakat bahwa mereka yang datang dengan perasaan dizalimi di sana dan melihat orang yang membunuh ayahnya di sana mengendarai mobil Amerika. Datang ke Amerika untuk meledakkan orang yang pertama kali ia jumpai. Maka dalam syariat Islam ia dianggap kriminal. Hal ini saya sampaikan bukan dalam rangka meluruskan pemahaman atau pembelaan terhadap Islam. Kita tidak bisa menerima pandangan yang mengatakan bahwa tujuan bisa menghalalkan segala cara. Pandangan semacam ini haram hukumnya dalam Islam. Misalnya mencuri, dalam Islam tetap haram meskipun dilakukan pada non-muslim. Demikian juga haram berbuat aniaya meskipn pada non-muslim.

Jihad dalam Islam

Kata Jihad dalam bahasa Arab berasal dari kata Juhd dan Jahd. Juhd artinya mengerahkan segala kemampuan walaupun harus kelelahan dalam rangka mencapai tujuan. Adapun Jahd berarti rasa lelah dalam mengerahkan kemampuan. Selengkapnya kata Juhd digunakan dalam bahasa Arab yang berarti mengerahkan segala kemampuan dan upaya optimal dalam melakukan suatu aktifitas di mana ada pihak yang menentangnya. Adapun dari tinjauan Syariat Islam ada dua tinjauan makna. Pertama, sebagai pengertian pokok dan kedua pengertian cabang. Dalam pengertian pokok Jihad adalah mengerahkan segenap kemampuan untuk menentang segala bentuk kejahatan apapun agar berubah menjadi kebaikan. Termasuk pengertian Jihad dalam syariat Islam adalah upaya seseorang memerangi nafsunya agar bebas dari sifat-sifat tercela hingga berubah menjadi sifat-sifat yang baik dan terpuji. Hal ini terkait dengan firman Allah SWT,

z`ƒÏ%©!$#ur (#r߉yg»y_ $uZŠÏù öNåk¨]tƒÏ‰öks]s9 $uZn=ç7ߙ 4 ¨bÎ)ur ©!$# yìyJs9 tûüÏZÅ¡ósßJø9$#

Artinya : Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) kami, benar- benar akan kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan kami. dan Sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik. (QS Al-Ankabut : 69)

Dalam syariat kami disebutkan bahwa seseorang yang memerangi nafsunya, menentang dan menghantamnya agar sifat baik mengungguli yang buruk maka ia akan memperoleh penghargaan dari Allah berupa terbukanya pintu makrifat bagi dirinya. Jihad jenis ini jelas pengertiannya yaitu merubah keburukan menjadi kebaikan tanpa menghukumi bentuk keburukan tersebut. Yang diperangi di sini adalah keburukan yang ada pada manusia, bukan manusia itu sendiri. Kita semua sepakat ini adalah hal yang terbaik yang harus dilakukan oleh seseorang dalam hidupnya. Memperbaiki keburukan pada dirinya dan juga keburukan pada orang lain.

Kalau begitu Jihad bukanlah suatu hal yang buruk jika difahami dengan metode yang benar. Kini lihatlah pengertian cabang (furu’) tentang Jihad. Dalam pengertian furu’ tentang Jihad berarti jika tidak mungkin meluruskan keburukan pada seseorang dan kejahatan terus mengakar bahkan berusaha menumpas kebaikan. Maka dalam situasi seperti ini kebaikan diperkenankan untuk menumpas keburukan berikut pelakunya dengan catatan harus ada rasa sesal dan terus berharap atau optimis.

Jika pelakunya terus berkeinginan menumpas kebaikan. Tidak mau berkompromi dan tidak merasa puas sekedar berbuat kejahatan saja tapi berusaha menumpas dan memerangi kebaikan, maka pada saat itu kebaikan diperkenankan menumpas keburukan tersebut walaupun penuh rasa sesal. Karena ia terus membangkang ingin menumpas kebaikan maka wajib keburukan tersebut di tumpas. Apakah ini berarti diperbolehkan membunuh si pelaku? Jika tidak ada cara lain selain membunuhnya, karena andai dibiarkan ia akan membunuh orang lain. Semisal dalam sebuah ruangan ada seorang rasialis masuk kemudian tepat di tengah pintu masuk ia mengeluarkan bom atau granat. Ia siap melepas pemicunya ke arah kerumunan orang di dalam ruangan itu. Karena jarak yang jauh mereka tidak mampu mencegah orang tersebut. Polisi pun tidak bisa mendekatinya karena memang ia masih jauh dari orang-orang. Dalam hitungan akan ada lebih 100 orang di ruangan itu yang akan terbunuh. Apakah anda berpendapat jika ada seorang polisi menembak orang tadi, maka polisi itu dianggap kriminal?

Kalau begitu kita sepakat bahwa ada situasi-situasi tertentu yang mana seorang pelaku kejahatan harus dibunuh jika kita tidak bisa mencegah kejahatannya terhadap orang lain. Tapi tentu tidak boleh semua orang yang ada mengambil tindakan seperti itu selama masih ada petugas keamanan yang berwenang. Karena bisa jadi bom itu hanya mainan. Hanya polisi yang bisa membedakan mana bom sungguhan dan yang mainan. Kita tidak bisa memvonis bahwa polisi itu salah karena membunuh orang tadi. Bahkan mungkin anda akan sepakat lebih dari itu. Justru merupakan kesalahan jika orang tadi dibiarkan hidup. Jika begitu kita semua juga sepakat atas prinsip ini. Bahwa dalam pengertian cabang ini seseorang dalam situasi responsif seperti itu harus membunuh. Apakah anda sepakat bahwa apa yang dilakukan oleh AS dan PBB dalam ragka memerangi rasisme murni merupakan tindakan yang benar? Mereka dengan mudah membunuh orang lain hanya semata –mata alasan ideology mereka. Lihatlah 250.000 orang dibunuh di Bosnia hanya karena mereka Muslim. Dan lebih dari 50.000 orang muslimah direnggut kehormatannya hanya karena mereka muslimah. Lebih dari 15.000 orang bayi sebagai hasil kekerasan seksual atau pemerkosaan di Bosnia. Jumah yang sama juga terbunuh di Kosovo. Apakah ada di antara kalian yang tidak setuju, jika AS digempur dengan pesawat-pesawat tempur? Untuk dihancurkan bala tentaranya ? Karena hanya sesaat mereka mengumumkan bahwa mereka menghentikan tindakan mereka maka otomatis peperangan berhenti. Tindakan ini jika ditambah satu syarat saja dalam Islam, maka ia bisa disebut dengan Jihad. Syarat yang semestinya ditambahkan adalah bahwa tujuan dari tindakan tersebut adalah mencari ridlo Allah dengan membela kebenaran.

Menurut Islam, tidak cukup hal itu dinamakan dengan Jihad. Karena ini masalahnya penumpahan darah, sementara penumpahan darah adalah masalah besar dalam Islam. Tindakan tadi yang sama-sama kita sepakati sebagai bentuk keadilan sampai saat ini belum terpenuhi syarat-syaratnya untuk dinamakan Jihad dalam Islam. Ini adalah penegakan keadilan dan kita semua sepakat akan hal itu. Namun sampai saat ini tidak bisa dikatakan Jihad menurut pandangan Islam. Karena menumpahkan darah termasuk dosa besar. Ada perdebatan di kalangan para sahabat Nabi SAW. Apakah sah atau tidak taubatnya pelaku pembunuhan yang dilakukan tanpa alasan yang hak. Para imam berbeda pendapat apakah taubatnya diterima atau tidak.

Karena itu apa yang terjadi walaupun dinamakan adil, belum bisa dinamakan Jihad dalam agama Islam. Karena bisa jadi saya melakukan tindakan pembelaaan terhadap kebenaran padahal di balik semua itu saya menyimpan kepentingan pribadi atau golongan. Bisa jadi saya melakukannya padahal ada kepentingan lain selain membela kebenaran. Yang saya maksud bukan peristiwa yang terjadi tadi. Tapi saya ingin mempertegas kaidah jika antara saya dan anda ada problem, kemudian saya lihat anda memukul seorang wanita yang tidak bersalah. Kemudian saya datang dan memukul anda dengan tujuan agar engkau jauh dari wanita itu. Walaupun tindakan ini dinamakan tindakan kepahlawanan, namun dalam Islam tidak diangap Jihad kecuali jika tujuan saya melakukan tindakan tersebut adalah membela kebenaran yang telah engkau dzalimi. Dalam Islam, jika aku datang kepadamu dan memukulmu untuk melampiaskan dendam yang dipicu oleh masalah diantara kita berdua maka dalam hal ini saya tidak dinilai sebagai seorang mujahid dalam Islam. Karena Jihad dalam agama Islam tidak hanya keadilan lahiriyah dan menegakkan aturan. Namun Jihad sejati dalam Islam adalah menegakkan keadilan nurani saat berinteraksi dengan Allah. Saat kami di LA, di salah satu universitas kami sampaikan kuliah bahwa Islam adalah agama damai.

Lihatlah ketika Sayyidina Ali dalam suatu peperangan ia mendapati musuhnya sudah kalah dan siap untuk dibunuh. Ketika Ali siap membunuhnya, si kafir tadi meludahi muka Ali. Yang terjadi bukannya dibunuh, bahkan Ali mengajak si kafir tadi bertanding sekali lagi. Sahabat lain yang melihat hal itu heran dan bertanya kepada Ali mengapa tidak langsung membunuhnya. Ali menjawab, aku tidak membunuhnya karena khawatir bukan karena Allah tapi karena amarahku sebab ia meludahi mukaku.

Apakah ada di antara kalian yang punya pandangan bahwa Jihad dalam perspektif ini merupakan suatu tindakan kriminal. Saya berharap adanya kesadaran dan objektifitas. Bahwa apa yang kita dengarkan sekarang menuntut agar mempelajari Islam dari sumber-sumber yang benar. Bukan dari musuh-musuh Islam dan media yang tidak terpercaya. Bahwa logika dan kebenaran akan menyatakan dan bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah dn Muhammad utusan Allah.

Kita memohon kepada Allah untuk kita semua kesempurnaan bimbingan taufiq. Ya Allah perlihatkan kami yang benar itu benar dan anugerahkan kami untuk bisa mengikutinya. Tunjukkan pula yang salah itu salah dan berikan kami kekuatan untuk menjauhinya. Ya Allah jadikan kami pembawa petunjuk dengan bimbingan hidayah-Mu. Bukan dari kalangan yang sesat dan menyesatkan. Damai dengan para kekasih-Mu, memerangi musuh-musuh-Mu, mencintai sesama manusia dengan cinta-Mu, memusuhi orang-orang yang menentangmu dengan permusuhan-Mu, ya Allah terimalah orang-orang yang saleh diantara kami dan perbaikilah orang yang tidak soleh diantara kami, dan bebaskan kami dari orang-orang yang tidak ada kebaikan bagi kami, sungguh Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu.

Kaidah-kaidah Jihad telah diterangkan. Jika kita mendapatkan sarana informasi yang benar dan akurat tidak sekedar dari media yang tidak jelas, maka kita bisa cocokkan realitas kebenaran yang kita dapati dengan kaidah yang sudah diterangkan. Kita yakin bahwa Palestina dijajah dan dizalimi, manusia mana saja di permukaan bumi ini yang tidak mati rasa kemanusiaannya dan mencermati kebenaran yang sesungguhnya dia akan mengerti apa yang sebenarnya terjadi di Palestina hari ini merupakan tindak kejahatan terbesar di abad ini.

Hendaknya kita mencari kebenaran dari sumber yang akurat dan benar bukan sekedar dari media saja. Untuk kemudian mereka (non-muslim) bandingkan dengan berbagai kaidah bukan yang saya paparkan tadi. Meski mereka juga sepakat dengan kaidah tersebut. Bandingkan dengan kaidah selain yang saya paparkan tadi. Namun saya harapkan dibandingkan dengan kaidah yang disepakat oleh seluruh umat manusia yaitu kemanusiaan.

Dengan berdoa dan merintih kepada Allah siang dan malam, semoga Allah menolong yang benar, mengembalikan hak-hak orang yang terdzalimi dan mengusir orang yang zalim. Saya berharap dari anda semua, dari agama apapun untuk berdoa setiap malam, walau sekali dengan hati yng khudlur.

Meski agama saya berbeda dengan agama anda, namun saya ingin berikan kesimpulan tentang kebenaran di sini yang bersentuhan dengan saya di negeri anda. Bahwa seorang Amerika yang tidak terpengaruh dengan propaganda negatif sangat saya hormati. Karena ia secara jantan berani mengakui kebenaran jika telah jelas dihadapannya. Mayoritas yang saya jumpai dari kalian meski non-muslim, tidak ada satupun belenggu ataupun motif yang menghalangi mereka untuk mengikuti kebenaran jika mereka sudah mengetahui kebenaran tersebut. Ini merupakan kesaksian yang akan saya berikan di hadapan Allah SWT. Namun saya berharap kepada kalian, agar sifat mulia ini—yang dimiliki oleh kebanyakan bangsa–membuahkan  upaya pelurusan terhadap hubungan dengan Allah sebagaimana mestinya melalui metode yang benar. Saya harap muslimin yang hadir disini tidak risih dengan pernyataan saya karena agama kita memerintahkan untuk menyampaikan kebenaran.

Dan kalian (maksudnya Amerika) sekarang berada dalam satu komunitas kekuatan besar yang Allah tampilkan di masa ini, siapapun yang memilki sifat ini akan berakhir nasibnya menjadi salah satu dari dua orang berikut ini, tidak ada pilihan lain. Pertama, ia bertakwa kepada Allah dan bersikap baik kepada-Nya, atau yang sangat disayangkan ia melampaui batas, tanpa ia sadari menganiaya kaum yang lemah. Saya yakin bahwa yang hadir saat ini tidak akan rela kecuali menjadi kelompok yang pertama. M. Nawawi (Disarikan dari VCD “This is Jihad”/Ceramah Habib Ali Al-Jufri dii Universitas San Diego).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

RSS
Telegram
WhatsApp