ULAMA SEBAGAI PEMERSATU UMMAT

Ceramah al Habib Umar bin Muhammad bin Salim bin Syekh Abu Bakar bin Salim

Inilah jaman yang menjadi kekhawatiran Rasulullah SAW, 1400 tahun yang lalu. Jaman dimana kemaksiatan sudah tidak lagi perlu sembunyi. Umat Islam seperti buih di lautan, jumlah mereka banyak tapi selalu menjadi bulan-bulanan kegilaan jaman. Bukankan ditengah umat ada ulama-ulama yang menjadi pewaris Nabi ?

Benar, ditengah umat ada banyak ulama. Tapi sebagian dari mereka mengambil sikap acuh tak acuh. Bahkan menganggap hal itu bukanlah suatu musibah yang perlu ditakutkan. Inilah jaman dimana perlu penyikapan yang berbeda dan lebih kongkrit. Habib Umar bin Muhammad bin Salim bin Syekh Abu Bakar bin Salim menerangkan kepada kita tentang tugas-tugas yang harus dilakukan oleh setiap muslim, khususnya para ulama’.

Alhamdulillah Allah telah mempertemukan kita demi satu tugas terpenting  yakni berdakwa ke jalan Allah. Syahadat adalah sebuah kesaksian yang direguk kesegarannya oleh para ahli ma’rifah hingga membuat mereka jatuh dalam pesona cinta Allah. Mereka juga bersungguh-sungguh menepati janji mereka kepada Allah. Kesaksian yang menjadi penyelamat di hari perjumpaan denganNya. Sebuah kesaksian yang mengokohkan tekad kesungguhan kepada Allah SWT.

Aku bersaksi bahwa Nabi Muhammad adalah utusan dan manusia pilihanNya. Wahai Allah limpahkan sholawat dan salamMu kepada baginda Muhammad SAW. Beliau seorang yang teguh pendirian, penyabar selalu berjihad di jalanNya. Demi membelaMu ia rela dahaga, lapar, dipukuli bahkan terluka pelipisnya. Patah gigi gerahamnya , tersobek bibirnya, dilempari punggungnya dengan kotoran onta. Mengalir darah dan air mata, tak berhenti bejruang sampai ajal menjelang. Beliau tinggalkan kita di jalan yang cemerlang. Yang malamnya laksana siang. Takkan ada yang tergelincir kecuali mereka yang benar-benar binasa. Maka limpahkan kepada beliau ya Allah, segala sholawat dan salam.

Sehubungan dengan tugas kita pada pertemuan ini, seharusnya hati kita betul-betul tertuju kepada Allah. Memiliki perhatian yang besar terhadap misi yang telah disampaikan oleh Rasul-Nya. Sungguh kita pasti akan ditanya oleh Allah tentang tugas ini. Apa niat kita? Apa visi kita? Apa keinginan kita? Apa tujuan kita? Apa yang akan kita lakukan setelah ini? Bagaimana pula kita menjalani kehidupan ini?

Sungguh bahagia mereka yang mempersiapkan jawaban saat menghadapi pertanyaan Allah dan bersiap untuk memutihkan wajahnya saat berjumpa denganNya. Dimana ada wajah yang putih berseri dan ada wajah yang hitam muram. Adapun orang yang putih berseri mukanya, maka mereka berada di dalam rahmat Allah: mereka kekal di dalamnya.”Wahai Allah jadikanlah kami golongan mereka. Jangan Engkau permalukan kami duhai Allah dengan dosa-dosa kami dihadapan persidangan hari kiamat. Berikanlah maaf-Mu terhadap apa yang kami lakukan dari perbuatan haram. Kasihanilah kami dengan kemuliaan al-Qur’an saat menghadap-Mu. Mantapkanlah kaki kami saat menelusuri goncangan diatas jahannam dengan kemuliaan al-Qur’an. Selamatkanlah diri kami dari keresahan di hari kiamat. Putihkan wajah kami dengan al-Qur’an saat wajah-wajah ahli maksiat berubah menjadi hitam.

Amanat yang besar, janji yang agung dan perjanjian yang kuat ada diantara setiap kita dan Allah SWT. Kedatangan kami saat ini dan kedatangan kalian dari tempat-tempat jauh yang menuntunnya adalah bentuk tanggungjawab terhadap pertanyaan Allah yang mempertanyakan perjanjian antara kita dengan-Nya. Untuk saling menolong, saling mendukung dan membela. Agar ada kesungguhan dan penetapan terhadap janji kepada Allah. Juga berpandangan baik terhadap hal-hal yang diridhoi Allah, agar kita bebas dari topeng kemuliaan kita menuju hakikat kemuliaan sejati.

Menuju inti taqwa, yaitu “Ihsan” dengan jenjang tangga Islam dan iman agar kita hidup di dunia ini berani memikul tuntunan adab Nabi Muhammad SAW. Dan sifat kesungguhan dan keberanian ini tidak terpatahkan oleh tujuan dan motivasi duniawi. Tidak pula terperdaya dengan urusan-urusan yang fana dan berbagai urusan yang bisa memutuskan hubungan makhluk dengan Allah. Hingga terhenti dari menggapai kedudukan yang tinggi di sisi Allah.

Wahai saudara-saudaraku yang tercinta. Begitu cepatnya kita berlalu dari dunia ini, beberapa tahun kemudian, banyak diantara kita yang berpulang ke rahmatullah. Semua kita telah menghadap untuk melihat apa yang telah kita lakukan. Saya pernah bertemu dengan seorang ulama Syam. Tatkala saya minta ijazah, bercucuran air matanya seraya berkata, “ilmu-ilmu kami ini, berikut amalan dan ijazah kami semuanya telah lenyap, habis, terkecuali yang memang tulus karena Allah. Selain itu, tidak akan ada yang berguna, takkan ada yang tersisa terkecuali yang mendapat sentuhan rahmat hingga diterima oleh Allah SWT.” Tak lama kemudian beliau meninggal, sungguh benar apa yang beliau ucapkan. Ingatlah! hanya milik Allah-lah agama yang bersih. Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam agama yang lurus, dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat. Sebagai ulama harusnya berperan sebagai perantara antara makhluk dengan Allah.

Orang awam bertanya padamu tentang hukum, mereka mengikuti ulama baik dari segi ucapan dan tindakan. Mereka merujuk kepada ulama tentang fatwa-fatwa hukum dan agama. Mereka beramal sesuai yang ulama fahami dan mereka lihat dari ulama. Mereka mempertaruhkan agama mereka dengan apa yang saksikan dari ulama mereka. Dengan apa yang mereka dengar dari para ulama. Juga dari apa yang mereka saksikan dari interaksi dan prilaku sosial mereka. Untuk kemudian mereka para ulama menjadi penanggung jawab dihadapan Allah. Jika setiap individu dari ummat ini ditanya saat berjumpa dengan Allah SWT kenapa engkau lakukan hal ini? Atau bagaimana engkau lakukan hal ini? Mereka menjawab “Ulama di negeriku telah melakukan hal serupa. Dari sinilah aku tahu bahwa ini merupakan bagian dari agama-Mu”. Ia bakal ditanya tentang apa yang ia perbuat, demikian juga ulama yang menjadi teladan prilaku mereka, bagaimana ia bisa diteladani dalam urusan tersebut. Apakah ini aqidah dalam ajaran Allah? Apakah ini akan di ridloi oleh Allah? Apakah ini yang diinginkan Allah agar dilakukan oleh makhlukNya? Apakah ini yang menjadi landasan Allah mengutus rasul-Nya? Apakah hal ini menggembirakan hati Nabi Muhammad SAW?

Inilah tanggung jawab para ulama yang hari ini kita berjumpa untuk saling mengingatkan tentang kenyataan yang terjadi. Ulama di Indonesia, berada dalam negeri yang mendapat kemuliaan dengan cahaya Islam semenjak 8 abad yang lalu. Dan masuknya Islam melalui perjuangan para keluarga Nabi SAW dan orang-orang yang mencintai mereka. Hingga Islam berkembang dengan madzab dan manhaj yang benar dan lurus. Dalam urusan aqidah mengikuti ahlus sunnah wal jamaah yang populer dalam dunia Islam dengan pandangan Asy’ariyah yang berarti mengikuti pandangan Imam Abu Hasan  al-Asy’ary yang merupakan cucu dari seorang sahabat yaitu Abu Musa Al-Asy’ary. Sementara dalam bidang hukum fiqih mengikuti madzab Imam Muhamamd bin Idris Syafi’i. Beliau adalah seorang cucu dari sahabat Imam Syafi’i bin Saa’ib. Ia merupakan madzab yang tersebar luas dari timur hingga barat dikalangan Ahlu Sunnah Wal Jamaah. Madzab Imam Abu Hanifah, madzab Imam Malik bin Anas Imam kota Madinah dan juga Imam Ahmad bin Hambal. Para Imam ini sudah teruji sifat taqwa, zuhud dan wara’nya. Mereka mempelajari ilmu dengan sanad dari pembesar ulama sampai Nabi Muhammad SAW.

Termasuk nikmat yang besar yang telah dilimpahkan Allah ke negeri ini adalah keberadaan ulama yang bermadzab Syafi’i dalam urusan fiqih, serta faham ahlu sunnah wal jamaah dalam urusan aqidah. Al-Imam Haddad menyinggung hal ini dalam syairnya “jadilah pengikut Imam Asy’ary dalam urusan aqidah yang berpegang dengan tuntunan yang murni bersih dari kesesatan dan kekufuran.”

Ulama’ Umat Muhammad SAW

Tugas ulama umat Muhammad SAW. demikian berat. Mereka tidak hanya mulia di tengah kaumnya, namun mereka setingkat dengan para Nabi Bani Israil. Seperti halnya keberadaan Hujjatul Islam Imam Ghazali. Al-Imam Haddad berkomentar, “Ciri ulama akhirat adalah gemarnya mereka membaca kitab-kitab al-Ghazali. Dan ciri ulama dunia adalah ketidaksukaan mereka pada kitab beliau. Beliau menyingkap tabir antara ulama dunia dan ulama akhirat. Terbongkarlah aib ulama dunia hingga mereka tidak suka membacanya. Namun bagi mereka yang bersungguh-sungguh kembali ke jalan Allah. Dan dengan kitab Ihya hiduplah hati kita, tersingkap duka nestapa kami dengan kitab tersebut.” Imam an-Nawawy berkata,”Hampir saja kitab Ihya menjadi al-Qur’an.

Imam as-Sadzili bermimpi bahwasanya beliau dan para nabi berada di baitul maqdis. Rasulullah duduk di kursi yang tinggi sementara nabi di sekeliling beliau. Dalam mimpi tersebut beliau melihat Nabi Musa bertanya kepada Rasulullah SAW. Wahai Rasulullah kau pernah bersabda, “Ulama umatku adalah seperti nabi dari kalangan Bani Israil? “Benar”, jawab Rasulullah.” Apa ada satu dari umatmu yang seperti kami, para Nabi Bani Israil?” Maka Rasulullah memanggil Imam Ghazali. Tatkala beliau datang Rasul berkata kepada Nabi Musa dan Nabi Isa,”Inilah salah satu ulama dari ummatku. Nabi Musa menoleh ke arah Imam Ghazali dan bertanya, “Siapakah namamu wahai Imam ?”. Imam Ghazali menjawab, “Aku muhammad bin Muhammad bin Muhammad al-Ghazaly. “Ya Imam aku hanya menanyakan siapa namamu, kau malah menjawab namamu, nama ayahmu, nama kakekmu, kakek ayahmu bahkan sukumu dan negerimu?  Imam Ghazali memandang Rasulullah, “Wahai Rasulullah apakah aku boleh menjawab Nabi Musa atau aku diam saja karena menghormatinya? Jawablah! seru Rasulullah. “Wahai Kalimullah, tatkala Allah bertanya padamu, “Apakah itu yang ada di tangan kananmu wahai Musa?” Engkau menjawab, ”Ini adalah tongkatku, aku bertumpu padanya, dan aku pukul dengannya untuk kambingku, dan bagiku ada lagi keperluan yang lain padanya” Padahal Allah hanya bertanya apa yang ada di tangan kananmu. Engkau malah menjelaskan dengan panjang lebar, padahal Allah Maha Mengetahui segala hal yang ghaib. Nabi Musa kagum dengan jawaban Imam Al-Ghazaly dan berkata, “Sungguh benar apa yang engkau ucapkan ya Rasulullah. Ulama ummatmu seperti nabi dikalangan kami.” Nabi Muhammad bertanya kepada Nabi Musa dan Nabi Isa apakah ada dari umatmu yang alim seperti dia. Tidak ada, jawabnya berdua.

Karena itulah kitab mereka menjadi kitab obat untuk hati, penyuci aib-aib diri dan sebagai penyambung dengan Allah. Sekaligus sebagai benteng dari kejahatan nafsu dan syetan beserta seluruh pasukannya dari jin dan manusia. Seperti kitab karangan Habib Abdullah bin Alwy al-Haddad, Imam Abdul Wahhab al-Sya’rony dan Imam Ibnu Athoillah al-Askandary. Kitab-kitab tersebut sangat bermanfaat bagi hati. Saat ini telah diterjemahkan ke dalam bahasa melayu di Singapura kitab Da’watut Tammah wa Tadzkiratul Amanah, dan akan disebarluaskan ke pesantren-pesantren. Kitab ini berisi tentang apa-apa yang kita butuhkan pada jaman sekarang. Hal-hal yang selama ini hilang dari kita berupa rahasia ilmu, tarbiyah, tazkiyatun Nafs. Penulis kitab ini menulis pada pengantarnya tentang wajib dan pentingnya dakwah dan keharusan untuk menunaikanya. Serta tugas semua orang dalam dakwah dengan penjelasan yang sangat jelas dan memuaskan.

Misi mulia ini hilang pada mayoritas negeri umat Islam. Jadilah tujuan mereka semata-mata kulit luar dan teks ilmu tanpa ada ruh dan kesejatiannya. Tidak nampak pada mereka kesan (atsar) dari ilmu tersebut. Tidak pula pada perilaku dan kehidupan sosial mereka, ataupun pada rasa izzah (mulia) mereka dengan Allah SWT dan Rasul-Nya. Maka seharusnyalah kita merevisi kembali proses belajar mengajar disertai dengan niat mengamalkan, menerapkan, membina dan mensucikan diri. Karenanya para sahabat berkata, “Kami lebih dulu belajar keimanan sebelum ilmu. Dan kami berlomba-lomba untuk beramal. Jika salah seorang dari mereka mengetahui sesuatu dari Al-Qur’an, maka ia berhenti sejenak sampai ia betul-betul memahaminya dan mengamalkannya, baru kemudian melanjutkannya. Karenanya mereka begitu cepat melesat dalam derajat. Lihat mereka, ruku’ dan sujud mengharapkan keutamaan dan ridla Allah. Beribadat di waktu-waktu malam dengan sujud dan berdiri, takut kepada akhirat dan mengharapkan rahmat Tuhannya? Katakanlah, “Apakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?” Merekalah yang beribadah dengan khusyu’.

Karenanya al-Imam Abdullah bin Husin bin Thohir mengomentari firman Allah  Sesungguhnya yang takut kepada Allah diantara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama. Ilmu itu sejatinya adalah totalitas rasa takut pada Allah. Ilmu itu akan menjadi cemerlang dengan amal dan perilaku, bukan dengan sekedar beretorika atau pandai berbantah-bantahan. Dikisahkan bahwa seorang murid Imam al-Haddad yang bergelar ‘Allamatud Dunia” bernama Habib Abdurrahman bin Abdullah Bilfaqih, saat beliau pergi haji, pada usia 36 th. Para ulama Makkah meminta ijazah dari beliau dan berkenan memberikan sanad ilmu pada mereka, namun beliau menolak dengan halus seraya berkata: “Ini adalah kota Makkah, negeri yang suci, tempat turunnya wahyu dan ilmu, kami datang untuk mengambil manfaat dan mencari barokah bukan mengajari atau memberi ijazah. Beliau kemudian mengeluarkan syair, “Satu hal yang aneh, jika menghadiahkan korma pada penduduk Khaibar dan mengajari Zaid tentang ilmu Faraid.” Zaid adalah orang yang paling mengerti ilmu faraid, apakah pantas kita mengajarinya?  Sementara Khaibar adalah lumbung kurma terbaik, apakah layak kita menghadiahkan kurma untuknya?   Sementara semua orang mengambil kurma yang terbaik dari Khaibar. Saat beliau pulang ke Hadramaut, mereka tetap meminta ijazah dalam bentuk tulisan dan surat menyurat.  

Beliau juga menyebutkan tanda-tanda ulama yang betul-betul mengenal Allah “Ulama akhirat”. yaitu:

Jika mereka dilihat, segera bergemuruh dzikrullah

Saat melihat mereka, engkau segera mengingat Allah

Jika mereka dilihat, segera bergemuruh dzikrullah

Membekas pengaruh dzikir tersebut di dahi mereka. Dikenal hakekat mereka tanpa ada keraguan.

Sebagaimana pula dikenal Allah Sang Pemilik Kemuliaan. Ketaqwaan yang mereka miliki merupakan perhiasan yang paling berharga.

Turun ketentraman saat berjumpa mereka. Keadaan orang-orang yang hanya mengaku berbeda.

Dengan cahaya Furqon dapat dirasakan, bukan dengan ketinggian pangkat ataupun perkara yang menakjubkan

Bukan pula dengan kepandaian beretorika dan  bicara. Sungguh mereka adalah setiap orang yang suka kembali pada Allah dan khusyu’.

Memiliki hati yang terang cemerlang. Bukan orang yang ditunjuk sebagai orang besar

Namun kosong dari rahasia yang terjaga.

Dia bukan orang yang sering ditunjuk orang banyak, padahal dia kosong dari sirr ittiba’ dan sirr akhlak dengan Allah SWT. Tidak pernah merasakan manisnya iman. Allah berfirman kepada Nabi Daud a.s.: “Wahai Daud sesungguhnya paling rendah siksa yang Aku timpakan pada seorang alim jika ia lebih mengedepankan syahwatnya daripada cinta-Ku. Akan Kuharamkan ia merasakan kelezatan bermunajah dengan-Ku. Tak akan ia rasakan kelezatan bermunajah sampai habis waktunya, sementara ia tak pernah dekat dengan Allah karena ia lebih mengedepankan syahwatnya lebih dari Mahabbatullah”.

Oleh karena itulah, kita harus segera kembali menempuh jalan yang benar dengan semangat yang tinggi. Untuk melumpuhkan upaya pengrusakan dan penyesatan yang diarahkan oleh para syaitan manusia dan jin serta orang-orang kafir di permukaan bumi ini. Saat ini mereka berupaya dengan segala daya upaya, dengan berbagai media & sarana untuk menghancurkan umat Islam. Cara paling efektif yang mereka tempuh adalah dengan melumpuhkan kekuatan ulama Islam. Jika mereka telah lemah dan goyah maka porak-porandalah kekuatan umat di seluruh penjuru negeri. Mereka tahu persis dan yakin betul dengan cara ini. Mereka telah berbuat dan berupaya bahkan kesungguhan mereka luar biasa dengan menyebarkan tontonan yang melalaikan, foto-foto yang mengumbar aurat dan kata-kata keji dalam rangka merusak moral dengan menebar kedurhakaan dan penentangan.

Namun target utamanya sesungguhnya adalah bagaimana mengalihkan perhatian para ulama, yang tadinya mereka seharusnya bersungguh-sungguh menggapai Ikhlas untuk Allah, tapi kemudian berubah haluan, ikut tenggelam dalam kancah pergulatan politik dan mengejar dunia yang fana. Hingga akhirnya tanpa sadar lenyaplah kewibawaan mereka, luluhlah kemuliaan mereka hingga terbentuklah kubu-kubu yang berbeda,  bertentangan, dan  bermusuhan. Syariat Allah berubah menjadi permainan yang dilempar kesana kemari, tergantung kepentingan ambisi kehidupan, ambisi politik kekuasaan. Lalu terjadilah pergeseran nilai, yang tadinya seorang da’i menyeru ke jalan Allah maka jadilah ia da’i partai, da’i kepentingan kelompok, da’i logika dan pemikirannya. Lenyaplah da’i sejati yang hanya menyeru ke jalan Allah. Masing-masing hanya menyeru pada pemikirannya, partainya. Kemana da’i Ila Allah? Dai illa Allah telah lenyap, hilang. Yang ada hanya da’i partai, da’i kepentingan kelompok, tidak ada da’i illa Allah. Inilah musibah yang menghantam umat Islam, musibah kaum muslimin.

Lihatlah jejak Wali Songo yang demikian ikhlas dalam berjuang. Mereka sangat santun, tunduk dan sungguh-sungguh kepada Allah, derajat mereka sangat tinggi mengungguli derajat yang lain. Orang–orang yang bergerak dalam bisnis, pemerintahan bahkan yang berselisih dimana mereka ada di tengah masyarakat, semuanya mendapat pengayoman, pengajaran dan arahan yang membangun dari Wali Songo. Salah seorang dari Wali Songo, ketika menikahi salah seorang putri raja, sedang sang raja   tidak mempunyai seorangpun anak laki-laki, maka ia menginginkan mantunya tersebut untuk menjadi penggantinya, namun ia menolak seraya mengatakan: “Saya datang ke Indonesia bukan untuk ini. Saya datang ke Indonesia untuk menyampaikan orang pada Allah, untuk menyelamatkan manusia dari neraka ke surga, dari kekufuran menuju Islam, dari keburukan menuju kebajikan, dari kegelapan menuju cahaya, ini tugasku!. Tugasku bukan mencari jabatan.”. “Engkau bisa memerintah dengan menegakkan syariat”, tawar sang raja. “Tidak. Biar raja yang memerintah, aku yang akan membimbing. Jika raja menegakkan kebaikan, aku akan dukung. Namun jika melenceng, akan kutolak”. Beliau tidak rela menerima kekuasaan tersebut sampai pada akhirnya situasi mengkondisikan beliau dan menjadikan putranya sebagai khalifah.

(bersambung pada edisi bulan depan)

Muhammad Nawawi, disarikan dari ceramah

Habib Umar bin Muhammad bin Salim

bin Syekh Abu Bakar bin Salim

Pada Temu Silaturrahmi bersama

Alim Ulama di Madura dan Lombok,

Muharram 1426 H. Grafis Medina Studio 1426 H

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

RSS
Telegram
WhatsApp