JIL DAN PERMASALAHANNYA

Wawancara Dengan KH. Idris Chamid, pengasuh Ponpes Salafiyah

Beberapa tahun terakhir umat muslim Indonesia dikejutkan  kehadiran “faham” atau penafsiran salah terhadap Islam. “Faham” itu sengaja dihembuskan oleh pihak-pihak yang pada hakekatnya berencana menghancurkan Islam, meski mereka mengklaim kelompoknya sebagai pembaharu dan pemikir Islam reformis.

Kini, untuk memperluas jangkauan penyebaran visi dan misinya kelompok yang menamakan dirinya Jaringan Islam Liberal (JIL) itu telah memanfaatkan media informasi dan komunikasi, diantaranya penerbitan buku-buku, melakukan seminar dan diskusi, talk show di radio, memproduksi iklan layanan masyarakat, bahkan membuka website, yang mudah diakses semua kalangan. Berbahaya sekali!

Ironisnya, kelompok itu dinahkodai oleh salah seorang tokoh ormas Islam terbesar di negeri berpenduduk muslim terbanyak di dunia ini. Padahal, tokoh tersebut berbasic pendidikan diniyah dari sebuah pesantren salafiyah.

Mengapa ini bisa terjadi, apa sebenarnya agenda mereka, dan seberapa jauh dampaknya terhadap kehidupan keagamaan muslimin di Indonesia?. Coba kita ikuti pendapat KH. Idris Chamid, pengasuh Ponpes Salafiyah dan Rois Syuriyah NU Kota Pasuruan, ketika reporter Djoko Sujanto mewawancarainya, berikut ini.

Kyai, kita telah kebobolan faham JIL yang menyesatkan, dan kini faham itu kian menyebar. Sayangnya, otak penyebaran sekaligus pimpinan jaringan itu justru salah seorang tokoh teras NU.  Mengapa bisa terjadi?

Terus terang saya belum berani berkomentar tentang hal ini, khawatir salah. Sebab, saya belum tahu persis apakah JIL di Indonesia ada atau tidak. Secara organisatoris tidak jelas, apalagi sampai ke tingkat bawah kayaknya tidak ada. Dalam tulisan-tulisan mereka yang sering dirilis di beberapa media, mereka menyebut kelompoknya sebagai Kajian Utan Kayu.

Apakah JIL itu sebuah LSM atau bukan saya juga tidak mengerti. Tapi, kiprahnya memang bisa kita rasakan. Barangkali kita bisa mencoba mengunjungi situsnya di internet, agar mendapatkan referensi atau gambaran tentangnya.

Kedua, saya yang mengenal salah satu personil kelompok itu juga belum bisa mendapatkan informasi secara jelas tentang keberadaannya. Dari kawan saya itu juga saya mencoba mengorek informasi, saya pancing-pancing dia, tapi dia tidak mengaku kalau dia anggota JIL. Jadi kalau kita bicara tentang JIL menurut saya sementara ini yang penting adalah berupaya keras untuk mewaspadai aktifitasnya.

Nah, barangkali tahu aktifitas JIL selama ini, bisa disebutkan Kyai.

Saya punya kumpulan tulisan orang yang disebut-sebut sebagai koordinator JIL. Dari sana bisa kita simpulkan, bahwa JIL memiliki program dan kegiatan yang amat merugikan Islam dan muslimin. Mereka sering mengeluarkan pernyataan atau penafsiran terhadap Islam sesuai dengan kemauan mereka. Tidak peduli apakah itu sesuai dengan Al Qur’an dan Hadits, atau tidak. Kalau saya bisa menyatakan penafsiran dan pernyataan itu amat sering kontoversial dan amat bertentangan dengan syariat Islam.

Misalnya, ada pernyataan yang menyebutkan kedudukan wanita sama dengan pria, yang kita kenal dengan istilah kesetaraan gender. Kemudian, menganggap semua agama itu benar, artinya menyamaratakan agama. Ini kan berarti melecehkan Islam yang telah disebutkan dalam Al Qur’an sebagai satu-satunya agama yang sah dan benar di sisi Allah SWT. Dan, masih banyak lagi pernyataan yang menyesakkan dada kaum muslimin. Kalau tidak kita waspadai bisa jadi banyak umat Islam termakan oleh pernyataan-pernyataan sesat itu.

Maaf Kyai, saya mengulang pertanyaan mengapa justru tokoh teras NU yang kebobolan faham sesat itu?. Padahal salah satu fungsi didirikan NU adalah mengamankan akidah Islamiyah.

Lha, tentang bisa menerobos PBNU saya juga tidak tahu ceritanya. Mungkin karena tokoh itu berkecimpung bahkan menjadi ketua di Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (Lakpesdam) NU Jakarta, memiliki kemampuan berpikir dan wacana yang luas. Sehingga (ini perkiraan saya lho) begitu muncul wacana baru yang menurutnya pas untuk Islam, langsung diadopsi, meski ternyata malah tidak sinkron dengan syariat. Lagi pula dia kan berada di Jakarta yang kebanyakan warga penghuni ibu kota itu berpikiran global.

Tapi, kalau su’udzon saya terhadap gerakan JIL, lepas dari siapa yang menjadi sasaran utama penyebaran fahamnya, apakah itu tokoh NU atau lembaga keislaman lainnya, gerakan tersebut jelas merupakan bukti kebenaran ayat wa lan tardla anka al yahudu wa lan nashara hatta tattabi’a millatahum.

Kita tahu, pasca “Perang Salib”, orang-orang Yahudi dan Nasrani mengubah strateginya untuk memerangi orang Islam. Mereka memahami betul bahwa untuk mengalahkan Islam tidak bisa hanya mengandalkan kekuatan senjata, tapi juga harus merusak pengikutnya, melalui penggerogotan akidah agamanya. Jadi Islam mereka setting menjadi dua sisi untuk memudahkan penghancurannya.

Perang tetap mereka lakukan sebagai kelanjutan Perang Salib, salah satu contoh konkretnya penghancuran Irak. Di bagian lain peningkatan frekuensi penyebaran statement-statement yang diharapkan mampu membuat gamang muslimin terhadap akidah agamanya sendiri. Kita harus waspada, meski perang salib telah usai, namun perang agama belum berakhir.

Bagaimana cara mereka mengembangkan strategi itu ?

Yahudi dan Nasrani internasional beserta negara-negara orientalis anti Islam, dikomando Amerika Serikat mendirikan LSM untuk penghancuran Islam. Kemudian, mereka mendirikan dan mendanai LSM di berbagai negara Islam atau negara berpenduduk mayoritas muslim, termasuk Indonesia, dengan tujuan sama.

Keuangan bukan masalah bagi mereka. Negara-negara anti Islam itu rata-rata kaya. Dana untuk itu milyaran rupiah. Jadi, kalau kita ingin mendapatkan duit banyak dari mereka, dirikan LSM sesuai kemauan mereka, sampai harus anti Islam.

Wakila (konon, Red) Kajian Utan Kayu dan para tokoh JIL Indonesia setiap bulan mendapat pasokan uang puluhan juta rupiah dari mereka, tanpa melakukan tugas apa-apa. Bayangkan nganggur dapat gaji banyak. Padahal di sini mencari uang satu juta saja sulitnya bukan main.

Jika demikian berarti keberadaan JIL sudah lama ?

Benar, JIL ada sejak dulu, tapi itu JIL internasional yang muncul sejak sekitar puluhan tahun lalu. Tapi, di Indonesia keberadaan jaringan itu merupakan barang baru. Sekitar tahun 80-an, ketika saya masih studi di Arab Saudi jaringan semacam itu sudah ada. Mereka bergerak tanpa identitas kelompok. Mereka hanya mengeluarkan pendapat-pendapat atau pernyataan.

Misalnya, Toha Husein, salah seorang tokoh Mesir hafal Al Qur’an dan pernah menjadi menteri pendidikan. Dia mengatakan Al Qur’an itu buatan Muhammad, dan harus diubah total. Bahkan dia menyatakan Mesir bukan negara Arab. Begitu ingkar terhadap Islam, sampai dia anti terhadap sesuatu yang berbau Arab. Karena Arab merupakan tempat kelahiran Rasulullah SAW dan dianggap menjadi cikal bakal perkembangan Islam.       Ketika itu banyak tokoh Islam golongan salafiyah mengingatkannya, Perguruan tinggi Al Azhar pun marah, namun tidak pernah digubris. Jadi, JIL itu ternyata kumpulan orang-orang Islam yang berpendapat miring, bahkan anti terhadap agamanya sendiri. Pernyataannya terhadap Islam justru lebih buruk dibandingkan orang kafir.

Menurut Kyai, seberapa jauh pengaruh JIL terhadap kehidupan muslim di Indonesia, hingga pada tataran paling bawah.

JIL itu jauh dari masyarakat bawah. Andai memasuki masyarakat bawah pun sulit dipahami, karena terlalu intelektual. Cuma bahayanya, jika tidak dibendung kemudian ada agen-agennya di daerah, lambat laut masyarakat pada tataran akar rumput itu dikhawatirkan termakan, meski membutuhkan waktu lama.

Selama ini yang berlangsung di kalangan muslimin awam adalah pernyataan miring sesama muslim. Misalnya, ada yang menyatakan, Islam itu agama orang Arab, kita selama ini dibohongi, mengapa harus kita ikuti. Itu tidak ada hubungannya dengan JIL, sejak dulu ada. Pernyataan itu sebagai wujud kebodohan mereka dan pembenaran perilaku mereka sebagai orang Islam yang tidak menjalankan syariat agamanya sendiri. Rupanya mereka sudah enjoy dengan hidup demikian. Makanya dia sering ngomong sekehendak hatinya.

Tapi untuk kalangan atas JIL tetap menggeliat dan aktif “bermain”, terutama di kalangan perguruan tinggi. Di IAIN saat ini tengah berlangsung “pertempuran” antara kelompok mahasiswa yang telah terkontaminasi faham JIL dengan mahasiswa yang masih kuat akidah Islamnya. Mahasiswa IAIN yang anti JIL kebanyakan memiliki dasar pendidikan agama kuat, terutama berbasic pendidikan pesantren, yang sejak semula menolak kehadiran JIL di kampusnya.

Kalau begitu bagaimana upaya kita membekali umat ini agar mampu terhindar dari pengaruh JIL?

Sebaiknya kita sering memberikan wacana dan wawasan keilmuan kepada masyarakat tentang akidah Islam yang benar. Sebab, saya amati umat muslim di Indonesia gampang goyah akidahnya, mudah terpengaruh dan diperdaya isu yang sedang berkembang, atau oleh pengaruh-pengaruh orang-orang kharismatik. Namun itu biasanya sesaat, kemudian hilang dan muncul lagi.

Sebagai pengurus NU yang memiliki umat terbesar di kalangan bawah, pada acara-acara resmi saya menjelaskan tujuan pendirian NU. KH Hasyim Asyari mendirikan NU untuk mengamankan akidah Islamiyah, mengamankan syariat Islam dan mengamankan akhlaqul karimah. Penjelasan itu untuk membentengi umat dari pengaruh gerakan semacam JIL. Apalagi pada masyarakat bawah rentan goyah akidahnya.

Selain pernyataan JIL, selama ini di kalangan orang Jawa masih ada ajakan untuk kembali ke agama atau kepercayaan asli orang Jawa yaitu animisme. Sementara pada masyarakat menengah cenderung menumbuhkan kembali kebudayaan-kebudayaan animisme itu.

Misalnya pada prosesi pernikahan, seakan mengharuskan dilakukan acara siraman, injak telur, pasang sesaji dan lainnya, yang dulu sudah kita “amankan”. Budaya yang sudah terpendam itu bisa kembali, apalagi yang mempelopori tokoh-tokoh agama, dan pemerintah.

Kalau demikian, bagaimana upaya untuk mengurangi atau meminimalisasi hal-hal yang tidak sesuai dengan syariat itu?

Memang kita rasakan ada serangan dari semua sisi. Di atas kalangan intelektual dimasuki JIL, kalangan bawah diserang kebodohannya. Kita melayani atas yang bawah kedodoran, melayani bawah atas terabaikan. Sulitnya bukan main. Karena kita tidak punya power, jadi masing-masing berjalan sendiri-sendiri.

Bagaimana jika kita bergandengan tangan dengan pimpinan formal di jajaran pemerintahan agar mampu melakukan upaya itu?

Sebenarnya itu ide bagus. Memang agama itu terkait sekali dengan urusan kekuasaan. Kalau kita mempelajari sejarah Islam, mulai khulafaurrasyidin sampai sekarang agama harus berjalan beriringan dengan pemerintahan. Karena Islam itu agama yang mengatur seluruh kehidupan manusia. Dan kita tahu di Indonesia yang bisa mengendalikan kehidupan masyarakat atau warga bangsa ini secara formal adalah pemerintah. Itu sebabnya, sebaiknya tokoh-tokoh agama bekerjasama dengan pimpinan pemerintahan, karena memang agama itu terkait sekali dengan legal formal pemerintah. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

RSS
Telegram
WhatsApp