UMMUL MUKMININ SAYIDAH KHADIJAH AL KUBRA

Nama Khadijah binti Khuwailid mungkin tak akan pernah kita kenal seperti sekarang ini, atau mungkin minimal akan jarang sekali orang mengenalnya, kalau saja kisah ini tak pernah terjadi. Dari kisah inilah perjalanan hidup Khadijah mulai ditulis dengan tinta emas dalam sejarah.

Khadijah adalah seorang janda kaya yang sukses dalam membangun imperium bisnisnya. Kesuksesan yang diraihnya adalah hasil dari  ketekunannya serta kebaikan budi pekertinya yang senantiasa jadi pembicaraan penduduk Makkah. Di samping itu, Khadijah sendiri adalah salah satu dari bangsawan Arab yang tak seorang pun di masa itu menandingi ketinggian martabatnya. Banyak di antara bangsawan Makkah yang kaya lagi terpandang meminang Khadijah untuk menjadi pendamping hidupnya. Namun semuanya ditolak secara halus oleh Khadijah.

Dalam menjalankan bisnisnya, Khadijah selalu memilih orang-orang yang dapat dipercaya untuk membantunya. Adalah Maisarah, seorang pembantu laki-laki yang amat dipercaya. Maisarah senantiasa setia kepada majikan dan selalu mengutamakan prinsip kejujuran dalam hidupnya.

Kesuksesan yang dialami Khadijah semakin lengkap, ketika Atikah, teman Khadijah membawa keponakannya, Muhammad bin Abdillah, untuk bekerja padanya. Khadijah tahu betul siapa Muhammad bin Abdillah. Dia pemuda Bani Hasyim yang tampan parasnya, halus budi pekertinya, serta terkenal kejujurannya hingga penduduk Makkah menjulukinya “Al Amin” (yang dapat dipercaya).

Dalam menjalankan perniagaan Khadijah, Muhammad senantiasa dibantu oleh Maisarah. Kepada Maisarah, Khadijah selalu berpesan agar melayani Muhammad sebaik-baiknya, meringankan bebannya, serta melindunginya dari gangguan apapun.

Maisarah sendiri sangat senang dengan tugas itu. Lebih dari itu keselamatan Muhammad adalah prioritas utamanya. Apapun akan dilakukannya demi melindungi Muhammad, sekalipun harus ditebus dengan nyawanya sendiri.

Banyak hal mengagumkan yang disaksikan Maisarah selama bersama Muhammad. Kejadian-kejadian itu selalu ia ceritakan pada Khadijah sepulangnya dari berdagang.

“Ketika aku bersama Muhammad bin Abdillah, banyak kejadian luar biasa yang belum pernah aku saksikan sebelumnya,” tutur Maisarah.  

“Perjalanan yang kami tempuh terasa sangat menyenangkan. Rasa capek seakan tak pernah kami rasakan. Ketika malam tiba, aku sediakan tempat untuknya supaya beliau beristirahat dan melalui malam yang dingin itu dengan perasaan nyaman. Namun aku lihat beliau tak tidur sebagaimana aku perkirakan. Aku lihat dia duduk di tempatnya sampai larut malam, hingga aku tertidur terlebih dahulu.” Saat aku mulai terlelap, tiba-tiba aku terkejut. Sepertinya aku mendengar sebuah percakapan. Seakan-akan bulan tengah berbicara dengan bumi. Rasa kantukku pun hilang, karena aku lebih tertarik untuk mendengarkan percakapan itu. ‘Aku ingin menjadikan sinarku sebagai alasnya, aku kira permukaanmu itu keras dan akan menyakitkannya’ kata suara pertama, mungkin itu perkataan bulan. ‘Permukaanku memang keras, tapi untuknya aku akan jadi alas yang lembut dan nyaman. Tolong katakan pada temanmu, matahari, supaya dia bersikap lembut padanya ketika siang hari,’ itulah kira-kira yang mereka bicarakan. Sekalipun nama Muhammad tak disebut-sebut dalam pembicaraan itu, tapi aku yakin dialah yang dimaksud. Bingung aku memikirkan kejadian itu, hingga aku tertidur lagi.”

“Saat aku terbangun, aku lihat dia masih duduk di tempatnya seperti semula. Di akhir malam beliau hanya tidur sebentar saja kemudian bangun ketika hari menjelang pagi. Keesokan harinya aku lihat wajahnya segar dan tampak bersemangat. Tak ada tanda-tanda sedikit pun bahwa dia kurang tidur. Begitulah seterusnya meskipun perjalanan yang kami tempuh hingga berhari-hari.”

“Siang hari, ketika matahari membakar bumi dengan teriknya yang menyengat aku lihat wajahnya tetap bugar seakan ada yang menaunginya. Aku heran dengan semua kejadian ini. Ketika tiba di Syam, sebagaimana biasa aku terlebih dahulu mengunjungi Rahib Nestor untuk meminta restunya. Rahib menyambutku dengan gembira. Setelah menyuruhku duduk, dia bertanya sambil melihat keluar jendela, ‘Siapa yang duduk di bawah pohon itu?’. ‘Muhammad bin Abdullah’ jawabku.”

“Demi Allah, dia adalah seorang Nabi”

“Bagaimana Anda tahu?”

“Tak ada yang duduk di bawah pohon itu melainkan seorang Nabi”

“Bukankah pohon itu telah ada sejak dulu, dan memang banyak orang yang berteduh di situ karena pohonnya rimbun?”

“Kau tak kan percaya, coba lihatlah nanti sepulangmu dari pasar. Tapi jangan kau ceritakan kejadian ini pada teman-temanmu. Jaga tuanmu itu baik-baik dan berhati-hatilah dalam melayaninya!”

“Aku mohon pamit, kemudian menjajakan dagangan di pasar. Aku bersama Muhammad berjalan di lorong-lorong pasar. Dari satu toko ke toko yang lain. Karena suatu permasalahan, seorang pedagang Nasrani meminta Muhammad agar bersumpah atas nama Lata dan Uzza. Ia menolaknya dengan halus. Orang Nasrani itu kemudian berbisik kepadaku, ‘Dialah Nabi Ummat ini.’

Sekeluarnya kami dari pasar, aku melihat ke tempat pohon tadi berada. Sungguh, pohon itu telah lenyap dan seakan tak pernah tumbuh di sana. Pendeta Nestor tersenyum padaku dari pintu gereja, kemudian masuk ke dalam.

Kami pulang dengan membawa keuntungan yang luar biasa…..”.

Maisarah sering menceritakan hal ini pada teman-temannya. Sebagian ada yang mempercayainya, sebagian yang lain mendustakannya. Khadijah, majikannya juga mendengar cerita ini dari Maisarah sendiri ketika melaporkan hasil penjualannya kepada Khadijah.

Bagi Khadijah, cerita ini mempunyai nilai tersendiri dalam lubuk hatinya. Karena ini mengenai orang yang selama ini dikaguminya. Sejak dulu, Khadijah sering memperhatikannya dari kejauhan ketika Muhammad datang. Setiap kali memperhatikannya, selalu dia berkata, “Demi Allah, dia bukan manusia biasa”. Maka dengan didengarnya cerita Maisarah, segeralah ia menemui anak pamannya, Waraqah bin Naufal.

“Ada satu masalah penting yang hendak kubicarakan denganmu”. Khadijah memulai pembicaraan

“Katakan, apa itu?”

“Tahun ini, daganganku kupercayakan pada Muhammad didampingi Maisarah, orang yang sangat kupercaya”

“Ya, aku tahu itu”

“Bukan itu masalahnya, tapi Maisarah banyak menceritakan hal-hal yang dialaminya bersama Muhammad, apa kau sudah dengar itu?’

“Ya, sedikit dari teman-teman Maisarah. Sebagian dari mereka ada yang percaya, ada pula yang mendustakannya.”

“Dengar, aku telah lama melihat berbagai kejadian itu pada diri Muhammad, dan aku ceritakan kejadian itu pada para pembantuku. Aku sering melihat mendung selalu menaunginya, seakan tidak rela bila panas menyentuh kulitnya. Aku yakin apa yang dikatakan Maisarah adalah benar.”

“Aku juga percaya semua ceritamu dan cerita Maisarah”

“Bagaimana kau percaya begitu saja tanpa melihat semua itu dengan mata kepalamu sendiri ?”

“Ya, telah lama aku menunggu tanda-tanda ini. Para biarawan dan pendeta selalu membicarakan ini dan menantikan hal ini sejak lama sekali. Hal ini telah termaktub dalam kitab-kitab suci kami. Diceritakan dari generasi ke generasi. Dari guru-guru kepada murid-muridnya. Ketika mendengarnya, aku sangat yakin bahwa aku akan menyaksikan kejadian ini. Sedikitpun aku tak merasa ragu, apalagi tentang pendeta Nestor. Dia pendeta yang alim dan jujur. Muhammad, dialah yang akan diangkat sebagai nabi akhir zaman, hanya aku tidak tahu, kapan dia akan diangkat.”

Setelah itu Waraqah terdiam beberapa lama. Terlihat air matanya berlinang, pertanda kegembiraannya meluap disertai kerinduan yang amat mendalam. Kemudian dia bangkit memohon diri.

“Tunggu dulu, aku belum selesai bicara denganmu…” cegah Khadijah

“Ya, aku tahu apa yang akan kau bicarakan. Dalam hatimu kau mengagumi sekaligus mencintai Muhammad. Wahai putri pamanku, semoga Allah mengabulkan cita-citamu. Semoga Allah mengangkatmu sebagai wanita yang mulia.”

“Kau tahu itu?.”

“Ya, aku tahu itu, dan aku mendukungmu supaya punya andil dalam hal ini. Andil yang akan membekas dalam sejarah besar umat ini.”

Beberapa waktu yang lalu, sebelum Muhammad menjadi orang yang membawa dagangannya, Khadijah pernah bermimpi melihat matahari masuk dalam rumahnya, kemudian sinarnya memancar keluar rumah sehingga tak satu pun rumah di Makkah kecuali diterangi sinar surya itu. Ketika mimpi itu diceritakan pada Waraqah, Waraqah berkata, “Kau akan menjadi istri Nabi akhir zaman”.

Demikianlah, hingga Allah SWT mempersatukan Khadijah dengan hamba pilihan-Nya yang kelak akan senantiasa membantu dalam berbagai permasalahan yang dihadapinya.

Dalam pernikahan agung itu, Khadijah memanggil Amr bin Sa’ad bertindak sebagai walinya. Hadir pula Waraqah bin Naufal, Abu Talib serta pembesar-pembesar Quraisy yang lain.

Keesokan harinya, berita pernikahan itu menyebar luas ke seantero Makkah. Muhammad, Al Amin, cucu Abdul Muttalib yang terpandang di seluruh Makkah beristrikan Khadijah, wanita yang selama ini senantiasa dikagumi.

Khadijah senantiasa mendampingi suaminya tercinta, baik suka maupun duka. Setelah Muhammad diangkat menjadi nabi, peranan Khadijah sangat besar dalam mendukung da’wah Rasulullah SAW. Semangatnya tak pernah lekang oleh usia.

Sepeninggal Khadijah, Rasulullah SAW merasa sangat kehilangan. Berbagai pujian banyak diucapkan Rasulullah SAW, dan dia mempunyai tempat tersendiri dalam hatinya.

Namanya yang sebelumnya hanya terkenal di seantero Makkah, kini dikenal di seluruh penjuru dunia. Khadijah, beserta istri-istri Rasulullah SAW yang lain, Allah mengabadikan mereka dengan sebutan Ummahatul Mu’minin. Semoga Allah meridlai mereka semua… Masun Said Alwy

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

RSS
Telegram
WhatsApp