Ummul Mukminin `Aisyah dan 9 Keutamaan

Aisyah binti Abu Bakar RA adalah sosok Muslimah ideal yang muncul pada zaman yang tepat. Bukan hanya karena statusnya sebagai istri Nabi Muhamad SAW, putri sahabat dekat dan khalifah pertama Nabi ini, sungguh melekat padanya perangainya yang luhur dan lembut. Kesetiaannya kepada suami, serta kecerdasan yang dimilikinya, membuat Rasulullah SAW sangat sayang dan menghargainya. Sehingga kita pun bertanya-tanya siapa sesungguhnya `Aisyah itu?

`Aisyah RA bukan sekedar “keindahan mawar” yang mampu menebarkan keharuman di dalam rumah tangga Nabi SAW,  melainkan ia juga begitu agung dalam memelihara dan membela kehormatan dirinya. Sehingga karenanya, Allah SAW menurunkan wahyu yang berkenaan dengan dirinya (QS An-Nur:20)

wöqs9ur ã@ôÒsù «!$# öNà6ø‹n=tæ ¼çmçGuH÷qu‘ur ¨br&ur ©!$# Ô$râäu‘ ÒO‹Ïm§‘

20.  Dan sekiranya tidaklah Karena kurnia Allah dan rahmat-Nya kepada kamu semua, dan Allah Maha Penyantun dan Maha Penyayang, (niscaya kamu akan ditimpa azab yang besar).

Rumah tangga `Aisyah adalah tempat yang sejuk bagi Nabi SAW. Kapan pun Rasulullah memasuki rumah itu, `Aisyah akan mengatakan, “Jika anak Adam mempunyai dua ladang diisi penuh dengan harta benda dan perhiasan, dan ia akan menginginkan yang ketiga, hanya debu yang dapat memenuhi daripada ketamakannya.”

Nabi SAW biasa tidur setelah shalat Isya’ dan bangun sebelum fajar untuk melaksanakan shalat tahajjud. Nabi juga membangunkan `Aisyah untuk ikut melaksakan shalat tahajjud. Ketika fajar mulai merekah, “Nabi melaksanakan shalat sunnah dan kemudian merebahkan badan sejenak untuk berbicara kepada `Aisyah. Pada waktu Nabi dan Aisyah bangun tengah malam, melaksanakan shalat tahajjud, Nabi membacakan Surat Al-Imran dan an-Nisa’. Jika Nabi membaca ayat tentang hisab yang menimbulkan ketakutan kepada Allah, beliau memohon perlindungan-Nya. Jika membaca ayat tentang kemurahan rahmat Allah, Nabi berdo’a akan kemurahan itu dan beliau terus berdoa sepanjang malam. Di samping shalat lima waktu dan tahajjud, `Aisyah biasa mengikuti Nabi mengerjakan shalat dhuha dan menjaga puasa.

Dari kebersamaannya selama sekian waktu yang begitu mengesankan dengan Rasulullah SAW, `Aisyah dalam masa-masa pertumbuhannya cukup mendapatkan wawasan keagamaan. `Aisyah memiliki sifat-sifat yang mulia, lembut, baik hati, menyenangkan dan tekun beribadah.

`Aisyah menjalani kehidupan pernikahannya dengan Nabi dalam kesederhanaan dan kekurangan. Baju bagus, perhiasan mewah, rumah mewah dan makanan enak tidak pernah ia lihat di rumah suaminya, namun ia tidak pernah mengeluh. Segala bentuk infak di masukkan ke kas negara untuk dibagikan kepada fakir miskin yang berhak menerimanya. Ia tidak pernah menunjukkan rasa iri terhadap kesemuanya itu. Sepeninggal Rasulullah SAW, apabila ia sedang makan dengan menu yang cukup, maka ia akan menitikkan air mata. Ketika ditanya tentang hal ini, ia berkata bahwa dirinya teringat akan Rasulullah yang tidak pernah makan dengan kecukupan seperti ini.

`Aisyah adalah seorang wanita yang tidak suka menggunjingkan orang lain. Bicaranya fasih namun tidak pernah menyinggung orang lain. Suatu ketika manakala bercakap-cakap dan menyebut-nyebut seseorang, kemudian ia sadar bahwa dirinya telah berbuat kesalahan, yaitu meyebut-nyebut orang yang sudah meninggal. Segera ia mendoakan orang itu, dan memohon ampun atas kesalahannya tadi. Ia berkata bahwa Rasulullah SAW, pernah bersabda jangan sampai menyebut-nyebut keburukan orang yang sudah tiada.

Ia tidak suka dipuji namun di balik kesahajaannya, ia tetap selalu menjaga harga dirinya dan berjiwa besar. Ia tidak suka kasak-kusuk. `Aisyah adalah seorang perempuan yang penuh semangat dan pemberani. Ia sering ziarah kubur sendirian pada malam hari untuk mendoakan arwah-arwah yang telah berpulang. Di tengah sengitnya pertempuran, ia membawa air dalam tas-tas kulit yang ia letakkan di pungungnya untuk pelepas dahaga pasukan-pasukan yang sedang bertempur.

`Aisyah juga orang yang paling menonjol dalam kedermawanan dan sifat murah hatinya. Ia tak segan-segan memberikan pinjaman bagi orang yang memerlukannya. Ia sering mengatakan bahwa Allah SWT akan membalasnya sesuai dengan apa yang diniatkan. Apabila `Aisyah tidak mempunyai apa-apa dan hanya ada sebiji kurma untuk diberikan, ia tidak akan ragu-ragu untuk memberikannya seraya berkata bahwa pada hari perhitungan kelak, “Barangsiapa mengerjakan kebaikan seberat zarrah pun, niscaya ia akan melihat (balasannya) pula.” (QS Az-Zalzalah:7).

`Aisyah benar-benar memlihara diri dari hal-hal yang dilarang. Salah satu rumahnya disewakan kepada beberapa orang. Saat mereka sering bermain catur, maka ia menyuruh mereka berhenti dari kebiasaan itu, atau kalau tidak, mereka harus meninggalkan rumah yang mereka tempati.

Keistimewaan-keistimewaan `Aisyah sangat banyak, di antaranya Nabi SAW Berkata:”`Aisyah mempunyai kelebihan di antara perempuan yang lain. Seperti Tsarid (sari buah kurma) mempunyai kelebihan daripada hidangan yang lain.” Dalam mimpi Nabi SAW, ditunjukkan, bahwa ia akan menjadi istri beliau. Ayat Al-qur’an tidak diturunkan di rumah para istri Nabi kecuali di rumah `Aisyah. Jibril menyampaikan salam kepada Aisyah di depan pintu, dan ia melihat Jibril dengan mata kepalanya sendiri; semua malaikat mengetahui kesucian dan kemurnian dirinya. Pembawa wahyu memberikan kabar gembira bahwa `Aisyah akan menjadi istri Nabi SAW, yang disayangi di akhirat kelak.

Al-Hakim menulis dalam al-Mustadrak dan Ibnu Sa’ad dalam ath-Thabaqat, bahwa `Aisyah berkata, “Aku tidak sombong, tetapi kusebut suatu kenyataan, bahwa Allah SWT., memberi karunia kepadaku sembilan perkara, yang tidak diberikan kepada orang lain di dunia ini. Yaitu; Jibril menghadirkan diriku sebelumnya di dalam mimpi Nabi SAW, di antara istri Nabi, akulah yang masih gadis, ayat al-Qur’an turun saat Nabi menempati tempat tidurku, aku adalah kesayangan beliau, beberapa ayat turun berhubungan dengan masalahku, aku melihat Jibril dengan mata kepala sendiri, dan Nabi wafat di atas pangkuanku.”

Keistimewaan lain yang dimiliki ‘Aisyah RA adalah, pada suatu malam beliau bermimpi bahwa tiga buah rembulan jatuh di kamarnya, dan ia menceritakannya kepada sanga ayah. Pada saat Nabi SAW wafat, Abu Bakar berkata bahwa salah satu dari rembulan tersebut adalah Nabi dan beliau yang terbaik dari ketiganya. Kemudian kejadian-kejadian selanjutnya menunjukkan bahwa dua rembulan yang lain adalah Abu Bakar dan Umar RA yang dikebumikan pada tempat yang sama di sisi Nabi SAW.

Usia ‘Aisyah belum genap enam puluh tujh tahun, pada bulan Ramadhan 58 H, ia jatuh sakait dan sembuh beberapa kali. Ketika orang-orang datang menjenguknya dan menanyakan tentang kesehatannya, ia selalu berkata bahwa keadaaan dirinya baik-baik. Ibnu Abbas berkata kepadanya: “dari keabadian, nama Anda menjadi Ibu orang-orang Mukmin (Ummul Mu’minin) anda istri Nabi SAW yang paling dicintai. Anda terlalu cepat meninggalkan kami. Karena Anda, Allah SWT menurunkan ayat-ayat-Nya tentang tayamum. Banyak ayat-ayat al-Qur’an tentang diri anda yang sering didengungkan di masjid-masjid.”

‘Aisyah menjawab, “Jauhkan aku dari kata-kata seperti itu, aku ingin mengakhirinya!”.

‘Aisyah wafat pada malam ketujuh belas bulan Ramadhan 58 H. tandu jenazahnya diantarkan ribuan manusia. Kematiannya menyebabkan seluruh penduduk Madinah dalam keadaan berkabung, sebab ibu dari keluarga Nabi SAW yang masih hidup telah tiada.

Begitulah, di dalam wawasan keilmuan, `Aisyah RA. Menjadi titik perhatian sahabat, tabi’in’ tabi’ut tabi’in, terutama mereka yang berkecimpung di dalam kancah pengetahuan dan ilmu-ilmu sosial Islami. Beliau adalah narasumber terpercaya bagi orang-orang yang ingin mengetahui berbagai persoalan seputar ilmu tafsir, hadis dan fiqih (es, mb/Tim CN dari berbagai sumber).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

RSS
Telegram
WhatsApp