Ruqayyah Binti Muhammad SAW, teladan istri yang penuh kesabaran

Firasat seorang ibu untuk memberikan hal yang terbaik buat putera-puterinya seringkali menjadi detector yang paling ampuh. Mungkin itu pula sebabnya mengapa dalam budaya kemasyarakatan kita, seorang anak hendaklah menurut dan patuh terhadap orang tuanya, karena mereka memiliki radar yang kuat, yang bahkan tidak dimiliki oleh seorang anak yang secara langsung berinteraksi dengan kehidupannya. Firasat ‘ tidak baik’ rupanya menyentuh naluri keibuan Khadijah RA, ketika kedua puteri tercintanya Ruqayyah dan Ummu Kultsum dipinang oleh dua orang pemuda yaitu Utbah dan Utaibah.

Melalui perantara Abu Thalib sebagai utusan dari keluarga Abdul Mutthalib, Utbah dan Utaibah yang masih kerabat Rasulullah adalah putera Abdul Uzza bin Abdul Mutthalib atau yang lebih dikenal dengan sebutan Abu Lahab. Namun sang ibunda tidak mampu berbicara apa-apa kecuali terdiam saja menyaksikan suaminya memberikan persetujuan dan menerima pinangan kedua pemuda tersebut. Khadijah khawatir jika dia mengungkapkan firasatnya justru membuat rasa tidak enak dihati sang suami atau akan menimbulkan pemikiran kalau dia akan memecah belah tali hubungan kekerabatan antara nabi dengan keluarga kakeknya itu.

Peristiwa ini terjadi sebelum Nabi SAW diangkat sebagi nabi dan rasul. Sementara kedua puterinya juga terdiam karena malu menerima pinangan sang pemuda. Maka sang ayah yang belas kasihpun mendoakan selamat bagi kedua puterinya dan memasrahkan keselamatan jiwa mereka hanya kepada Allah azza wajalla.

Dan apa yang menjadikan kekhawatiran ibunda mereka ternyata benar adanya. Kaum Quraiys berkumpul mengadakan persekongkolan jahat untuk membinasakan Nabi SAW demi menghalangi aktivitas da’wah nabi waktu itu. Bahkan segala cara mereka kerahkan termasuk merusak kehidupan rumah tangga kedua puteri beliau yaitu Ruqayyah dan Ummu Kultsum untuk memecah konsentrasi nabi dengan status janda puteri tercintanya itu. Bahkan Abu Lahab memaki kedua puteranya serta memberikan ancaman jika mereka tidak mau menceraikan isteri-isteri mereka itu, dengan sangat lantangnya dia berujar kepada mereka , “Kepalaku dan kepalamu wahai anakkku berdua adalah haram jika kalian berdua tidak menceraikan kedua puteri Muhammad “.

Tidak berhenti sampai disitu saja usaha Abu Lahab dan isterinya Ummu Jamil hamalatal hatbah untuk menyakiti hati Nabi SAW. Setelah mereka mengembalikan kedua wanita shaleha itu kepangkuan orang tuanya, mereka terus mencari usaha-usaha busuk lainnya sehingga turun firman Allah yang menyatakan kalau usaha mereka itu justru akan membawa keduanya kedalam api yang bergejolak, sungguh harta dan semua yang mereka usahakan itu tidak ada faedahnya sama sekali.

Ujian-ujian ini tidak sedikitpun membuat keluarga yang dipenuhi  ridho Allah ini menjadi gentar dan surut, justru menambah keteguhan hati mereka. Bagaimana tidak, sejak awal kenabiannya Muhammad SAW telah mempersiapkan mental isterinya yang setia dan ikhlas dengan ungkapan yang lembut namun membangkitkan semangat juang, “ Telah berlalu masa-masa tidur, wahai Khadijah.” Dan jiwa sang isteripun dipenuhi tekat untuk selalu berjuang mendampingi sang nabi.

Demikian juga Ruqayyah dan Ummu kultsum, mereka sangat mengerti apa yang dinginkan oleh kedua orang tua mereka. Karenanya tidak ada sedikitpun rasa berat bagi keduanya untuk menanggung semua penderitaan dalam perjuangan kedua orang tuannya. Sungguh, rasa kecewa yang mendalam justru menghinggapi benak Abu Lahab beserta isterinya dan kaum Quraisy karena ternyata nabi tidak keberatan sama sekali jika kedua puterinya kembali kepangkuan beliau dan ditalak oleh suami-suami mereka.

Ketabahan dan kesabaran Ruqayyah tidaklah sia-sia, karena kemudian hari Allah memberi teman hidup yang lebih baik, yang shaleh dan mulia. Laki-laki itu adlah pemuda dari delapan orang pelarian yang mula-mula masuk Islam dan menjadi salah satu dari 10 orang yang dijamin masuk surga .  Subhanallah, betapa bahagianya hati Ruqayyah karena laki-laki itu adalah Utsman bin Affan seorang bangsawan Quraisy yang mulia.

Pernikahan merekapun berlangsung diatas kemarahan yang membara dari kaum Quraisy karena mereka sungguh tidak senang dengan keadaan tersebut. Gangguan mereka terhadap kaum musliminpun mulai menjadi-jadi hingga rasulullah memperkenankan para sahabat untuk berhijrah ke Habasyah demi menyelamatkan agama mereka, termasuk didalamnya ada pasangan pengantin Utsman bin Affan dan Ruqayyah.

Meninggalkan kampung halaman, sanak saudara dan kerabat serta teman-teman tercintanya menuju negeri terpencil dengan hidup dalam suasana keterasingan, memang tidak mudah bagi seorang bangsawan seperti Utsman bin Affan. Namun kehadiran puteri seorang Sayyid seperti Ruqayyah disampingnya selalu menghibur dan memberikan kekuatan baginya meskipun Ruqayyah sendiri hidup jauh terpisah dari kedua orang tuanya.

Setelah beberapa lama hidup di negeri Habasyah, kabar masuk Islamnya Hamzah bin Abdul Mutthalib dan Umar bin Khattab membuat Utsman dan Ruqayyah ingin kembali ketanah kelahiran mereka. Namun apa yang mereka hadapi di tanah kelahiran mereka sungguh tragis, kedatangan mereka disambut dengan tekanan tirani yang semakin biadab. Teror dan penyiksaan dari kaum musrik memenuhi gendang telinga mereka. Akhirnya kaum muhajirin yang baru saja tiba dari Habasyah bersama Utsman langsung dibawa kerumah perlindungan Al Walid bin Mughirah.

Kematian ibunda tercinta Khadijah RA membuat Ruqayyah sunguh bersedih hati, namun Allah telah menakdirkan dia menjadi wanita mujahidah yang sabar sehingga ujian tersebut dihadapinya dengan ikhlas.

Belum lama tinggal di Mekkah, kaum muslimin memutuskan untuk berhijrah ke Madinah. Maka, Ruqayyah bersama robongan Rasulullah ke Madinah, kota dimana dia melahirkan Abdullah putera semata wayangnya. Kelahiran puetranya itu mampu menghapus segala kesedihan atas penderitaan yang harus ia hadapi selama ini. Namun kebahagian itu ternyata tidak berlangsung lama, karena satu ujian lagi harus dia hadapi dengan dipanggilnya sang putera oleh Allah di usianya yang keenam.

Setelah musibah demi musibah ia hadapi, akhirnya Ruqayyah sakit demam. Utsman dengan setia menemani dan melayani isterinya yang sakit. Namun, panggilan jihad ke medan perang Badar selalu mengusik hatinya hingga iapun ingin bergegas memenuhi panggilan yang agung itu.  Namun rasulullah menyuruhnya tetap berada disamping Ruqayyah untuk menolong dan merawatnya hingga Allah benar-benar memanggil jiwanya yang dipenuhi keridhaan untuk menghadap ke sisi-Nya. Maka, pulanglah jiwa suci Ruqayyah dengan meninggalkan contoh dan suri tauladan sebagai seorang isteri yang sabar, (Sulistyorini)   

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

RSS
Telegram
WhatsApp