Lembaran Dari Sejarah Wanita Hadramaut

Hadramaut, sejak sebelum datangnya Islam telah dikenal dalam sejarah peradapan Jazirah Arab. Di negeri yang terkenal dengan seribu wali ini banyak lahir tokoh-tokoh terkenal baik sebelum datangnya Islam atau pasca tersebarnya agama yang haq ini. Diantaranya penyair jahiliyah Imriil Qais, sejarawan Ibnu Choldun dan beberapa tokoh lainnya.

Pada abad ke empat Hijri  salah satu keturunan Rasulullah SAW, Al-Imam Ahmad bin Isa yang lebih dikenal dengan al-Muhajir hijrah dari Basrah menuju daerah pegunungan yang tandus itu. Kedatangannya ke negeri ini membawa perubahan besar dalam sejarah Hadramaut, bahkan dalam sejarah Islam, karena munculnya tokoh-tokoh dan pembaharu dalam sejarah keilmuan dan dakwah Islam. Mereka adalah para cendikiawan, juru dakwah, auliya’ dan shalihin, diantaranya al-Fagih Mugaddam, Habib Abdurrahman Asseggaf, Umar Muhdar, Syekh Abu Bakar Bin Salim, Imam Haddad, Habib Ali al-Habsyi dan lain-lain.

Baik keturunan maupun murid-murid beliau telah berhasil membawa lentera Ilahiyah dan Cahaya Nubuwah  ke berbagai penjuru dunia. Mereka ibarat cahaya dalam kegelapan dan hujan dalam kekeringan, seperti yang diucapkan seorang penyair:

تحيا بهم كل ارض ينزلون بها     كأنهم لبقاع الارض امطار

“Setiap bumi yang mereka pijak menjadi hidup, mereka bak hujan bagi bumi”.

Dari abad ke abad muncul para ulama’ dan wali, sehingga di abad ke delapan Hijri seorang ulama’ hijaz terkenal Syekh Abdulllah Bin Asad al-Yafii’ menyuruh anaknya Abdurrahman untuk mengunjungi Hadramaut guna melihat keadaan penduduknya. Setelah dia kembali sang ayah bertanya: “Bagaimana keadaan orang-orang Hadramaut?” dia menjawab dengan tembang-tembang syair.

مررت بوادى حضرموت مسلما          فالفيته بالبشرمبتسما رحبا

والفيت فيه من جهابذة العلا           اكابر لا يلقون شرقا ولا غربا

 “Aku lewat di lembah Hadramaut seraya mengucap salam, ia menyambutku dengan senyum dan wajah berseri-seri

dan kutemukan di sana dari tokoh kemuliaan para tokoh yang tidak akan didapatkan di barat maupun di timur”.

Begitulah Hadramaut dari masa ke masa, selalu dihuni oleh orang-orang shalih dan alim. Para penduduknya tidak hanya berdakwah dan menyebarkan ilmu di daerahnya, namun juga melakukan perjalanan  jauh menyeberangi samudra dan memasuki hutan belantara di berbagai penjuru dunia. Di negara kita Indonesia, bisa kita rasakan manisnya iman merupakan salah satu dari buah pengembaraan mereka. Dari tangan mereka Islam tersebar di Benua Afrika dan Asia Tenggara. Sejarah mencatat bahwa sepertiga dari dakwah Islamiah dilakukan oleh orang-orang Hadramaut.

Begitulah keberhasilan dan kesuksesan orang-orang Hadramaut dari masa kemasa. Keberhasilan para ulama’ dan para da’i itu tidak lepas dari keberhasilan para wanita di sekitar mereka. Baik ibu yang mendidik mereka, istri yang mendampinginya, saudara perempuan yang mendorongnya atau bibi yang membimbingnya.

Keberhasilan wanita Hadramaut ini tidak diraih dengan  kelilingdi pusat-pusat pertokoan dan perbelanjaan,  duduk berjam-jam di depan TV dengan acara sinetron dan dangdutnya atau duduk ngerumpi setelah shalat ashar atau antara magrib dan isya’, namun keberhasilan mereka diraih dengan deraian air mata di depan Tuhannnya. Kesuksesan yang mereka capai penuh dengan pengurbanan, menyambung siang dan malam dalam mencari hidayah dan menuntut ilmu. Pengabdian dan perjuangan menjadi syiar dalam kehidupan mereka. Jiwa mereka adalah jiwa Fatimah dan ruh mereka adalah ruh pengurbanan Khadijah binti Khuwalid. Wajah dan akhlak mereka dihiasi oleh sifat iffah dan rasa malu. Maka tidak heran apabila lahir dari mereka pemuda-pemuda yang tidak akan dilupakan sejarah, baik di dunia maupun di akhirat. Berikut ini adalah secuil dari lembaran-lembaran sejarah mereka yang ditulis dengan tinta emas.

Wanita Zuhud Lambang Pecinta Ilahi.

Dalam sejarah Islam, dunia tasawuf mengenal seorang tokoh wanita yang namanya senantiasa dikenang sepanjang masa, dialah Rabiah al-Adawiah, seorang wanita yang merasakan manisnya cinta sejati pada Sang Pencipta. Wanita semacam ini banyak ditemukan di tengah perkampungan gurun sahara Hadramaut, meski namanya tidak sempat dibidik oleh publik sebagaimana Rabiah al-Adawiah, namun jiwa dan hatinya tidak beda dengan Rabiah.

Di sini kita temukan seorang gadis lugu Hadramaut yang mempunyai jiwa melebihi seribu jiwa kaum lelaki, dia adalah Sholihah binti Shaleh bin Naqih. Gadis ini dilahirkan di kota Huraidhah, yaitu suatu kota yang terkenal dengan ilmu dan para wali, dikota inilah Habib Umar bin Abdurahman al-Attas berdakwah dan wafat. Gadis lugu ini tumbuh di kota tersebut dengan bimbingan orang tua yang shaleh dan didukung oleh lingkungan yang mencintai para ulama dan Auliya`. Ayahnya Syekh Shaleh adalah orang yang sangat giat dalam menghadiri majlis ilmu dan Dzikir, dia mempunyai hubungan erat dengan Habib Abubakar bin Abdullah al-Attas. Setiap ilmu dan pengalaman yang dihasilkan dari guru-gurunya juga diajarkan pada keluarganya, dan gadis lugu ini tentu sering mendengar petuah-petuah ayahnya.

Suatu saat Syekh Shaleh ingin mengetes keberhasilan tarbiahnya pada anak gadisnya yang sudah mulai menginjak dewasa. Dia berkata pada putrinya, “Hai anakku apakah engkau akan bahagia seandainya ada orang yang memberimu satu peti yang penuh dengan perhiasan dari emas?” Dengan cerdas putri itu menjawab, “Bukankah semua ini hanya menyakiti hati?” Mendengar jawaban cerdas putrinya itu Syekh shaleh puas dan melanjutkan pertanyaanya, “Bagaimana seandainya engkau melihat Allah?” Mendengar kata-kata itu, si gadis langsung jatuh dan menangis selama tiga hari tiga malam. Cinta Ilahi telah menyelimuti sanubarinya dan kerinduan pada sang pencipta memenuhi jiwa raganya.

Ketika Syekh Shaleh bertemu dengan Habib Ali bin Muhammad al-Habsyi, dengan bangga dia berkata kepada beliau, “Wahai Habib Ali, anakku termasuk wanita yang sholihah. Kemudian Habib Ali bertanya, dari mana engkau tahu bahwa putrimu termasuk wanita Sholihah? Selanjutnya dia menceritakan apa yang dialami oleh putrinya, kemudian dia bertanya lagi, apakah putriku termasuk wanita Sholihah? Habib Ali menjawab, sangat Sholihah. Mendengar jawaban Habib Ali, dia sangat senang dan di saat seperti itu, tiba-tiba Habib Salim bin Abubakar al-Attas yang hadir waktu itu berkata pada Habib Ali, hai Habib Ali, aku pernah mendengar Syekh ini berdzikir bersama putrinya seakan-akan di hadiri seratus orang.

Begitulah bukti cinta Rabiah al-Adawiah Hadramaut ini, cinta pada Ilahi telah mengalahkan segala-galanya, lisan halnya berkata seraya menasehati para wanita budak materi di sepanjang masa.

علق فؤادك بالحبيب موحدا    واغمض عيونك معرضا عن غيره

Gantungkanlah hatimu sepenuhnya pada sang kekasih, dan pejamkanlah matamu serta berpalinglah dari selain Dia.

Sholihah binti Shaleh bin Naqih telah membuktikan pada dunia bahwa hakikat cinta adalah cinta pada Allah dan Rasulnya. Hati dan jiwanya selalu berkata pada setiap gadis muslimah yang tenggelam dalam cinta dusta dan yang menangisi kekasih fatamorgana

سهر العيون لغير وجهك ضائع    وبكائهن لغير فقدك باطل  

Rela tidak memejamkan mata di malam hari bukan untuk melihat wajahMu hanyalah membuang-buang waktu, dan tangisan mereka (para wanita) karena kehilangan selain Engkau adalah tangisan dusta.

Gadis lugu itu kini telah tiada, namun cintanya senantiasa dikenang oleh ribuan malaikat dan ruh kaum solihin, jiwanya senantiasa hidup disepanjang masa bersama semerbak harumnya cinta sejati. Itulah potret pecinta sejati wanita Hadramaut sebagaimana yang diceritakan sendiri oleh Habib Ali dalam kitabnya “Kunuz Sa’adah al-Abadiah, hal 463-464) hamid ja’far al qadri

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

RSS
Telegram
WhatsApp