BAGAIMANA WANITA BERTAYAMMUM?

Tayammum merupakan kata yang tidak asing lagi bagi setiap orang muslim maupun muslimat dalam hubungannya dengan bersuci, namun terkadang pelaksanaannya tidak setenar namanya. Pengganti bersuci dengan air ini sangat penting untuk diketahui cara, syarat dan pelaksanaannya yang benar, karena dalam keadaan dan kondisi tertentu seseorang pasti akan melakukan tayammum.

Tayammum adalah mengusap wajah dan kedua tangan dengan tanah untuk bersuci. Dalam Alqur’an Allah berfirman:

وَإِنْ كُنْتُمْ مَرْضَى أَوْ عَلَى سَفَرٍ أَوْ جَاءَ أَحَدٌ مِنْكُمْ مِنَ الْغَائِطِ أَوْ لَامَسْتُمُ النِّسَاءَ فَلَمْ تَجِدُوا مَاءً فَتَيَمَّمُوا صَعِيدًا طَيِّبًا فَامْسَحُوا بِوُجُوهِكُمْ وَأَيْدِيكُمْ مِنْهُ

Dan jika kamu sakit (yang tidak boleh kena air) atau dalam perjalanan atau kembali dari tempat buang air (kakus) atau menyentuh perempuan, lalu kamu tidak memperoleh air, Maka bertayammumlah dengan tanah yang baik (bersih); sapulah mukamu dan tanganmu dengan tanah itu. (QS.Al-Maidah : 6)

 Tayammum merupakan bentuk thoharah (bersuci) darurat yang dilakukan karena ketidakmampuan seseorang untuk bersuci dengan air (mandi dan wudlu). Dalil dari hadits bahwa tayammum sebagai pengganti wudlu adalah sabda Nabi yang berbunyi:

الصعيد الطيب وضوء المسلم، وإن لم يجد الماء عشر سنين

Tanah yang suci merupakan wudlunya orang muslim, meskipun ia tidak mendapatkan air selama sepuluh tahun”. (HR. Baihaqi)

Sedangkan dalil dari hadits bahwa tayammum sebagai pengganti mandi besar adalah hadits yang diriwayatkan Ammar bin Yaasir beliau bercerita: Rasulullah SAW mengutusku untuk suatu keperluan, kemudian aku junub dan akupun berguling-guling di tanah sebagaimana hewan, (setelah pulang) aku ceritakan pengalaman ini kepada Nabi SAW maka beliau menjawab:  “Cukup bagimu seperti ini” maka Nabi pun memukulkan dua telapak tangannya ke tanah dan meniupnya kemudian diusapkannya ke muka dan dua tangan. (HR. Baihaqi)

Dalam hadits lain Abu Hurairah ra bercerita: Datang seorang A’robiy kepada Nabi SAW seraya berkata Ya Rasulullah kita hidup di padang pasir, dan diantara kita ada yang haid, junub, dan nifas, kadang-kadang kita tidak mendapatkan air selama empat bulan. Nabipun menjawab “Pakailah kamu tanah” maksud beliau bertayammumlah. (HR. Baihaqi).

Pengganti Darurat

Tayammum sebagai penganti darurat wudlu dan mandi, yang pada hakekatnya tidak bisa mengangkat hadats. Dalam arti lain, tayammum hanyalah sarana untuk diperbolehkannya shalat, sedangkan hadats (yang dapat mencegah sahnya shalat) belum terangkat. Atas dasar yang demikian maka:

  • Jika orang yang telah bertayammum mendapatkan air, maka tayammumnya batal dan dia harus berwudlu atau mandi untuk dapat melaksanakan shalat karena pada dasarnya hadats yang tadi belum terangkat.
  • Seseorang tidak boleh melakukan tayammum sebelum masuknya waktu karena tidak ada darurat sebelum masuknya waktu.
  • Tayammum yang dilakukan untuk shalat fardlu hanya bisa dipakai untuk satu shalat fardlu saja. Sedang tayammum yang dilakukan untuk shalat sunnah tidak boleh dipakai shalat fardlu.

SEBAB – SEBAB TAYAMMUM

Diperbolehkannya tayammum tentunya karena tidak mampunya seseorang untuk memakai air sebagai sarana wudlu atau mandi yang disebabkan oleh beberapa hal diantaranya, pertama, tidak adanya air, kedua, adanya bahaya, ketiga, kebutuhan minum, keempat, sakit, dan kelima, luka.

Tidak adanya air

Seseorang yang berada di padang pasir misalnya, hendak melakukan shalat dan tidak menemukan air, jika dia sudah betul-betul yakin akan tidak adanya air maka dia boleh tayammum tanpa harus mencari terlebih dahulu. Sebagaimana ayat yang berbunyi:

فَلَمْ تَجِدُوا مَاءً فَتَيَمَّمُوا

“lalu kamu tidak memperoleh air, Maka bertayammumlah!”

Namun jika ada sedikit saja persangkaan akan adanya air maka dia harus mencari air tersebut disekitar tempat dia berada. Dan dia tidak perlu mencari di tempat yang lebih jauh kecuali jika dia yakin bahwa di tempat tersebut ada air yang bisa dipakai untuk bersuci.

Membeli atau diberi air

Di tempat gersang ada air dijual dengan harga yang semestinya, jika dia memiliki uang lebih  dari tanggungan hutang, ongkos pulang (bagi musafir), kebutuhan hidup, dan sebagainya, maka dia wajib membeli air tersebut untuk bersuci. Namun jika dia tidak memiliki uang lebih maka dia tidak wajib membeli dan boleh baginya tayammum. Di saat yang demikian ternyata ada orang baik yang mau memberinya air atau uang untuk membeli air, atau sekedar meminjami timba untuk mengambil air karena di daerah tersebut ada air di sumur yang dalam namun untuk mengambilnya dibutuhkan timba, bolehkah dia bertayammum dan menolak pemberian atau pinjaman tersebut? Dalam masalah uang, dia boleh memilih tayammum dan menolak pemberian tersebut, karena masalah uang sangat sensitif dan sering dijadikan alat untuk menanam jasa sehingga sang pemberi merasa sangat pantas untuk dihormati atau sekedar dipenuhi keinginannya. Sedang dalam masalah yang lain dia wajib menerima kebaikan tersebut dan tidak boleh memilih tayammum karena dia bisa memakai air tanpa takut kebaikan itu akan diungkit-ungkit kembali.

Adanya bahaya

Orang yang mencari air untuk bersuci telah menemukan air di suatu tempat yang tidak begitu jauh, namun untuk sampai ke tempat tersebut ada bahaya mengancam keselamatan dirinya, keluarganya, kehormatannya, kehormatan keluarganya, hartanya, dan lain-lainnya, misalnya ada binatang buas di dekat air, atau laki-laki fasiq yang akan merusak kehormatannya jika dia keluar dari rumah, maka dia boleh bertayammum karena keberadaan air saat ini sama dengan tidak ada.

Kebutuhan minum

Dalam perjalanan di padang pasir seseorang biasanya memiliki bekal air untuk minum, masak atau bahkan mencuci. Ketika hendak bersuci, ternyata air bekal untuk wudlu telah habis atau sisa sedikit, yang ada hanya air bekal minum dan masak, dalam hal ini dia tidak boleh menggunakan air minum untuk bersuci, melainkan harus bertayamum karena adanya air minum tersebut sama dengan tidak adanya. Apakah sama hukumnya air yang disediakan untuk memasak dengan air minum? Seorang ulama bernama Al-Wali Al-‘Iraqi di dalam kitab fatwa-fatwanya beliau berkata: pendapat fuqoha’ bahwa kebutuhan minum lebih diutamakan atas wudlu seharusnya hanya sebagai contoh, dan disamakan hukumnya pula semua kebutuhan badan selain minum seperti kebutuhan air untuk membuat adonan tepung, memasak gandum, dan memasak makanan dengan gandum dan lain-lainnya.

Orang yang hanya memiliki sedikit air wudlu dan tidak cukup dipakai wudlu dengan sempurna harus memakai air yang ada untuk wudlu sebisanya, selebihnya anggota wudlu yang tidak terbasuh air diganti dengan tayammum.

Sakit

Diantara beberapa penyakit, ada yang sangat sensitif dengan air, sehingga orang yang terkena penyakit tersebut tidak boleh melakukan aktifitas mandi atau bahkan sekedar cuci muka. Apabila penggunaan air dapat menyebabkan disfungsi pada salah satu anggota tubuhnya, memperlambat kesembuhan, menimbulkan penyakit baru, atau menimbulkan bercak jelek pada bagian tubuh yang tampak, maka untuk bersuci dia cukup bertayammum dan tidak boleh memakai air karena dapat membahayakan dirinya.

Luka

Jika pada salah satu anggota wudlu terdapat penyakit atau luka yang tidak boleh tersentuh air, maka dalam bersuci bagian yang luka jangan dikenakan air dan sebagai penggantinya cukup bertayammum sebelum atau sesudah membasuh tempat yang sehat dengan air. Dalam pelaksanaan mandi dia boleh memilih untuk mendahulukan mandi atau tayammum dan dalam pelaksanaan wudlu dia hanya boleh bertayammum ketika membasuh bagian yang luka. Contoh: Orang yang terkena luka bakar dibagian tangan, dalam berwudlu dia tetap harus membasuh muka dan seluruh bagian tangan yang sehat dengan semaksimal mungkin, hanya area luka saja yang tidak boleh terkena air, kemudian area luka yang tak terkena air disucikan dengan tayammum, seusai bertayammum baru diteruskan mengusap rambut dan membasuh kaki.

Perban dan handyplast

Bagaimana dengan luka yang tertutup perban atau handyplast dan sejenisnya? Dalam bersuci memang tidak wajib membasuh bagian yang sakit atau luka, bahkan tidak boleh membasuh kalau memang bisa membahayakan, namun luka yang kering harus di usap dengan air dan jika ada penghalang seperti perban dan sejenisnya maka harus dicopot kecuali kalau berbahaya dan menyakitkan maka boleh tidak mencopot perban dan tetap harus mengusap air di atas perban tersebut.

SHALAT HARUS DIQODLO’

Shalatnya orang yang menggunakan debu sebagai sarana bersuci tentu tidak sama dengan shalatnya orang yang menggunakan air, karena air dapat mengangkat hadats sedangkan debu tidak. Oleh karena itu dalam beberapa keadaan tertentu orang yang bertayammum harus mengulang shalatnya jika udzur yang membolehkannya bertayammum telah lenyap.

Keadaan yang mengharuskan seseorang mengulang shalat adalah, Pertama, orang yang tayammum sebab tidak menemukan air sedangkan dia berada di daerah yang biasanya banyak air. Kedua, orang yang tayammum sebab tidak kuat dengan hawa dingin. Ketiga, orang yang tayammum sebab luka yang tertutup perban, dengan perincian berikut, luka yang berada di anggota tayammum (wajah dan tangan), luka yang berada di selain anggota tayammum tapi perban yang membungkusnya terlalu besar (melebihi kebutuhan), atau perbannya tidak melebihi kebutuhan namun memasangnya dalam keadaan berhadats.

Dalam tiga gambaran di atas jika udzur yang membolehkan tayamum telah hilang maka wajib bagi orang tersebut untuk mengulang atau mengqodlo shalat yang dilakukan dengan tayammum.

CARA BERTAYAMMUM

Rukun-rukun tayammum adalah:

  • Menyengaja tanah yang mau dipakai.
  • Memindah tanah tersebut dua kali untuk wajah dan dua tangan.
  • Mengusap wajah dan dua tangan.
  • Tertib dalam mengusap.

Dimulai dengan mempersiapkan tanah yang suci, bukan musta’mal (tanah bekas tayammum yang masih menempel atau sudah rontok), dan tidak bercampur dengan benda lain seperti tepung, bubuk tembikar dan sebagainya. Setelah itu mengambil tanah dengan memukulkan telapak tangan yang direnggangkan ke tanah tersebut dan mengusapkannya ke wajah kemudian mengambil lagi dan mengusapkannya pada kedua tangannya dari ujung jari sampai siku-siku. Dalam mengusap tangan Al Imam Nawawi punya pendapat lain yaitu dari ujung jari sampai pergelangan tangan saja. Tentunya cara Imam Nawawi ini tidak terlalu ribet dan sangat mudah dipraktekkan.

Tayammum wanita

Wanita dan pria memiliki hukum dan cara yang sama dalam bertayammum sesuai sabda nabi SAW: “Perempuan adalah saudara kandung lelaki” Namun seorang perempuan yang takut dirusak kehormatannya jika keluar mencari air, cukup baginya tayammum tanpa harus  mencari air terlebih dahulu. Dan perempuan yang suci dari haid atau nifas jika hendak melakukan shalat, membaca alqur’an, atau bersetubuh dengan suaminya sedangkan dia tidak mendapatkan air untuk bersuci, maka dia juga harus bertayammum. Bagi seorang suami  tidak haram dan tidak makruh untuk menyetubuhi istrinya meskipun dia tahu bahwa mereka tidak akan bisa bersuci dengan air setelah junub, dan seorang istri juga tidak berhak menolak ajakan suami untuk berhubungan badan dengan alasan hawa dingin yang tidak memungkinkan untuk memakai air dalam bersuci.

YANG MEMBATALKAN TAYAMMUM

Karena tayammum adalah pengganti wudlu, maka hal-hal yang membatalkan wudlu tentunya juga membatalkan tayammum, ditambah murtad (keluar dari Islam) dan hilangnya udzur yang membolehkan tayammum.

Seperti yang kita ketahui bahwa tayammum tidak mengangkat hadats melainkan hanya untuk diperbolehkan shalat dan sejenisnya, sedangkan orang yang murtad tidak sah untuk melakukan shalat, oleh sebab itu seandainya ada orang yang bertayammum untuk melakukan shalat, kemudian dia keluar dari agama Islam sebelum melaksanakan shalat, maka otomatis tayammumnya menjadi batal. Jika dalam waktu singkat dia bertaubat dan kembali ke Islam, dia harus mengulang tayammum untuk melakukan shalat yang belum sempat dia kerjakan tadi. Berbeda hukumnya jika orang yang murtad tadi berwudlu sebelum dia keluar dari agama, wudlunya tidak akan batal dan dia boleh langsung shalat tanpa harus mengulang wudlu setelah dia kembali ke Islam asalkan dia tidak melakukan hal-hal yang membatalkan wudlu ketika dalam keadaaan murtad.

Jika udzur yang menyebabkan tayammum hilang sebelum dia mengerjakan shalat dengan tayammum tersebut, maka tayammumnya batal dan dia harus shalat dengan wudlu yang sempurna. Contohnya orang yang kehabisan air wudlu di tengah padang pasir, setelah dia bertayammum kemudian turun hujan atau muncul seseorang yang membawa banyak air, otomatis tayammumnya batal dan dia harus berwudlu untuk mengerjakan shalat. Begitu pula orang bertayammum karena dingin atau sakit, jika hawa dingin telah lenyap atau dia telah menemukan api untuk menghangatkan air dan selimut untuk menahan hawa dingin setelah bersuci, atau penyakitnya sembuh setelah dia bertayammum, maka tayammumnya batal dan dia harus bersuci dengan air untuk melaksanakan shalat.

Bagaimana jika udzur tersebut hilang di saat dia tengah melakukan shalat? Shalat yang dikerjakan dengan tayammum adakalanya harus diulang setelah udzurnya lenyap adapula yang tidak perlu diulang seperti orang tayammum di padang pasir yang jauh dari keberadaan air. Jika shalatnya perlu diulang berarti tayammum dan shalatnya batal dengan hilangnya udzur di tengah-tengah shalat, dan dia harus mengulang shalat dengan bersuci pakai air. Adapun shalat yang  tidak perlu diulang, berarti tayammumnya tidak batal  dan dia boleh meneruskan shalat tersebut sampai selesai, tetapi lebih afdlol kalau shalatnya dibatalkan dan diulang dengan wudlu atau mandi yang sempurna.

Islam tidak mempersulit, melainkan mengatur, mengarahkan bahkan mempermudah umatnya dalam melaksanakan kehidupan ibadahnya agar lebih terarah untuk mencapai ridlo Sang Maha Pencipta. Allah SWT telah memberikan banyak kemudahan dalam menjalankan agama ini.  Salah satu contohnya adalah wudlu yang bisa diganti dengan tayammum. Zahid

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

RSS
Telegram
WhatsApp