KALAM AL-HABIB ABU BAKAR ATTHOS BIN ABDULLAH AL-HABSYI RA

Berikut kalam dari pribadi seorang ulama Bani Alawiy yang mengenal secara detail sejarah leluhurnya dan meneladani jalan hidupnya. Pembawa panji, pemilik tanggung jawab dan penebar ajaran-ajaran Rasul yang berjasa besar bagi umat Muhammad SAW. Seluruh hidupnya dikerahkan untuk mengajar dan mengajak orang lain ke jalan Allah. Kepribadiannya yang bersahaja ini, mampu menarik perhatian orang yang ingin mengenal Islam. Beliau dikenal sebagai figurnya para auliya’ dan ulama’ di zamannya. Bahkan pada saat itu timbul gambaran bahwa “Islam telah kembali jaya seperti di masa Nabi SAW dan para sahabatnya”. Beliau adalah Al-Habib Abu Bakar Atthos bin Abdullah Al-Habsyi.

Nasehat dan wejangannya tercatat dalam rangkuman kumpulan tulisan beliau sendiri dalam bukunya “Tadzkirul Musthofa Li Auladil Musthofa”.

Beliau menandaskan agar kita menjaga anak-anak dan saudara serta kerabat kita bergaul dengan orang-orang yang tidak sepaham dengan ajaran agama Islam. Bantulah anak-anak dan saudara-saudara kita untuk membenahi hati mereka. Jangan sampai mereka duduk dan bergaul dengan orang-orang yang meracuni aqidah anak kita. Mereka adalah orang-orang yang bertentangan dengan jalannya para salaf sholeh.

Dalam salah satu nasehat di kediamannya, beliau mengatakan: “Perhatikan! Hati manusia ini bagaikan sebuah cermin atau kaca, kaca tersebut dapat memantulkan gambar yang ada di hadapannya, jika yang ada di hadapannya gambar-gambar yang indah, maka kaca itupun akan memantulkan gambar-gambar yang indah, namun jika yang ada di hadapannya gambar-gambar yang buruk, maka iapun akan memberikan pantulan gambar yang buruk, begitulah hati manusia.

Didiklah anak-anak dan saudara-saudaramu tentang adab dan akhlaq Al-Musthofa SAW. Ketauhilah bahwa pendidikan akhlaq bagi anak-anak kita adalah amat penting, sebab kelak mereka dapat mengerti apa itu adab kepada orang tua, kepada sesama, dan lain sebagainya.

Saat ini orang sudah melalaikan pendidikan akhlaq terhadap anak-anaknya, mereka para orang tua acuh tak acuh tentang tarbiyah anak-anaknya. Coba tanyakan pernahkah mereka menanyakan sholat, bacaan Al Qur’an, mengenalkan nama nabinya, atau nama kitab suci Allah kepada anak-anaknya. Justru sekarang para orang tua lebih mengedepankan budaya-budaya dan pendidikan barat kepada anak-anaknya. Bahkan mereka terkadang heran bila melihat anak-anaknya tidak mengenal bintang-bintang film atau pemain-pemain sepak bola yang bahkan diantara mereka ada yang tidak pernah sujud kepada Allah SWT, na’udzu billah min ghodlobillah.

Coba bandingkan dengan para salaf sholeh, mereka sejak kecil sudah mengenal adab, akhlaq, langkah-langkah yang baik bahkan mereka mengenal mujahadah (kesungguhan) di dalam mencari ridho Allah SWT. Hal ini tidak ada lain karena orang tua merekalah yang berperan penting dalam membentuk anak-anaknya untuk berbakti pada Allah dan Rasulnya serta kepada orang tua mereka.

Lihatlah Mujahadah Habib Abdullah bin Abubakar Alaydrus. Beliau berkata, ”Sejak kecil hatiku dididik oleh ayah dan ibuku untuk tidak berpaling kepada selain Allah.” Habib Abdullah Alaydrus ini biasa mencarikan air untuk ibunya dan air itu harus air tadah hujan. Sehingga terkadang ia harus berjalan jauh dari tempat tinggalnya untuk mendapatkan air itu. Di usia yang masih kecil Habib Abdullah telah terbiasa makan buah-buahan yang  dimakan hewan. Dalam mujahadahnya beliau berpuasa selama 2 tahun dan hanya berbuka dengan 7 butir kurma.

Lihat pula mujahadah Habib Abubakar Adni bin Abdullah Alaydrus, beliau tidak tidur selama 20 tahun. Di saat masih kecilnya, setiap sepertiga malam terakhir beliau pergi ke sebuah bukit  di Tarim bersama sepupunya, Syekh Abdurrahman bin Ali bin Abubakar Sakran untuk beribadah di sana. Masing-masing menunaikan shalat malam dengan membaca Al-Qur’an 10 juz. Sebelum subuh tiba, keduanya telah kembali ke rumah masing-masing.

Lihalah kembali mujahadah para orang tua dan masyayikh kita. Bahkan ada di antara mereka yang mamapu mengkhatamkan Al-Qur’an dua kali dalam dua rakaat setiap malam.

Demi Allah, wahai saudara-saudaraku, hal ini tidak mustahil bila sang ayah dan ibu mendidik dengan ikhlas dan tulus. Kelak anak-anak mereka akan membuat hati kedua orangtuanya bangga. Karenanya, Rasulullah SAW bersabda,

َلأَنْ يُؤَدِّبَ الرَّجُلُ وَلَدَهُ خَيْرٌ لَهُ مِنْ أَنْ يَتَصَدَّقَ كُلَّ يَوْمٍ بِنِصْفِ صِاعٍ

Sungguh lebih baik seseorang mendidik anaknya daripada bersedekah sebanyak setengah sha’ (1,40 kg) setiap hari.”

Namun, begitulah karena rusaknya zaman, hancurnya moral dan punahnya ajaran-ajaran agama di rumah tangga kaum muslimin. Biografi dan perjalanan para salaf tersebut kini tinggal cerita saja. Rasulullah SAW bersabda,

يَأْتِيْ عَلَى النَّاسِ زَمَانٌ ، َلأَنْ يُرَبِّيَ الرَّجُلُ فِيْهِ جَرْوًا خَيْرٌ لَهُ مِنْ أَنْ يُرَبِّيَ فِيْهِ وَلَداً

“Akan datang pada manusia  suatu masa, saat itu, mereka lebih baik mendidik binatang piaraannya daripada mendidik anak kandungnya sendiri.”

Itulah sekelumit dari lautan mutiara nasehat beliau yang dapat kami terjemahkan, semoga generasi kita ke depan dapat meneladani dan meneruskan ajaran para salafnya. Memperbanyak membaca buku-buku karangan mereka dan mencermati biografi mereka agar kelak dapat berada di bawah lentera Rasulullah SAW, bersama anak-anak dan keluarga kita. Membanggakan dan membahagiakan  leluhurnya yang sholeh di hari kiamat kelak. Alwi Ali Al-Habsyi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

RSS
Telegram
WhatsApp