Macam-macam Syafa’at

Siapa sajakah orang yang berhak memberi syafa’at dan orang yang diberi syafa’at?

Abd.Rokhim Kholil

Balikpapan

081347666xxx

Secara bahasa syafa’at adalah usaha perantaraan dalam memberikan sesuatu manfaat bagi orang lain. Ada lima macam bentuk syafa’at:

  1. Menghilangkan kegelisahan yang dirasakan pada saat menunggu proses hisab(hitungan amal di dunia) dan mempersingkat proses hisab.
  2. Memasukkan ke surga tanpa ada hisab.
  3. Syafa’at untuk orang yang menurut catatan amalnya seharusnya masuk neraka, agar dapat masuk surga.
  4. Syafa’at yang diberikan untuk orang-orang yang telah masuk neraka agar dikeluarkan dari neraka.
  5. Syafa’at untuk menambah derajat seseorang di dalam surga.

Syafa’at bagian pertama dan kedua khusus dimiliki oleh Rasulullah SAW. Disebut Syafa’at ‘Udhma yakni Syafa’at yang agung. Sedangkan sisanya juga dimiliki oleh orang-orang pilihan Allah SWT.

Allah SWT berfirman:

يَوْمَئِذٍ لَا تَنْفَعُ الشَّفَاعَةُ إِلَّا مَنْ أَذِنَ لَهُ الرَّحْمَنُ وَرَضِيَ لَهُ قَوْلًا

“Pada hari itu tidak berguna syafa’at, kecuali (syafa’at) orang yang Allah Maha Pemurah telah memberi izin kepadanya, dan Dia telah meridhai perkataannya”. QS:Thoha:109

وَلَا يَشْفَعُونَ إِلَّا لِمَنِ ارْتَضَى

“Dan mereka tiada memberi syafaat melainkan kepada orang yang diridhai Allah”.QS:Al-Anbiya’:28.

Dalam hadits dinyatakan:

يَشْفَعُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ ثَلاَثَةٌ: الأَنْبِيَاءُ ثُمَّ الْعُلَمَاءُ ثُمَّ الشُّهَدَاءُ. رواه ابن ماجه

“Dihari kiamat ada tiga orang yang dapat memberi syafa’at: para Nabi, kemudian Ulama, lalu orang-orang yang mati syahid”.HR.Ibnu Majah.

Sedangkan orang-orang yang dapat menerima syafa’at adalah khusus bagi yang meninggal dalam keadaan Islam, meskipun memiliki dosa besar. Sedangkan orang-orang kafir tidak berhak menerima syafa’at.

Ibnu Abbas berkata dalam menafsiri kedua ayat di atas:

Yakni bagi orang-orang yang telah mengucapkan kalimat لا إله إلا الله.

Dalam hadits dinyatakan:

شَفَاعَتِي لِأَهْلِ الْكَبَائِرِ مِنْ أُمَّتِي. رواه الترمذي وابن ماجه

“Syafa’atku untuk orang-orang yang memiliki dosa besar dari umatku”.HR.Turmudzi dan Ibnu Majah.

Berkata Ibnu Katsir: Diriwayatkan dari Abi Sa’id dalam hadits marfu’: Apabila orang-orang mukmin telah berhasil melewati shirothol mustaqim, mereka berkata: Wahai Tuhanku, kawan-kawanku, mereka shalat bersamaku, berpuasa bersamaku, haji bersamaku dan membaca al-Qur’an bersamaku. Maka Allah berfirman: Pergilah, siapa diantara mereka yang memiliki iman dihatinya meskipun seberat biji dzarroh, maka keluarkan mereka dari neraka”. Selanjutnya beliau berkata: Berkata al-Hafidz Abu Ya’la: Telah menceritakan kepadaku al-Abbas bin Walid Annursi, dari Yusuf bin Kholid dari al-A’masy dari Anas. Bahwa Rasulullah SAW bersabda: “Ditampakkan penduduk surga berbaris, lalu berjalan orang-orang mukmin. Kemudian salah satu penduduk neraka melihatnya dan mengenalinya ketika masih hidup di dunia, lalu berkata: Hai Fulan, apakah engkau tidak ingat aku pada waktu aku telah menolongmu untuk sebuah keperluan ini-ini. Ada pula yang berkata: Apakah kamu tidak mengingatku pada waktu aku telah memberi kamu sekian-sekian. Lalu orang mukmin tadi ingat dan mengenalinya, kemudian memohonkan syafa’at kepada Allah SWT dan Allah memberikan syafa’at kepadanya”.

Lihat: Tuhfatu al-Ahwadzi juz Vll hal. 148, Mirqotu al-Mafatih juz lX hal. 556, Bariqoh Mahmudiyah juz l hal. 177-178, Faydlul Qodir juz Vl hal. 462, Sunan Ibnu Majah juz ll hal. 1443, al-Nihayah fi al-Fitan wa al-Malahim juz l hal. 223-224, Tafsir al-Baghowi juz V hal. 315, al-Mawsu’ah al-Fiqhiyah juz XXVl hal. 1`32-133. 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

RSS
Telegram
WhatsApp