Hitungan Dalam Perjodohan

Ust. Bagaimana menurut Islam tentang perhitungan Jawa masalah perjodohan. Dan bagaimana cara kita menyikapi?

Labib Asshidqiy

Banyumas

085227508xxx

Ass Wr Wb. Ustadz, ana mau tanya, apakah ada keterangan yang berhubungan dengan hitungan hari seperti kliwon, wage dan seterusnya. Kalau ada tuliskan keterangannya. Kalau tidak ada siapakah pembuatnya. Atas jawabannya terima kasih.

Munawir

Bondowoso

0817939xxxx

Jawaban:

Syekh ِAbdurrahman Ibnu Ziyad berkata dalam kumpulan fatwanya: Jika ada orang bertanya tentang malam atau hari yang baik untuk akad nikah atau pindahan rumah, maka pertanyaan itu tidak perlu dijawab. Karena Allah SWT melarang keyakinan tersebut dan mencegahnya dengan sangat.

Berkata Ibnu al-Farkah diriwayatkan dari Imam Syafi’i: Apabila ahli nujum berkata dan meyakini bahwa tidak ada yang memberikan pengaruh secara langsung kecuali dari Allah.  Allah SWT telah menetapkan kebiasaan bahwa akan terjadi demikian pada saat demikian, dan yang menentukan adalah Allah SWT, maka perkataan tersebut menurutku adalah tidak apa-apa. Kalaupun ada penjelasan ulama yang mencelanya, itu dimaksudkan pada perkataan ahli nujum yang meyakini pengaruh itu sepenuhnya dari makhluq – bukan dari Allah SWT.

Imam Al-Zamlakani menfatwakan hukum haram secara mutlak –baik diyakini dari Allah SWT atau tidak -.

Berkata Husen Al-Ahdal: Keterangan yang terdapat dalam kitab-kitab ramalan, semuanya itu adalah bagian dari takhayyulnya ahli nujum dan orang-orang pintar. Tidak halal meyakininya, dan tergolong istiqsam bil azlam (mengundi nasib dengan anak panah).

Dari penjelasan Syekh Ibnu Ziyad di atas, dapat ditarik kesimpulan bahwa keyakinan hari-hari tertentu menurut perhitungan Jawa atau lainnya, tidak dikenal dalam ajaran Islam. Bahkan apabila meyakini pengaruh hari-hari tertentu menyebabkan terjadinya sesuatu diluar kehendak Allah SWT, maka berakibat murtad/keluar dari Islam. Jjika hanya meyakini takdir Allah SWT biasanya berlaku demikian pada hari-hari tersebut, maka hukumnya tidak apa-apa. Akan tetapi menurut Imam Al-Zamlakani hukumnya tetap haram.

Lihat. Fatawa Ibnu Ziyad hal. 206.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

RSS
Telegram
WhatsApp