Sayyidah Nusaibah binti Kaab bin Amru bin Auf bin Mabdzul al-Anshariyah

Prajurit Wanita yang tangguh

Wanita sangat identik dengan yang namanya kecantikan.   Tubuh yang bersih, kulit yang bersinar akan menjadi dambaan bagi setiap makhluk Allah yang berpredikat wanita.

Ketika musibah gempa dan gelombang Tsunami menghantam saudara-saudara kita di Aceh, berapa banyak wanita yang rela mengorbankan ‘kecantikannya’ untuk bergulat dengan lumpur dan ribuan mayat? Mungkin di dalam benak kita ada keinginan kuat untuk membantu para korban tersebut, tapi lagi-lagi pikiran kita akan terhenti dengan pertanyaan “Apa yang bisa kita lakukan?” Berdoa dan meringankan beban mereka dengan menyedekahkan sebagian materi yang kita miliki mungkin menjadi jawaban yang paling tepat.  Mendengar berita bahwa bau busuk sangat menyengat saja mungkin sudah membuat mual perut kita, apalagi adanya sejenis virus yang membuat beberapa sukarelawan harus diamputasi akan membuat bulu kuduk merinding, belum lagi ancaman penculikan GAM….wah beribu pertanyaan akan muncul satu persatu sebelum kita benar-benar memutuskan mau gak ya seandainya kita yang wanita ini harus diberangkatkan ke Aceh? Seandainya kita memiliki kebesaran jiwa mungkin tanpa berfikir panjang kita akan menyambut panggilan dan tugas mulia ini dengan penuh semangat yang membara.

Seorang sahabat Rasulullah dijamannya yang bernama Nusaibah binti Kaab bin Amru bin Auf bin Mabdzul al-Anshariyah, salah seorang wanita dari Bani Mazin an-Najar yang biasa dijuluki sebagai Ummu Amarah. Sebagai seorang wanita, ummu Amarah memiliki kelembutan sekaligus ketegaran. Ummu Amarah ra yang dipenuhi dengan keutamaan dan kebaikan-kebaikan, dia merupakan sosok wanita mujahidah pemberani yang pantang menyerah dan tidak takut mati di jalan Allah. Beliau merupakan satu dari deretan panjang tokoh-tokoh wanita Madinah yang bergegas masuk Islam. Dan demi keinginan kuat untuk berbaiat kepada Rasulullah SAW beliau rela berjalan kaki ke Mekkah bersama wanita pelopor Ansor lainnya. Dalam peperangan Uhud, bersama Ghasyah bin Amru suaminya dan kedua puteranya Nusaibah ikut terlibat langsung dengan memberi minum para prajurit yang luka-luka. Namun bukan itu saja, tatkala kaum muslimin kocar-kacir dan bercerai berai, dengan gesit beliau membentengi Rasulullah SAW dan menghujami musuh dengan anak panahnya. Tanpa pelindung baju besi Ummu Amarah ikut berperang mati-matian, hingga 13 tusukan  bersarang ditubuhnya. Luka terparah akibat luncuran panah yang mendarat di bahunya bahkan mesti dirawat hingga setahun.

 Ummu Amarah menceritakan ketika  orang-orang melarikan diri dari Rasulullah SAW dan hanya tertinggal kira-kira 10 orang saja bersama Rasulullah, maka  dengan seketika Ummu Amarah beserta suami dan kedua anaknya melompat ke hadapan Rasul untuk melindungi beliau. Ketika dalam perang tersebut putranya Abdullah bin Zaid terluka parah hingga darah deras mengucur, Rasulullah memanggil Ummu Amarah untuk membalut luka-lukanya. Setelah selesai dibalut berkatalah Ummu amarah kepada puteranya : “Bangkitlah wahai anakku dan perangilah musuh!” Mendengar ucapan itu, Nabi SAW mengatakan :”Siapa yang mampu menyamai kemampuanmu wahai Ummu amarah?”

Waktu berlalu, ibu prajurit mukminah ini tetap mengabdikan dirinya untuk Islam, menunaikan kewajibannya dengan apa saja yang ia mampu baik diwaktu perang maupun damai. Ummu Amarah juga turut menghadiri  bai’aturidhwan bersama Rasulullah SAW di Hudaibiyah, yaitu bai’ah sumpah setia untuk mati syahid di jalan-Nya sebagaimana ia juga turut menghadiri perang Hunain.

Jiwa didikan seorang ibunda seperti Ummu Amarah  begitu kuat melekat dalam  aliran darah putera-putera tercintanya. Begitu kuatnya hingga kesabaran dikala menemui bencana dan cinta fi sabilillah  yang ia tanamkan kepada putera-puteranya mampu membentengi mereka dari kemurtadan dan membawa mereka kembali kepada Rabnya dalam kesyahidan. Peristiwa tersebut terjadi dikala Rasulullah SAW dipanggil menemui “ar-Rafiq al A’la” sekelompok orang  yang dipelopori oleh Musailamah mulai murtad dan meninggalkan Islam. Seketika itu khalifah ash-Shidiq ra mengambil keputusan untuk memerangi mereka. Mendengar hal tersebut, bergegaslah ummu Amarah menemui sang khalifah untuk ikut berperang bersama puteranya Hubaib bin Zaid bin Ashim.

Dalam peperangan tersebut Hubaib bin Zaid tertawan oleh kelompok Musailamah  dan disiksa dengan beraneka ragam siksaan agai ia mau mengakui kenabiannya. Namun perilaku, pikiran, dan kesabaran yang telah ditanamkan oleh ibundanya membuat sang putera tidak goyah dengan sikapnya meskipun siksaan datang bertubi-tubi menghujam tubuhnya.

Musailamah mulai menginterograsi Hubab dengan mengatakan :

“Bersaksilah engkau bahwa Muhammad adalah utusan Allah!”

“Benar!” jawab Hubaib.

Musailamah meneruskan : “Bersaksilah engkau bahwa aku adalah utusan Allah!”

“Aku belum pernah mendengar yang demukian,” bantah Hubaib.

Musailamah lantas menyayati tubuh Hubaib hingga jiwa putera ummu Amarah yang dipenuhi kesucian ini melayang menemui sang pencipta yang selama ini dirindukannya.

Setelah perang tersebut berakhir, Ummu Amarah kembali turut terjun ke medan perang Yamamah bersama puteranya Abdullah. Ummu amarah begitu antusias untuk membunuh si lalim dan pendusta Musailamah yang telah membunuh Hubaib puetranya.

Namun takdir telah menghendaki Abdulllahlah yang berhasil membunuh Musailamah sebagai tuntutan balas atas kematian saudara kandungnya.

Mendengar berita tersebut Ummu Amarah segera bersujud syukur kepada Allah SWT.

Sekembalinya dari perang, 12 luka di sekujur tubuhnya menjadi saksi betapa wanita pejuang ini telah merelakan tubuhnya untuk disayat demi kecintaannya kepada Rasul dan Allah  dengan berperang begitu gigih hingga mencengangkan para prajurit pria.

Dijamannya, kaum muslimin sangat mengenal siapa Ummu Amarah. Ibunda Ummu amarah adalah menara tinggi dalam album sejarah Islam. Sungguh, dia harus dijadikan suri tauladan bagi ukthi muslimah sepanjang jaman dalam berkorban mempertahankan yang hak maupun memerangi yang batil dalam jalan akidah islamiyah.

Sulistyorini

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

RSS
Telegram
WhatsApp