SAYIDAH MAIMUNAH BINTI HARITS,ISTRI RASULULLAH SAW

“ Yang diberi kebaikan atau yang diberi taufik “

Di jamannya, Barrah termasuk salah seorang bangsawan yang terkenal dan budiman serta mempunyai nasab yang luhur. Ia adalah saudara Ummu Fadl istri Abbas. Ia dinikahi Mas’ud bin Amr ats-Tsaqafi  dan membina rumah tangga bersamanya, saat itu Barrah belum masuk Islam, namun beliau telah banyak mendengar dan mengetahui ajaran-ajaran Islam karena seringnya beliau mengunjungi saudaranya perempuannya yaitu Ummu Fadl.

Dalam perkembangannya semakin hari semakin tergores kesan yang mendalam di hatinya tatkala mendengar berita-berita tentang kaum muslimin muhajirin, berbagai informasi mengenai perang Badar dan juga perang Uhud. Kegembiraannya begitu meluap ketika tersiar berita kemenangan tentara kaum muslimin di Khaibar. Namun ketika  kegembiraan itu disampaikan kepada suaminya ketika beliau kembali ke rumah,   ternyata berita itu justeru membuat suaminya murung dan tampak sedih.

Begitulah seorang Barrah yang telah mendapat kegembiraan tatkala mendengar kemenangan kaum muslimin sementara beliau sendiri sebenarnya belum masuk Islam, tanpa disadari sesungguhnya hatinya telah condong kepada keimanan, dan perbedaan suasana batin antara dirinya dan suaminya itulah yang akhirnya membuat perempuan mulia ini memutuskan untuk berpisah dari suaminya dan tinggal di rumah Abbas.

Sungguh menakjubkan, berakhirnya ikatan rumah tangga justeru disebabkan oleh prinsip yang sesungguhnya belum diimani tetapi membuat perempuan ini merasakan ada suatu kenikmatan tersendiri berada ditengah-tengah umat yang mengagungkan kebesaran asma Allah SWT. Sangat berbeda dengan abad yang dibilang modern ini, prinsip keimanan kadang justeru dikesampingkan dan harta, orang ketiga, jabatan maupun ambisi pribadilah yang  menjadi pemicu putusnya ikatan sebuah rumah tangga.  

Setelah kejadian tersebut, tibalah berlakunya perjanjian Hudaibiyah dimana telah disepakati bahwa Nabi Muhammad dan pengikutnya diperbolehkan untuk memasuki kota Makkah dan bermukim disana selama kurun waktu 3 hari lamanya untuk mengerjakan manasik haji tanpa ada halangan dari kaum Quraisy.  Maka berbondong-bondonglah kaum muslimin menunaikan haji dengan suara yang gegap gempita dan membahana ke seluruh penjuru bumi menyerukan “Labbaika Allaahumma labbaika, labbaika laa syariika laka labbaika”

Di Makkah sendiri ternyata  masih ada orang laki-laki maupun perempuan yang menyembunyikan keimanan mereka termasuk Barrah. Beliau  sangat merindukan untuk membuka jati dirinya dan segera menyeru ke dalam agama Islam dan bersegera untuk menggali sedalam-dalamnya semua keingin-tahuannya akan akidah yang akan  dapat mengubah dirinya secara keseluruhan menuju kesempurnaan iman.

Maka segeralah beliau memberitahukan semua keinginannya itu kepada saudara perempuannya, Ummu Fadhl. Kemudian segera berita tersebut diteruskan Ummu Fadhl kepada Abbas suaminya yang segera menemui Rasulullah untuk menyampaikan berita tersebut dan sekaligus menawarkan kepada beliau untuk menikahi Barrah, saudaranya itu. Tanpa diduga, keinginan mulia Barrah didengar dan dikabulkan oleh Allah SWT dengan kesediaan Rasulullah untuk menikahi Barrah dengan mahar sebanyak 400 dirham.

Setelah lewat masa 3 hari bagi kaum muslimin untuk berdiam di Makkah, segera kaum Quraisy memerintahkan mereka untuk segera meninggalkan Makkah. Rupanya mereka sangat ketakutan dengan keberadaan Rasulullah yang dapat mempengaruhi penduduk Makkah karena telah  memberikan simpati yang mendalam di hati banyak orang. Satu bukti nyata adalah keislaman Barrah yang sekaligus menyerahkan dirinya kepada Rasulullah.

Maka pernikahan Barrah dan Nabi pun ditunda hingga mereka telah keluar dari kota Makkah, dan sejak itu Nabi mengganti nama Barrah dengan Maimunah yang artinya adalah  “ yang diberi keberkahan atau yang diberi taufik “. Begitulah akhirnya Maimunah sampai di Madinah dan menetap di  rumah Nabi yang suci, menjadi ibu orang-orang mukmin dengan melaksanakan tugas dan tanggung jawab perkawinan dengan sebaik-baiknya.

Beliau dikarunia usia beberapa tahun lagi setelah berpulangnya Rasulullah SAW menghadap Allah SWT, hingga wafat di usianya yang ke 50 tahun. Selama itu beliau isi hidupnya dengan kebajikan dan takwa, menunaikan nasehat-nasehat dan pesan-pesan sayyid anak cucu Adam dan pengajar seluruh manusia, Muhammad SAW.

Dan keutamaan beliau bahkan digambarkan oleh Aisyah ra setelah hari kematian Maimunah sebagai berikut : “ Kini ia telah tiada. Demi Allah, Maimunah, . Sesungguhnya ia adalah seorang wanita yang paling takwa kepada Allah diantara kami, dan paling banyak menyambung silaturrahmi.”

Begitulah sekelumit kisah seorang perempuan Quraisy yang karena kekuatan hatinya akhirnya dipilih Allah menjadi salah seorang wanita yang sangat mulia dengan dianugerahi keindahan hari-hari mendampingi Rasulullah SAW dan mengadopsi ajaran-ajaran Islam dengan leluasa langsung dari seorang Mahaguru yang menjadi sumber utama di dunia. (Sulityorini)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

RSS
Telegram
WhatsApp