PRAKTEK-PRAKTEK YANG MENCEDERAI MUHARRAM

Pernahkah Anda melihat orang-orang mencebur ke sungai di malam buta lalu merendam tubuh mereka hingga kelihatan lehernya saja? Berjam-jam seperti itu tak bergerak? Sebagian dari mereka malah berendam hingga pagi. Mereka bukan orang hukuman, apalagi dirajam. Mereka juga bukan gila. Mereka orang waras, 100 persen. Itu mereka lakukan karena, kata mereka, mencari berkah dari sungai tersebut, yang dianggap keramat, dan dari bulan Suro. Atau, bagi yang meneruskan mandinya dengan semadi, untuk mencari kesaktian.

Begitulah yang dilakukan banyak orang Jawa menyambut datangnya bulan Muharram atau Suro. Biasanya mereka memilih sungai-sungai yang dipandang angker. Lebih afdol lagi, menurut mereka, di tempat bertemunya dua muara sungai. (Beberapa tahun lalu ada yang menjadi korban keganasan sungai itu sendiri. Mereka hanyut diterjang arus kala bersemadi.)

Lebih fantastis lagi di Sungai Pendok di Desa Pantaran, Boyolali (di lereng Gunung Merbabu). Ini adalah sungai yang dianggap sangat “keramat”. Karena di sinilah dulu Jaka Tingkir bersemadi sebelum menjadi raja. Di sini pada malam 1 Suro orang-orang – lelaki-perempuan, tua-muda, pejabat tinggi dan orang kebanyakan, mandi ramai-ramai sambil memegang lilin yang menyala. Mereka baru mentas bila lilin yang dipegang padam. Sebagian dari mereka, seperti halnya di sungai-sungai lain, meneruskan dengan semadi hingga pagi.

Memang banyak ragam cara menyongsong datangnya bulan Muharram atau Tahun Baru Hijriyah. Kaum santri menyambutnya dengan doa: doa akhir tahun dan doa awal tahun, guna meminta pertolongan untuk tahun mendatang dan meminta ampun untuk tahun yang lewat. Tetapi kaum abangan dan priyayi menyambutnya dengan cara-cara yang, kata kaum santri, “unbelievable” (sulit dipercaya). Kaum santri, mungkin, geleng-geleng kepala menyaksikannya.

Ada yang berpuasa pada 1 Suro selama sehari semalam, 24 jam penuh. Ada yang melakukan begadangan semalam suntuk pada malam 1 Suro. Entah di rumah, entah di kuburan leluhur, atau di tempat-tempat lain yang dipandang keramat. Seperti di pantai Parang tritis dan Parang kusumo, Yogyakarta, pada malam 1 Suro berjejalan orang-orang yang melakukan begadangan (tidak tidur) semalam suntuk, guna mencari berkah dari tempat-tempat itu plus dari bulan Suro. Banyak pula yang memilih begadangan di puncak Gunung Lawu (sebelah timur Solo) dan puncak Gunung Dieng (Wonosobo).

Cobalah Anda datang ke Gunung Sumbing dan Gunung Sindoro pada malam 1 Suro. Di sana Anda akan melihat iring-iringan ratusan atau bahkan ribuan orang yang berjalan kaki mendaki kedua gunung yang tingginya tak kurang 3.000 meter tersebut hingga ke puncak. Mereka akan tinggal di ketinggian tersebut sambil melawan hawa dingin yang menggigit, tanpa tidur, hingga matahari terbit. Sedang di puncak Gunung Merapi (yang baru saja batuk-batuk itu) Anda akan melihat ritual sesembahan sesajen (Sedekah Gunung), berupa kepala kerbau, yang ditanam di sana. Tetapi di Gunung Merbabu, sesajen tidak ditanam melainkan di buang ke kawah gunung.

Lain lagi hajatan pihak keraton, selaku penjaga gawang kebudayaan Jawa. Pada 1 Suro, Kraton Mangkunegaran dan Kasunanan Solo mereka menggelar kirab (Grebeg Suro), yang diikuti para kiai dan nyai plus gunungan makanan. Jangan salah, yang dimaksud kiai dan nyai di sini ialah senjata-senjata pusaka dan para kerbau yang dipandang keramat. Begitu mulianya mereka sehingga disebut Kanjeng Kiai (untuk yang jantan) dan Kanjeng Nyai (untuk yang betina).

Selain itu, mereka juga menggelar upacara memandikan senjata-senjata pusaka (Siraman Pusaka), seperti keris, tombak dan lain-lain. Ini dilakukan pada Selasa Kliwon dari bulan Suro.

Bukan hanya pihak keraton yang melakukan siraman atau memandikan benda pusaka. Para pemilik pusaka lainnya pun memilih siraman pada malam 1 Suro atau Selasa Kliwon bulan Suro. Supaya benda-benda itu tetap atau malah semakin sakti, berkat bulan Suro. (Saya pernah punya tetangga di Jakarta, dia orang Jawa. Pada malam 1 Suro rumahnya kedatangan banyak tamu. Rupanya mereka teman-temannya. Semalaman mereka tidak tidur. Mereka, dengan mengenakan baju hitam-hitam, memandikan benda-benda pusaka dengan hidangan nasi tumpeng dan pisang hijau.)

PENUH BERKAH

Bagi orang Jawa (abangan dan priyayi), bulan Suro merupakan bulan yang sangat istimewa. Bulan keramat. Penuh berkah. Tanggal 1 Suro juga dipandang melambangkan permulaan dari kehidupan baru mereka. Itulah sebabnya mereka melakukan ritus-ritus tadi, guna mereguk berkah serta daya magis bulan tersebut.

Dalam Islam bulan Muharram atau Suro juga istimewa. Ini adalah salah satu dari kuartet bulan mulia (asyhurul hurum), yang tiga lainnya tak lain ialah Rajab, Dzul Qa’dah dan Dzul Hijjah. Di antara keempat bulan mulia ini, Muharram adalah yang termulia.

Pada bulan-bulan itu kita disunnahkan berpuasa. Pahala berpuasa di bulan-bulan tersebut sangat besar. Yang paling besar adalah puasa di bulan Muharram, khususnya pada tanggal 10 (‘Asyura’).

Dengan demikian, bulan Muharram di dalam Islam adalah bulan paling mulia, dan ‘Asyura’ adalah hari yang sangat agung. Hanya bulan Ramadhan yang mampu mengungguli bulan dan hari-hari Muharram. Rasulullah SAW. bersabda:

عن أبي هريرة رضي الله عنه قال قال رسول الله  صلى الله عليه وسلم  ثم أفضل الصيام بعد رمضان شهر الله المحرم (متفق عليه)

 “Seutama-utama puasa setelah Ramadhan adalah bulan Allah Muharram. (Riwayat Al-Bukhari dan Muslim)

Hanya saja, cara memuliakan bulan tersebut bukanlah seperti yang dilakukan orang Jawa abangan dan priyayi tadi. Kita disunnahkan berpuasa di bulan itu, tetapi puasanya bukan sehari semalam penuh. Berpuasa cara demikian bukanlah ajaran Islam, melainkan ajaran agama lain. Sedang puasa ala Islam hanya berlangsung sejak terbitnya fajar hingga tenggelamnya matahari.

Laku-laku lain seperti disebut tadi juga bukan ajaran Islam, melainkan sisa peninggalan zaman pra-Islam. Entah zaman Hindu-Budha, atau bahkan zaman sebelumnya yang sudah bercampur baur. Dalam ritus-ritus tadi ada terselip kepercayaan animisme. Yaitu sebuah kepercayaan mengenai adanya roh jahat dan baik dalam setiap benda yang ada. Seperti pada pohon yang tinggi, kuburan kuno, gunung, lautan (khususnya Laut Kidul yang dipercaya sebagai tempat bersemayamnya Ratu Kidul) dan semacamnya. Karena itu, mereka melakukan penyembahan dan sesajen kepada makhluk-makhluk tersebut, supaya yang jahat tidak mencelakakan mereka dan yang baik melindungi mereka dari kejahatan roh jahat. Tetapi sesajen dengan kepala kerbau yang ditanam di tanah atau diceburkan ke laut merupakan warisan zaman Hindu. Sebab, sesajen pada masa sebelumnya hanya dengan kembang.

Sedang pengeramatan benda-benda pusaka (seperti keris, tombak dan semacamnya) berasal dari kepercayaan dinamisme. Yaitu suatu kepercayaan di mana orang melakukan laku batin supaya dapat menundukkan alam, dengan meminjam benda-benda keramat tadi. Memandikan benda-benda pusaka tersebut pada 1 Suro adalah dalam rangka mengambil barokah dari bulan dan hari tersebut, supaya kesaktian benda-benda tersebut semakin meningkat, berkat kemulian hari tersebut.

Kalau begitu, apa mereka bukan kaum muslim? Mereka adalah kaum muslim. Walau “hanya” Islam KTP,  abangan atau priyayi. Penggunaan bulan Suro itu sendiri menegaskan identitas keislaman mereka. Sebab, bulan Suro tidak ada dalam penanggalan asli Jawa. Itu adalah bulan (Muharram) dalam penanggalan Islam yang kemudian mereka rengkuh, dan namai sendiri. Suro, barangkali, berasal dari ‘Asyuro, yaitu tanggal 10 Muharram.

Lalu bagaimana bisa terjadi, mereka memeluk Islam tapi sekaligus mempraktekkan ritus-ritus agama lain? Bisa saja karena setidaknya dua faktor. Faktor pertama adalah watak kebudayaan Jawa itu sendiri yang sinkretik.

Faktor kedua barangkali bisa ditelusuri cara dakwah Walisongo, terutama Sunan Kalijaga, dan pada zaman Sultan Agung. Saat memerintah Kerajaan Mataram Sultan Agung banyak memperkenalkan ajaran, ritus dan budaya Islam ke dalam istana. Beliaulah yang konon mempermaklumkan perubahan penanggalan Jawa, dan menetapkan bulan-bulan Arab dipakai bagi penanggalan Jawa, meski nama telah mengalami perubahan sesuai dengan lidah orang Jawa: Suro, Sapar, Mulut, Bakdo Mulut, Jumadil Awal, Jumadil Akir, Rejeb, Ruwah, Poso, Sawal, Selo, Besar.

Sunan Kalijaga dalam dakwahnya sangat mementingkan harmoni. Beliau tidak hendak mengubah masyarakat secara drastik, melainkan secara perlahan dan bertahap. Istilahnya, “mengikuti sambil mempengaruhi”. Beliau yakin, jika mereka telah memahami Islam dengan baik, dengan sendirinya mereka akan meninggalkan kebiasaan lama.

Karena itu, beliau sangat toleran terhadap budaya lokal. Beliau biarkan tradisi berjalan seperti adanya karena pada hemat beliau, masyarakat akan menjauh bila diserang pendiriannya. Dengan kata lain, beliau juga mempergunakan metode sinkretik dalam dakwah.

Nyatanya, metode yang beliau terapkan cukup efektif. Banyak adipati dan penguasa yang masuk Islam berkat dakwah Sunan Kalijaga: Adipati Padanaran, Kartasura, Kebumen, Banyumas, serta Pajang.

Kalijaga benar. Semakin dipahami Islam, tradisi-tradisi itu akan hilang dengan sendiri. Jika kita perbandingan keadaan dulu dan kini, maka sudah banyaklah berkurang tradisi tadi di kalangan komunitas muslim.

Hanya saja, pergerakannya memang belum maksimal. Terbukti, masih banyak pula kaum abangan yang masih terjerat oleh tradisi-tradisi tersebut. Padahal, sebagian sangat berbahaya bagi akidah mereka – dapat membuat mereka syirik. Tampaknya, ini semua menegaskan pada kita tentang pentingnya meningkatkan dakwah kepada mereka, dengan membuat mereka lebih melek terhadap ajaran Islam yang sebenarnya. Mereka harus dibuat melek, bahwa menyambut Muharram (Suro) dengan cara yang “tidak-tidak” tadi bukanlah cara yang benar. Alih-alih memuliakan, kita justru mencederai bulan tersebut. Alih-alih mendapat berkah dan pahala, bisa-bisa kita mendapat celaka dan dosa lewat cara-cara tadi. Atau, jangan-jangan, kita malah ketiban syirik karenanya. Wal ‘iyadzu billah.  Hamid Ahmad

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

RSS
Telegram
WhatsApp