Istighfarku Butuh Istighfar

Apa maksudnya kalimat “istighfaruna yahtaju ila istighfaarin” ? Syukron atas jawabannya.

AlyGresik

03171508xxx

Diriwayatkan dari Imam Hasan Al-Bashri, beliau berkata: “istighfaarunaa yahtaaju ilaa istighfaarin” “Istifghfar (permohonan ampun) kita masih butuh kepada istighfar”

Kalimat yang hampir sama diriwayatkan dari Robi’atul ‘Adawiyah dengan lafadz : “istafaarunaa yahtaaju ilaa istighfaarin katsiirin” “Istighfar kita masih membutuhkan istighfar yang banyak”.

Berkata Imam Al-Qurthubi: Ini – perkataan Hasan Al-Bashri atau Robi’atul Adawiyah – dilontarkan pada masanya. Maka bagaimana pula dengan saat ini. Banyak orang selalu berbuat dzolim dan tasbih selalu ditangannya, akan tetapi tidak pernah melepaskan diri dari perbuatan dosa. Mereka menyangka telah memohon ampun dari dosa-dosanya. Ini adalah pelecehan dan penghinaan.

Allah SWT berfirman:

وَإِذَا فَعَلُوا فَاحِشَةً قَالُوا وَجَدْنَا عَلَيْهَا آَبَاءَنَا وَاللَّهُ أَمَرَنَا بِهَا قُلْ إِنَّ اللَّهَ لَا يَأْمُرُ بِالْفَحْشَاءِ أَتَقُولُونَ عَلَى اللَّهِ مَا لَا تَعْلَمُونَ

“Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau Menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain dari pada Allah? dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui”.

Berkata para ulama: Istighfar yang diperintahkan adalah permohonan ampun yang dapat melepaskan dari perbuatan dosa yang selalu dilakukan dan makna dari kalimat istighfar itu menancap di kalbu, tidak sekedar terucap di lisan. Sedangkan apabila lisannya melafadzkan kalimat “Astaghfirullah” padahal masih terus melakukan perbuatan maksiyat, maka bacaan istighfarnya masih membutuhkan istighfar lagi. Inilah yang dimaksud dari perkataan Hasan al-Bashri.

Berkata Imam Al-Subki: Adapun istighfar kita masih membutuhkan kepada istighfar lagi – sebagaimana dikatakan oleh Rabi’atul Adawiyah -. Demikian ini disebabkan tidak sempurnanya istighfar kita karena kosongnya hati dari makna istighfar itu sendiri. Akan tetapi meskipun demikian, bukan berarti akan lebih baik kita tinggalkan dan diam sama sekali. Karena apabila lisan dibiasakan selalu berdzikir membaca istighfar, lama-kelamaan dapat meresap ke dalam hati sehingga makna istighfar itu sesuai dengan perbuatannya”.

Lihat. Ghoyatu al-bayan hal. 340, Tafsir Al-Qurthubi juz lV hal. 209, Syarah Jam’ul Jawami’ juz ll hal. 394.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

RSS
Telegram
WhatsApp