Awas! setanisasi acara TV

Jika terdapat pemilihan guru atau orang tua teladan, pastilah TV pemenangnya. Kotak ajaib ini telah menjadi setan yang sangat menakutkan. Inilah serangan Barat pada kita. Bukan dengan senjata, melainkan dengan bagian halus budaya-budaya serba materi yang mereka ciptakan sendiri. Televisi, meski tidak semua tayangannya merusak moral, telah berperan besar terhadap pembalikan nilai di masyarakat. Kriminal yang semakin beragam di tengah masyarakat kita adalah bentuk nyata dari sifat imitatif (meniru) masyarakat kita. Life Style (gaya hidup) yang berubah tanpa memperhatikan norma yang seharusnya dipakai telah menjadi trade mark masyarakat. Dalam benak pikiran masyarakat kita kurang sempurna hidup jika tidak menonton dan meniru apa yang ada di TV. Dua hal ini telah begitu kuat masuk dalam alam tidak sadar mereka, sehingga benar-benar menjadi kendali “penjerumusan” yang sangat ampuh.

Neil Postman, seorang pakar media dan informasi Amerika Serikat terkemuka, mengungkap sebuah fakta mengerikan dari tahun 1995, di situ ditemukan anak-anak usia 10-16 tahun yang banyak melihat tayangan mesum akan lebih cepat melakukan hubungan seksual di luar nikah. Bukan hal yang aneh bila ada penelitian di AS yang menyebutkan bahwa remaja-remaja putri di atas 75% sudah tidak perawan lagi. Ternyata Indonesia yang lebih 80% warganya muslim tidak mau kalah.

Pada tahun 2002, Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) melakukan penelitian tentang perilaku seks remaja kita pada enam kota di Jawa Barat. Dari penelitan itu diperoleh data sekitar 40 % remaja kita yang berusia 15-24 tahun mengaku pernah melakukan hubungan seks pranikah.

Hasil penelitian ini kemudian diperkuat dengan temuan VCD berisi adegan pelajar SMA di Cianjur yang melakukan hubungan seks di ruang kelas sekolahnya.

Berbagai temuan negatif ini tentu saja mencemaskan seluruh orangtua yang berotak waras. Tapi kebanyakan orang tua cuma sampai di situ, tak tahu apa yang harus diperbuat.

Fakta lain menyebutkan, “meski AS memiliki 440 ribu polisi federal, setiap jam terjadi dua kali pembunuhan, 194 kali perampokan bersenjata, 10 kali pemerkosaan terhadap wanita dan anak-anak dan 600 kali pencurian di rumah-rumah.” Bagaimana dengan negeri kita ? Tidak jauh berbeda. Meski belum ada data kolektif yang resmi menyebutkan angka-angka tersebut. Lihatlah tayangan TV seperti Patroli, Buser, Sidik, Derap Hukum, TKP, setiap hari menyuguhkan fakta kriminal.

Bodohnya, televisi di negeri kita ini telah menjadi teman setia dan bahkan prasyarat hidup setiap keluarga. Hidup dan menjalani kehidupan tidak terasa utuh dan lengkap tanpa TV. Dengan harganya yang murah meriah, ia tak lagi menjadi barang mewah, tetapi juga bisa dimiliki oleh setiap lapisan masyarakat, termasuk mereka yang ada di bawah garis kemiskinan.

Parahnya lagi, ketika ada i’tikad baik dari pemerintah untuk mensosialisasikan RUU APP, justru banyak dari kalangan muslim sendiri yang menentang. Padahal, pada tahun 2001 saja, BBC dan CNN melaporkan Indonesia dan Rusia merupakan pemasok terbesar materi pornografi anak, di mana anak-anak ditampilkan dalam adegan-adegan seksual. Materi tersebut kemudian dijual, diekspor ke suatu jarigan situs pornogafi anak di Texas.

Televisi telah menjadi “nabi” baru yang setiap tayangannya akan diturut masyarakat. Bila hari ini ditampilkan seorang artis dengan mode baru pakaian yang membuka aurat, beberapa hari kemudian sebagian perempuan kita sudah tampil dengan pakaian mode serupa yang membuka aurat.

Sialnya, “kepatuhan” yang seperti itu malah memicu media untuk tampil lebih liar lagi, sehingga ia menjadi kekuatan yang selalu mendikte dan mengendalikan kehidupan masyarakat, bahkan sampai pada hal-hal terkecil sekalipun. Anda pernah melihat anak-anak muda mengenakan celana jeans dengan lobang di bagian lututnya? Siapa yang membuat mereka bangga—seharusnya mereka malu—berpakaian ala gembel seperti jika bukan TV dan media massa yang lain.

Alhasil, TV sudah naik pangkat dari “nabi” menjadi “tuhan” baru bagi masyarakat yang mau menjadi “hamba-hambanya” yang bodoh. Tuhan baru ini mampu menjungkirbalikkan norma masyarakat dari seharusnya memalukan menjadi membanggakan, dan yang seharusnya membanggakan menjadi memalukan.

Selebritis dan Kriminalitas

Hainah Ellydar, atau yang akrab disapa Elly Risman, pendiri Yayasan Kita dan Buah Hati (YKBH) Jakarta mengungkapkan bahwa sekitar 60 juta anak Indonesia menonton TV selama berjam-jam, sepanjang hari. Mulai dari acara gosip selebritis, berita kriminal berdarah-darah, sinetron remaja yang penuh kekerasan, seks, intrik, mistis dan amoral. Termasuk juga acara untuk anak yang berisi adegan yang tidak aman dan tidak pantas ditonton anak.

Bayangkan, kalau anak-anak kita satu dari mereka yang tiap hari harus menelan hal-hal dari TV yang jelas-jelas tidak untuk mereka tapi untuk orang dewasa. Anak-anak akan sangat berpotensi untuk kehilangan keceriaan dan kepolosan mereka karena masuknya persoalan orang dewasa dalam keseharian mereka. Akibatnya sering terjadi gangguan psikologi dan ketidakseimbangan emosi dalam bentuk kesulitan konsentrasi, perilaku kekerasan, pertanyaan-pertanyaan yang “di luar dugaan” dan sebagainya.

Hanya sedikit anak yang beruntung bisa memiliki berbagai kegiatan, fasilitas dan orang tua yang baik sehinggga bisa mengalihkan waktu anak untuk hal-hal yang lebih penting daripada sekadar menonton TV.

Keberadaan pengaruh TV saat ini identik dengan sifat Dajjal. Dajjal, keduanya dengan mudah menjadikan manusia berbondong-bondong murtad dan ingkar kepada Allah. Ini tidak jauh beda dengan tayangan-tayangan menyesatkan yang dicekokkan televisi kepada masyarakat. Tayangan dengan standar moral rendahan ini jika dibiarkan terus, akan mengurung dan mengerdilkan entitas ruh dan imajinasi, serta membuat nafsu semakin liar tak terkendali, hingga akhirnya murtad dari agama Allah.

Mudah ditebak, apa yang akan terjadi di negeri ini pada masa-masa mendatang jika anak-anak dan remaja kita tetap dibiarkan dibanjiri virus mental yang mematikan dari televisi ini? lantas apa yang harus kita lakukan? Ini memang tidak mudah, tapi tetap harus kita lakukan. “Singkirkan kotak setan itu dari rumah kita sekarang juga.” Sampai memang benar-benar ada TV Dakwah yang bisa membimbing rohaniah kita. Awie

Dipakai Stopper atau eye catching

Dari penelitan itu diperoleh data sekitar 40 % remaja kita yang berusia 15-24 tahun mengaku pernah melakukan hubungan seks pranikah

Pada tahun 2001 saja, BBC dan CNN melaporkan Indonesia dan Rusia merupakan pemasok terbesar materi pornografi anak, di mana anak-anak ditampilkan dalam adegan-adegan seksual

“Singkirkan kotak setan itu dari rumah kita sekarang juga.”

Letakkan dalam kotak khusus

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

RSS
Telegram
WhatsApp