Sejarah Ringkas dan Dalil Maulid

Wawancara dengan al Ustadz Sholeh bin Ahmad Alaydrus

Kegiatan acara Maulid Nabi Muhammad SAW sudah berlangsung ratusan tahun, tapi mengapa masih ada orang yang menggugatnya? Pertama, mungkin karena ketidaktahuan tentang hakikat maulid Nabi dan dalil-dali syar’inya. Kedua, boleh jadi ada unsur kesengajaan untuk menolaknya atas dasar rasa ketidak-sukaan semata-mata. Untuk itu, kali ini Cahaya Nabawiy (CN) mewawancarai Ustadz Sholeh bin Ahmad Alaydrus., pengasuh Majelis Ta’lim Riyadus Shalihin ini dan guru di Ponpes Darul Hadits-Malang. Narasumber kali ini yang juga alumni Ponpes Abuya Al-Maliki (Mekkah) termasuk  ustadz yang sering mengadakan acara maulid Nabi Muhammad SAW. Berikut petikan wawancara dengan Ernaz Siswanto:

Bagaimanakah sejarah awal mula peringatan maulid Rasul SAW?

Perayaan Maulid seperti yang kita adakan dan saksikan selama ini dimulai sebelum tahun 604 oleh seorang raja yang mulia Al-Malikul Mudhoffar Abu Sa’id Kukburi bin Zainuddin Ali bin Buktukin. Perayaan maulid ini, beliau adakan pada setiap bulan Rabi’ul ‘Awwal dan dihadiri oleh ‘ulama pada zaman itu, dengan   mengumpulkan umat untuk bersama-sama membaca Al-Qur’an dan shalawat serta puji-pujian pada Rasulullah SAW. Setiap perayaan maulid, beliau menghabiskan dana sebesar 300.000 dinar, sedangkan pakaian yang ia pakai harganya tidak lebih dari 5 dinar. Suatu hari beliau ditanya oleh istrinya yang bernama Rabi’ah Khatun binti Ayyub (saudari dari Shalahuddin Al-Ayyubi panglima perang salib),  “Kenapa engkau tidak berat mengeluarkan shadaqah sebanyak itu padahal pakaianmu tidak lebih dari 5 dinar?” Beliau pun menjawab “Aku memakai pakaian yang murah dan bersedekah dengan sisa uang yang ada lebih baik daripada aku berpakaian mewah tetapi aku menelantarkan orang miskin.”

Apakah dalilnya yang membolehkan kaum muslimin untuk mengadakan perkumpulan apapun dalam rangka memperingati maulid Rasul SAW?

Banyak sekali dalil, baik dari Al-Qur’an maupun Al-Hadits berkenaan dengan mengadakan perkumpulan dalam rangka memperingati maulid Rasul SAW, di antaranya:

قُلْ بِفَضْلِ اللَّهِ وَبِرَحْمَتِهِ فَبِذَلِكَ فَلْيَفْرَحُوا هُوَ خَيْرٌ مِمَّا يَجْمَعُونَ

Katakanlah: “Dengan kurnia Allah dan rahmat-Nya, hendaklah dengan itu mereka bergembira. kurnia Allah dan rahmat-Nya itu adalah lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan”.(QS. Yunus: 58)

Ayat tersebut di atas menganjurkan kita untuk melahirkan rasa senang dan gembira ketika mendapatkan karunia dan rahmat Allah SWT. Dan tidak ada karunia yang paling mulia dan rahmat yang paling agung melebihi dilahirkannya Nabi Muhammad SAW. Juga terdapat kisah Nabi Isa yang menjadikan hari turunnya hidangan dari langit sebagai Ied (hari raya), maka tidakkah lebih pantas hari kelahiran Nabi Muhammad SAW sebagai hari yang sangat bersejarah? firmanNya:

وَمِنَ الَّذِينَ قَالُوا إِنَّا نَصَارَى أَخَذْنَا مِيثَاقَهُمْ فَنَسُوا حَظًّا مِمَّا ذُكِّرُوا بِهِ فَأَغْرَيْنَا بَيْنَهُمُ الْعَدَاوَةَ وَالْبَغْضَاءَ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ وَسَوْفَ يُنَبِّئُهُمُ اللَّهُ بِمَا كَانُوا يَصْنَعُونَ

Dan diantara orang-orang yang mengatakan: “Sesungguhnya Kami ini orang-orang Nasrani”, ada yang telah Kami ambil Perjanjian mereka, tetapi mereka (sengaja) melupakan sebagian dari apa yang mereka telah diberi peringatan dengannya; Maka Kami timbulkan di antara mereka permusuhan dan kebencian sampai hari kiamat. dan kelak Allah akan memberitakan kepada mereka apa yang mereka kerjakan.(QS. Al Maidah:14)

Diriwayatkan oleh Imam Bukhari: “Ketika Nabi Muhammad SAW masuk kota Madinah beliau dapati orang-orang Yahudi melakukan puasa Asyura, lantas beliau SAW bertanya ‘kenapa kalian melakukan puasa Asyura?’ Mereka pun menjawab; ‘sebab pada hari Asyura Allah SWT menyelamatkan Nabi Musa dan kaumnya serta menenggelamkan Fir’aun dan pasukan-pasukannya, maka kami lakukan puasa ini sebagai ungkapan rasa syukur kepada Allah SWT atas nikmat yang agung ini.’  Kemudian beliau bersabada: ‘Aku lebih berhak atas Nabi Musa daripada kalian’, maka beliau melakukan puasa dan menganjurkan umatnya untuk berpuasa (HR. Bukhari).  

Jika beliau lebih berhak untuk mengungkapkan rasa syukur atas selamatnya Nabi Musa dan kaumnya daripada orang Yahudi, tidakkah kita lebih berhak untuk mensyukuri kelahiran Nabi Muhammad SAW di tengah-tengah kita?

Apakah terdapat keterangan yang menjelaskan bahwa beliau SAW merayakan atau memerintahkan sahabat-sahabatnya untuk memperingati hari kelahirannya?

Perayaan maulid seperti yang kita adakan dan saksikan bersama ini memang tidak pernah diadakan oleh Nabi dan para sahabatnya. Hal ini disebabkan oleh kesibukan beliau untuk mengemban dakwah, menyebarkan risalah, berperang dalam menghadapi musuh-musuh Islam dan kesibukan-kesibukan lainnya. Akan tetapi bukan berarti beliau SAW tidak memperingati maulid (kelahirannya), bahkan ungkapan perasaan gembira tersebut dengan cara melakukan puasa. Suatu hari beliau ditanya oleh salah seorang sahabat: ”Sesungguhnya Nabi SAW ditanya tentang puasa hari senin, maka beliau menjawab: ‘pada hari itu aku dilahirkan dan pada hari itu pula diturunkan wahyu padaku’.” (HR. Muslim). Hadits tersebut menunjukkan bahwa beliau pun senang akan hari kelahirannya walaupun dalam konteks yang tidak sama (dengan cara berpuasa) dan kita memperingati dengan cara mengumpulkan orang-orang untuk membaca Al Qur’an, berdzikir, bershalawat dan bersedekah akan tetapi tujuannya adalah sama.

Dan lagi, tidak semua yang tidak  dilakukan oleh Rasulullah itu dilarang. Melarang sesuatu itu harus ada nash dasarnya. Maka ada ungkapan ulama’ yang mengatakan

التَرْكُ ليس بحجّةٍ في شرعنا       *           لايقتضى منعا ولا ايجابًا

فمن ابتغى حظرا لترك نبينا        *           ورآه حكمًا صادقًا وصواباً

قد ضلّ عن نهج الأدلّة كلُّها        * بل اخطأ الحكمَ الصّحيح وخابا

Sikap nabi yang tidak melakukan sesuatu bukanlah termasuk hujjah dalam syari’at kita. Dan tidak mengarah kepada larangan dan tidak juga pengharusan. Siapa yang menghendakinya sebagai suatu larangan hanya karena ditinggalkan oleh nabi kita dan dia berasumsi bahwa itulah hukum yang tepat dan benar, maka dia telah menyimpang dari manhaj dalil seluruhnya. Bahkan juga telah melakukan kekliruan terhadap hukum yang benar dan nyata.

Peringatan maulid merupakan hal yang baik, sebagaimana kata-kata Imam Syafi’i:

مَا أَحْدَثَ وَ خَالَفَ كِتَابًا أَوِ السنة أو اجماعا أو أثرا فهو البدعة الضَلاَلة وَمَا أَحْدَثَ من الخَيْرِ وَلمَ ْيُخَالِفْ شَيِأً مِنْ ذلِكَ فَهُوَ الْمَحْمُوْد.

“Sesuatu yang baru dan itu bertentangan dengan alqur’an atau sunnah atau ijma (kesepakatan ulama) atau atsar (riwayat) maka dinyatakan bid’ah dan apa yang diadakan daripada kebaikan dan tidak bertentangan sedikitpun daripada itu semuanya maka itu adalah perbuatan terpuji”.

Sebetulnya apakah ada pembagian-pembagian bid’ah? Contohnya?

Bid’ah menurut bahasa adalah sesuatu yang baru. Sedangkan menurut istilah adalah sesuatu yang baru dan tidak pernah dilakukan oleh Nabi SAW. Imam Syafi’i membagi bid’ah dalam dua bagian mahmudah (terpuji) dan madzmumah (tercela). Jika perbuatan tersebut sesuai dengan Al-Qur’an dan As-Sunnah maka itu adalah bid’ah mahmudah, sedangkan bila bertentangan dengan Al-Qur’an dan As-Sunnah maka itu adalah madzmumah. Sedang menurut Sulthanul Ulama’ Izzuddin bin Abdissalam bid’ah tersebut dibagi menjadi lima bagian, antara lain:

  1. Wajib, misalnya mengumpulkan Al-Qur’an dalam satu mushafa, membukukan  hadits-hadits Nabi SAW.
  2. Mandubah, misalnya shalat tarawih secara berjama’ah, azan dua kali ketika shalat Jum’ah dan sebagaianya.
  3. Makruh misalnya menghias mushaf (Al-Qur’an)
  4. Muharramah misalnya menambah bilangan rakaat dalam shalat yang sudah ada (seperti shalat subuh 3 rakaat)
  5. Mubahah, misalnya bersalam-salaman setelah shalat subuh dan shalat ashar

Bagaimana pandangan ulama-ulama salaf berkaitan dengan upacara peringatan maulid?

Banyak sekali di antara ulama yang menyambut positif  akan perayaan maulid. Sejak perayaan maulid diadakan, sehingga jika akhir-akhir ini dipermasalahkan oleh beberapa golongan kecil tidak akan mempengaruhi pendapat sebagaian besar dari ‘ulama yang kadar keilmuannya jauh lebih tinggi dibanding dengan mereka yang melarang, bahkan menganggapnya syirik. Di antara pendapat itu:

Ibnu Taymiyah: “Maka memuliakan maulid dan menjadikan setiap tahun kadang-kadang dilakukan oleh sebagian orang akan mendapatkan pahala yang besar karena niat dan tujuan yang baik serta memuliakan Rasulullah SAW”. (Kitab Haulal Ihtifal Bi Maulidin Nabawiy Asy Syarif, karangan Syeh Maliky hal. 23)

Imam Abu Syamah Asy Syafi’i (guru Imam Nawawi): “dan sebagian hal yang baik dari sesuatu yang baru pada zaman kita adalah apa yang dilakukan setiap tahun pada hari yang bertepatan dengan hari kelahiran Nabi SAW dari mengeluarkan shadaqah, berbuat baik dan menempatkan kegembiraan, maka  yang demikian ini dibarengi dengan berbuat baik kepada fuqara’ menimbulkan rasa mahabbah kepada beliau SAW. Dan rasa ta’dzim pada diri pelakunya sekaligus ungkapan rasa syukur kepada Allah atas nikmat dilahirkannya Nabi Muhammad SAW sebagai rahmatan lil ‘alamin.”

Ibnu Hajar Al Haitami Asy Syafi’i: “Kesimpulannya bahwa bid’ah hasanah adalah disepakati atas penganjurannya, dan perayaan maulid serta berkumpulnya orang-orang untuk itu adalah termasuk di dalamnya.

Bagaimana pandangan Ustadz berkaitan dengan sebagaian orang-orang muslim yang lebih mengutamakan acara maulid dan meninggalkan shalat lima waktu?

Sebenarnya cinta maulid itu selaras dengan shalat 5 waktu, itu merupakan sebuah keniscayaan. Orang yang cinta shalat 5 waktu tentunya selaras dengan cinta rasul, yang salah satu wujudnya adalah acara kegiatan maulid ini. Maka sangat tidak tepat sekali orang yang katanya cinta Rasul, tapi tidak shalat 5 waktu. Ini merupakan sebuah  mahabbah yang bohong. Sebagaimana ungkapan sya’ir:

تعصي الإله و أنت تَزْعُمُ حبّه                 * هذا لعمري في القياس شنيع   

لو كان حبّك صادقا لأطعتَهُ              * إنّ المحبَّ لمن يحبّ مطيع

Engkau berbuat maksiat kepada Tuhan sedangkan engkau mengaku cinta kepadaNya.

Ini benar – benar sangat jelek dalam pemikiranku

Seandainya cintamu kepada Allah SWT (dan rasulNya) benar, niscaya engkau akan taat kepadaNya

Sebab sesungguhnya orang yang mencintai pasti taat kepada yang dicintainya

Apakah pada malam upacara peringatan Maulid Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa salam datang? Lalu bagaimana dengan hadits yang menandaskan bahwa beliau tidak akan bangkit dari kuburnya sebelum hari kiamat, yang hal ini berarti bahwa beliau  tidak berkomunikasi kepada seorang pun, dan tidak menghadiri pertemuan pertemuan umatnya, tetapi beliau tetap tinggal di dalam kuburnya sampai datang hari kiamat, sedangkan ruhnya ditempatkan pada tempat yang paling tinggi (‘Illiyyin )?

Secara dhahir ahli hadits tidak ada hadits yang menyatakan bahwa Rasulullah hadir di majelis bersama jasadnya. Tetapi ahli tasawuf yang menyatakan itu. Tetapi bagi ahli hadits, tidak usah datang pun suara kita sudah kedengaran bagi Rasulullah. Kehidupan barzakh adalah kehidupan yang hakiki. Banyak sekali hadits dan riwayat yang menyatakan bahwa mayat itu bisa mendengar, merasa dan mengetahui, terlepas apakah mayat itu kafir atau mukmin. Di antaranya adalah hadits Al-Qalib yang terdapat dalam  Bukhari-Muslim dari berbagai sanad dari Abu Thalhah, Umar dan Ibnu Umar, bahwa Rasulullah SAW memerintah dua puluh empat orang pemberani Qurasiy, lalu mereka ditempatkan di salah satu lembah Badar, kemudian Rasulullah SAW memanggil dan menyebut mereka, “Wahai Abu Jahal bin Hisyam, Wahai Umayah bin Khlafa, Wahai Utbah bin Rabi’ah, wahai Syaibah bin Rabi’ah, wahai fulan bin fulan, bukankah kalian telah menemukan sesuatu yang dijanjikan Tuhanmu sebagai suatu kebenaran? Karena sesungguhnya aku telah menemukan sesuatu yang dijanjikan tuhanku kepadaku sebagai kebenaran.” Lalu umar berkata, “Wahai Rasulullah, jasad-jasad yang tidak ada ruhnya tidak bisa berbicara?” kemudian Rasul SAW menimpalinya, “Demi zat yang diriku berada di tanganNya, kalian tidak lebih mendengar apa yang aku katakan daripada mereka, tetapi mereka tidak mampu menjawabnya.” (HR. Bukhari Muslim). Dan perlu diingat, bahwa setiap salam yang disampaikan oleh umatnya kepada nabi, Allah akan mengembalikan ruhnya dan beliau SAW akan menjawab salam umatnya. Sebagaimana diriwayatkan dari Abu Hurairah, Rasul SAW bersabda: “tidaklah seseorang memberi salam kepadaku kecuali Allah mengembalikan ruhku kepadaku sehingga aku menjawab salamnya.” (HR. Abu Dawud, At Targhib, Juz II, hal:499). (Ernaz Siswanto)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

RSS
Telegram
WhatsApp