Hadits Ikhtilafu Ummati

Ust,  ingin tanya tentang hadits yang tidak ana mengerti yakni: “ikhtilafu ummati rahmatun”,  dengan hadits: “Ikhtilafu ashabi lakum rahmatun”. Yang ingin aku tanyakan, apa kedua hadits itu sama-sama benar atau salah satunya yang benar?  Mohon penjelasannya. Syukron katsiron!.

Dr. Lukman Haqim

Sengon Dinoyo Purwosari

085232123xxx 

Hadits “ikhtilafu ummati rohmatun” adalah masyhur di kalangan para ulama, dan disampaikan oleh beberapa ulama. Di antaranya Al-Halimy, Al-Qodli Husein, Imam Al-Haramain dan Imam Nawawi dalam Syarah Muslim. Beberapa ahli hadits memang tidak menemukan mata rantai periwayat hadits ini. Imam Al-Suyuthi, pakar hadits yang sudah tidak diragukan lagi keahliannya berkata: “Barangkali mata rantai itu disebutkan dalam sebagian kitab ahli hadits akan tetapi tidak sampai kepada kita”.

Meskipun belum ditemukan mata rantai perawi hadits ini, akan tetapi beberapa hadits senada yang memiliki pengertian yang sama disebutkan oleh beberapa ahli hadits. Misalnya hadits yang diriwayatkan oleh Imam AL-Bayhaqi pada catatan kaki kitab Risalah Asy’ariyah dan kitab Al-Madkhol yang diriwayatkan oleh Sulayman bin Abi Karimah dari Juwaybir dari Al-Dlohhak dari Ibnu Abbas, dan diriwayatkan pula oleh Al-Daylami dalam kitab Musnad Al-Firdaus, dan Al-Thobroni dalam kitab kumpulan haditsnya , dengan lafadz : “ikhtilafu ashaabii lakum ramatun” “Perbedaan para sahabatku adalah rahmat” dan lafadz: “ikhtilafu ashabi Muhammadin SAW rahmatun li’ibaadillahi” “Perbedaan para sahabat Muhammad SAW adalah rahmat”

Ada pula hadits senada yang disebutkan olah Al-‘Iraqi dari riwayat Adam bin Abi Iyas dengan lafadz : “ikhtilafu ashaabii rahmatun liummatii” “Perbedaan sahabat-sahabatku adalah rahmat bagi ummatku”.

Berkata Abdullah Al-Khifaji dalam kitab Al-Siroh Al-Halabiyah: Dan diqiyaskan dengan para sahabat Nabi – dalam hadits diatas -, ulama-ulama yang telah mencapai derajat mujtahid”.

Berkata Imam Al-Sakhowi dalam kitab Al-Maqosid Al-Hasanah: “Aku membaca hadits ini –  “ikhtilafu ummati rohmatun”dari tulisan guruku Al-Hafidz Ibnu Hajar Al-‘Asqolani, bahwa ini adalah hadits yang masyhur dan sering diucapkan. Dan Imam Ibnu Hajib juga menyampaikannya dengan lafadz: “ikhtilafu ummati rohmatun linnasi” “Perbedaan ummatku adalah rahmat bagi manusia”.

Banyak pertanyaan mengenai hadits ini, banyak juga ulama yang menyangka hadits ini tidak berdasar. Akan tetapi Al-Khattobi menyebutkannya dalam kitab Ghoribul Hadits. Kemudian berkata Al-Khattobi : Hadits ini dikritik oleh dua orang, yang satu suka melucu – buta agama – yaitu ‘Amr bin Bahr Al-Jahidh dan satunya lagi yang menyimpang akidahnya yaitu Ishaq bin Ibrohim Al-Mushili. Keduanya berkata: “Jika perbedaan dianggap rahmat, berarti kesepakatan merupakan adzab”.

Imam Nawawi menjawab dalam kitab Syarah Muslim: Tidak selamanya adanya sesuatu berupa rahmat menjadikan kebalikannya sebagai adzab. Allah SWT berfirman:

وَمِنْ رَحْمَتِهِ جَعَلَ لَكُمُ اللَّيْلَ وَالنَّهَارَ لِتَسْكُنُوا فِيهِ وَلِتَبْتَغُوا مِنْ فَضْلِهِ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ

“Dan karena rahmat-Nya, Dia jadikan untukmu malam dan siang, supaya kamu beristirahat pada malam itu dan supaya kamu mencari sebahagian dari karunia-Nya (pada siang hari) dan agar kamu bersyukur kepada-Nya. QS:Al-Qoshosh:73

Disin Allah SWT menjadikan malam hari sebagai rahmat bukan berarti siangnya sebagai adzab”.

Selanjutnya Imam Al-Khattobi berkata: Perbedaan di dalam urusan agama itu ada tiga macam:

  1. Perbedaan dalam hal sifat keesaan Allah. Maka mengingkarinya berarti kufur.
  2. Perbedaan dalam hal sifat-sifat Allah dan kehendakNya. Maka mengingkarinya berarti bid’ah.
  3. Perbedaan dalam hal hukum-hukum furu’ (fiqh) yang memungkinkan terjadinya penafsiran. Maka di sinilah Allah SWT menjadikannya sebagai rahmat dan kehormatan bagi para ulama. Inilah yang dimaksud dengan makna hadits : “ikhtilafu ummati rahmatun” “Perbadaan ummatku adalah rahmat”.

Imam Al-Suyuthi berkata: “Ini menunjukkan bahwa yang dimaksudkan adalah perbedaan di dalam hukum-hukum agama”.

Ada pula pendapat yang menyatakan maksud dari hadits tersebut adalah perbedaan di dalam pekerjaan. Pendapat ini dinyatakan oleh Imam Al-Halimi.

Lihat. Kasyfu al-khifa’ juz l hal 66-67,Syarah Muslim Juz Xl hal. 74, Takhrij Ahaditsul Ihya’ juz l hal. 74, Jami’ al-masanid wa Al-Marosil juz l hal. 124, Faydlul Qodir juz l hal. 210, Tamyizu al-Thoyyib Min al-Khobits hal. 8, Al-siroh al-halabiyah juz l hal. 372, Al-ibhaj juz ll hal. 17-18, Roddu al-mukhtar juz l hal 69-70, Fatawa Al-romli juz lV hal 340-341, Mughni Al-Muhtaj juz Vl hal. 14.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

RSS
Telegram
WhatsApp