Bahaya Pemurtadan: Mengusut Starategi Busuk Musuh Islam

2006

            Upaya pemurtadan oleh musuh-musuh Islam non Muslim terhadap umat Islam secara paksa di Indonesia ternyata bukanlah sekedar isu. Banyak bukti, data, fakta, kesaksian (dari orang-orang yang akan dan telah dimurtadkan) telah diperoleh oleh tokoh-tokoh Islam maupun ormas-ormas Islam yang peduli dengan hal itu.

Dari penelitian yang dilakukan oleh  lembaga riset Arimatea, ditemukan fakta bahwa, pada tahun 1990-an jumlah umat Islam di Indonesia adalah 93 % dari keseluruhan penduduk negeri, dan umat Nasrani ± 7%. Namun, di tahun 2000 umat Islam mengalami penurunan prosentase menjadi 79% dari jumlah penduduk, dan umat Kristen ± 21%.

Penurunan secara kuantitatif umat Islam di Indonesia ini bisa disebabkan oleh beberapa faktor: Pertama, usaha terus-menerus yang dilakukan oleh para misionaris didukung dana yang besar dan bantuan program secara internasional. Kedua, kemiskinan dan keterbelakangan umat Islam menjadikan mereka begitu mudah menukar agama seperti menukar baju. Ketiga, karena rendahnya kualitas beragama umat Islam di Indonesia. Boleh jadi ia adalah seorang yang memiliki pengetahuan umum luas, kaya, namun tingkat pengetahuan Islamnya sangat minim dan akidah hanya difahami sebatas formalitas.

Setidaknya, faktor tersebut hanyalah sebagian kecil yang membuat para misionaris sekarang ini berani secara terang-terangan melakukan penyimpangan-penyimpangan
penyiaran agama dalam rangka menyebarkan Injil dan kekristenan di Indonesia. Berikut adalah beberapa contoh kasus kristenisasi yang dihimpun dari berbagai sumber terpercaya:

Pembangunan Gereja

Sudah sering ditemukan pelanggaran oleh orang-orang Kristen terhadap SKB 2 Menteri dengan melakukan pembangunan gereja dan penyebaran agama Kristen di tengah-tengah warga mayoritas Muslim. Mereka membangun gereja dengan megah. Untuk  mengisi dan meramaikan gereja pada saat kebaktian, didatangkanlah jemaat gereja dari tempat lain yang berjauhan. Nah, di saat kebaktian itulah, pihak pemuda gereja mengajak anak-anak kecil maupun orang-orang dewasa yang ada di sekitar kampung untuk mau ke gereja. Dengan iming-iming beras dan uang, symbol-simbol “kasih’ mereka pun perlahan-lahan menarik simpati warga  yang lemah imannya.

Dr. Ery Prasadja, Dekan Akademik Institute for Community and Development Studies (ICDS), dalam buku TRANSFORMASI INDONESIA, menulis;

“Gereja memiliki misi dan tanggung-jawab yang lain, yaitu menghancurkan sistem dan struktur yang jahat(kuasa gelap),…..Sistem dan struktur yang berdosa tersebut harus dihancurkan tanpa menunggu pimpinan negara dan seluruh rakyatnya bertobat kepada Tuhan Yesus Kristus. Ini adalah tugas gereja.”.(Baca: gereja/kekristenan menyakini bahwa ajaran Islam itu bersumber dari kuasa kegelapan! Red).

Pemberian Pekerjaan

            Dalam Jurnal Islam no. 88 th. II (Mei 2002), dijelaskan bahwa sebuah Yayasan Gereja di Bekasi yang bernama Dian Kaki Emas, melaksanakan perekrutan sejumlah pemuda Islam di Gorontalo untuk diberi beasiswa dan pekerjaan di pulau Jawa. Tapi sebelum diberangkatkan, mereka dibawa dulu ke Kabupaten Tanah Toraja. Di sana mereka dijejali dengan doktrin gereja. Pada kenyataanya para pemuda itu diberikan pekerjaan pada sebuah peternakan anjing dan babi, dan makanan mereka pun, setiap hari dijatah harus makan daging anjing dan babi.

            Heriyanto, salah seorang saksi hidup (guru ngaji di Gorontalo) sebagaimana dikutip dari Jurnal Islam mengatakan: “…pada kesempatan itu (ketika tiba di lokasi peternakan anjing & babi) saya melihat teman-teman kami dipaksa mengikuti ibadah di gereja yang ada di dalam kompleks tersebut. Dan yang sangat menyedihkan, kami terpaksa makan daging babi dan anjing yang selalu disediakan oleh orang-orangnya Pendeta Edi Cipto”.

Kristenisasi Pasien Muslim

Di beberapa rumah sakit, misalnya di rumah sakit Dr. Cipto Mangunkusumo
Jakarta, kepada pasien muslim dibagi-bagikan leaflet (brosur) tentang
penghiburan dan penyembuhan Yesus Kristus kepada orang-orang sakit. Di
rumah sakit Advent Bandung, pasien muslim diajak berdoa bersama oleh
rohaniawan rumah sakit dengan tata cara peribadatan Kristen.Di Surabaya, sebuah Rumah Sakit (RS)di kawasan  Darmo, pasien-pasien Muslim setiap saat didatangi pastor dido’akan sembuh, padahal mereka membayar seperti pasien Kristen yang lain. Tapi kenyamanannya selalu terganggu dengan “program” yang pasti dirangkan manjemen RS itu.

Hamilisasi  Gadis Muslimah

            Modus  operandi kristenisasi juga dilakukan melalui jalur hamilisasi (pemerkosaan gadis-gadis muslimah). Khairiyah Anniswah alias Wawah, siswi MAN Padang, setelah diculik dan dijebak oleh aktivis Kristen, diberi minuman perangsang lalu diperkosa. Setelah tidak berdaya, dia dibaptis dan dikristenkan.

Kasus serupa menimpa Linda, siswi SPK Aisyah Padang. Setelah diculik dan
disekap oleh komplotan aktivis Kristen, dia diperlakukan secara tidak
manusiawi dengan teror kejiwaan supaya murtad ke Kristen dan menyembah
Yesus Kristus.

Di Bekasi, modus pemerkosaan dilakukan lebih jahat lagi. Seorang pemuda
Kristen berpura-pura masuk Islam lalu menikahi seorang gadis muslimah yang
salehah. Setelah menikah, mereka mengadakan hubungan suami isteri. Adegan
ranjang yang telah direncanakan, difoto oleh kawan pemuda Kristen
tersebut. Setelah foto dicetak, kepada muslimah tersebut disodorkan dua
pilihan: “Tetap Islam atau Pindah ke Kristen?”. Kalau tidak pindah ke
Kristen, maka foto-foto telanjang muslimah tersebut akan disebarluaskan.
Karena  tidak kuat mental, maka dengan hati berontak muslimah tersebut dibaptis
dengan sangat-sangat terpaksa sekali, untuk menghindari aib.

Di Cipayung Jakarta Timur, seorang gadis muslimah yang taat dan
shalehah terpaksa kabur dari rumahnya. Masuk Kristen mengikuti pemuda
gereja yang berhasil menjebaknya dengan tindakan pemerkosaan dan obat-obat
terlarang. Kristenisasi melalui penyebaran Narkoba.

Di Desa Langensari, Lembang, Bandung, Yayasan Sekolah Tinggi Theologi
(STT) Doulos meyebarkan Kristen dengan cara merusak moral terlebih dahulu.
Di sana, para pemuda usia 15 tahunan dicekoki minuman keras dan obat-obat
terlarang sampai kecanduan berat. Setelah kecanduan, para pemuda harapan
bangsa itu dimasukkan ke panti rehabilitasi Doulos untuk disembuhkan
sambil dicekoki Injil supaya murtad dari Islam. (Republika, 10 dan 12 April
1999).

Kesaksian Murtaddin Palsu

Teknik pemurtadan yang lain juga dilakukan melalui kesaksian-kesaksian palsu via mantan muslim (murtaddin). Tahun 1974, GPIB Maranatha Surabaya digegerkan oleh kasus pelecehan agama oleh Pendeta “Kernas Abubakar Masyhur” Yusuf Roni. Dalam
ceramahnya, sang pendeta itu mengaku-ngaku sebagai mantan kiai, alumnus
Universitas Islarn Bandung dan pernah menjadi juri MTQ
 Internasional. Dia menafsirkan ayat-ayat Al-Qur’an dengan “tafsir kebencian” terhadap Islam.Kaset rekaman ceramah tersebut kemudian diedarkan secara luas kepada umat
Islam.

Setelah diusut tuntas, ternyata pengakuan pendeta itu hanyalah bohong
belaka Yusuf Roni ternyata tidak bisa baca Al-Qur’an. Dengan kebohongannya
itu, Pendeta Pembohong Yusuf Roni hanya diganjar penjara 7 tahun di Kalisosok,
Surabaya.
            Di Padang,  trik yang sama dipakai untuk menggoyang akidah umat. Seseorang
yang menamakan dirinya Pendeta Willy Abdul Wadud Karim Amrullah, namanya
menjadi naik daun di dunia pemurtadan Kristenisasi, setelah mengaku adik
kandung ulama besar pakar tafsir, Yang Mulia Almarhum Buya Hamka.

Orang awam banyak yang percaya tanpa check dan recheck. Langsung yakin begitu
saja dengan pengakuan bahwa “adik kandung Buya Hamka” itu sudah murtad ke
Kristen. Setelah diselidiki, ternyata pengakuan itu adalah kebohongan yang sangat
besar. Salah seorang putra Buya Hamka menyatakan bahwa sepanjang hayatnya,
dia tidak pernah punya paman yang namanya Willy Abdul Wadud Karim
Amarullah.
            Para murtaddin pendusta lainnya adalah Drs. H. A. Poernomo Winangun alias
Drs. H. Amos, Ev Hj. Christina Fatimah alias Tin Rustini (nama asli
dikampung Sutini alias Bu Nonot, Pdt. Rudy Muhammad Nurdin, Pdt. M.
Mathius, Pdt. Akmal Sani, Niang Dewi Ratu Epo n Irma F. Intan Duana Paken
Nata Sastranagara (Ev. Ivone Felicia IDp.). Mengaku telah mengkristenkan
60 kiyai Banten.

Penerbitan Buku Islam

            Kristenisasi juga dilakukan melalui penerbitan buku-buku dan kaset berkedok Islam. Setidaknya ada dua target yang ingin dicapai oleh missionaris dengan penerbitan buku-buku “berwajah” Islam tersebut. Pertama, untuk memantapkan ajaran Kristen bagi para penganutnya.Kedua, untuk mengelabui umat Islam yang masih kurang pemahaman Islamnya agar mau membaca ataupun mendengar doktrin Kristen, lalu mengikutinya. Beberapa penerbitan kristenisasi yang berkedok Islam yang ketahuan, antara lain:

Buku karya Drs. A. Poernarna Winangun: Upacara lbadah Haji, Ayat-ayat Al
Qur’an Yang Menyelamatkan
, Isa Alaihis Salam Dalam Pandangan Islam, dan
Riwayat Singkat Pusaka Peninggalan Nabi Muhammad SAW.

            Buku  Kristus dan Kristen di Dalam Al-Qur’an (Al-Masih Wal Masihiyun Fil
Qur’an
) karya Drs. Amin Al Barokah alias Danu Kholil Dinata.

Buku karya mendiang Hamran Ambrie: Allah Sudah Pilihkan Saya Kasih Buat
Hidup
Baru Dalam Yesus Kristus, Keilahian Yesus Kristus dan Allah
Tritunggal Yang Esa
, Dengan Kasih Kita Jawab, Jawaban Atas Buku Bible
Qur’an dan Science, Dialog Tertulis Islam-Kristen, Surat dari Mesir, Siap
Sedia Menjawab Tantangan Benteng Islam, Sebuah Memori Yang Tak Terlupakan,
dan lain-lain

 
            Terbitan Yayasan Jalan Al Rachrnat: Sejarah Naskah Al Qur’an dan Alkitab,
oleh John Gilchrist; Sulitkah Menjadi Orang Kristen, oleh Abdul Masih;
Siapakah Kristus Selayaknya Menurut Anda, oleh Abdul Masih; Sudah
Kutemukan, Benarkah Al-Kitab Dipalsukan, Injil Barnabas Suatu Kesaksian Palsu, Kesempurnaan Taurat dan Injil, Bagaimana Supaya Bisa Diampuni, Bagaimana Kita Berdo’a
(semua oleh Iskandar Jadeed) Kristus Menurut Islam dan Kristen, oleh John Gilchrist, Benarkah Nabi Isa Disalib, oleh John Gilchrist; Allah Itu Esa di Dalam
Tritunggal Yang Kudus
, oleh Zachariah Butrus; Selidikilah, Anda Pasti
Selamat
, oleh Sultan Muhammad Paul.

 Terbitan Yayasan Christian Centre Nehemia: Kerudung Yang Dikoyak, oleh
Gulshan Ester; Seorang Gadis Kristen Mempertanggungjawabkan Imannya, oleh
Nita; Apakah Al Qur’an Benar-benar Wahyu Allah, oleh Ev. J. Litik;
Kebenaran Firman Allah, oleh Pdt. M. Matheu s; Lima Alasan Pokok Tentang
Isi Al Qur’an Yang Menyebabkan Saya Beralih Dari Islam ke Kristen
, oleh
Ev. J. Litik; dll.

Karya Pdt. R. Muhammad Nurdin: Ayat-Ayat Penting Di Dalam Al-Qur’an,
Keselamatan Di Dalam Islam, Selamat Natal Menurut Al Qur’an, Kebenaran
Yang Benar (As-Shodiqul Mashduuq), Rahasia Allah Yang Paling Besar (As
Sirrullahil Akbar), Telah Kutemukan Rahasia Allah Yang Paling Besar, Ya
Allah Ya Ruhul Qudus Aku Selamat Dunia dan Akhirat, Wahyu Tentang Neraka,
Wahyu Keselamatan Allah
, dan lain-lain.

Kaligrafi dan kalender tulisan Arab yang berisikan ayat-ayat Injil tentang
ketuhanan Yesus. Brosur Dakwah Ukhuwah, Brosur Shirathal Mustaqim, Brosur
Jalan Al Rachmat, dan lain-lain.

               Kaset: Kaset Tilawatul Injil, Dzat dan Sirat Allah (ceramah Pendeta Kemas
Abubakar Mashur Yusuf Roni), Kesaksian murtadin Muhammad Imran, Kesaksian
murtadin Ikhwa Luqman, Kesaksian murtadin Pdt. Akmaal Sani, Kesaksian
murtadin Lies Saodah, Kesaksian murtadin Hagai Ahmad Maulana yang
mengaku-ngaku putera KH. Kosim Nurzeha, dan lain-lain.

Bantuan Bencana Alam

               Beberapa wilayah yang sering menjadi target pemurtadan; wilayah konflik dan bencana alam, wilayah transmigrasi, wilayah-wilayah miskin dan terpencil. Modus operandinya adalah dengan pemberian bantuan sosial berupa pangan, obat-obatan dan uang.

Calang dan Meulaboh, paska bencana tsunami adalah daerah rawan kristenisasi.
Isu pemurtadan di tengah masyarakat Aceh memang santer terdengar sejak tsunami meluluh lantakkan Aceh.. Berbagai cara dilakukan para misionaris, baik secara individu maupun yang berada dalam lembaga swadaya masyarakat. Suatu kali, seorang relawan Hizbut Tahrir, Mujiyanto, terkaget-kaget ketika melihat banyak sekali buku saku tentang Yesus bertebaran di kapal motor Verona yang ditumpanginya menuju Calang, Kabupaten Aceh Jaya. (swara muslim, 17-01-06).

Belum lagi, aktivitas nyata seperti mengajarkan lagu anak-anak, yang ternyata diselipi dengan pengenalan terhadap ajaran kristen. ”Sepintas memang itu seperti lagu potong bebek, namun kenapa di dalamnya ada penyebutan haleluya berulang kali,”ujar Sekjen Hilal Merah, Muzakkir Ridho. Ia menengarai, misionaris asing sengaja membidik anak-anak Aceh untuk menyebaran agama mereka. Menurutnya, LSM asing ini mendirikan sekolah-sekolah informal di kamp-kamp pengungsian dan mencekoki anak-anak Aceh dengan dongeng serta lagu-lagu gereja. ”Bahkan, mereka menghasut anak-anak ini dengan mengatakan Allah tidak adil karena mematikan orang tua sedangkan rumah Allah (masjid-red) tetap berdiri.” (swara muslim, 17-01-06).

            Jelas sudah bagi kita, bahwa kristenisasi itu benar-benar ada dan menjadi ancaman bagi akidah Islamiyah. Tentu saja sebagai muslim, wajib bagi kita bersikap menghadapi modus operandi gereja ini. Melalui lobi-lobi antar tokoh Islam, umat harus melakukan respon secara tegas namun mendidik. Karena bila kita tidak melakukan aksi apapun, maka yang muncul kelak adalah pelecehan yang terus menerus kepada Islam.

“Dan hendaklah di antara kamu segolongan umat menyeru pada kebajikan, menyuruh kepada yang makruf dan mencegah dari yang munkar, merekalah orang-orang yang beruntung” (QS. Al-Imran: 134). Ernas Siswanto@

Boks (Bayan):

Pemurtadan dan Perusakan Citra Jilbab

            Upaya pemurtadan seperti tak pernah mengenal berhenti di negeri ini. Setelah isu pembagian super mi secara gratis kepada kaum dhuafa, menyusul berikutnya adalah beasiswa sekolah. Inilah strategi mereka untuk memurtadkan kalangan “arus bawah”. Bahkan di Malang (Jawa Timur), sebuah lembaga Nasara menyediakan lahan dan rumah papan bagi kaum gelandangan. Di kompleks Gempol (Kodya Malang) ini sudah ada yang membimbing mereka yang murtad itu setiap Ahad.

            Selain dengan cara “sosial” seperti ini, ada juga dengan cara “kriminal” yang mereka lakukan. Sejumlah pemuda yang terlatih disuruh menghamili gadis-gadis Muslimah. Melalui pergaulan bebas atas nama pacaran ini mereka cukup berhasil, ada beberapa yang akhirnya hamil. Si gadis tentu saja minta pertanggung-jawaban pacar lelakinya. Yaitu agar yang menghamili bersedia mengawini demi “menutup” arang yang mencoreng keluarga. Si pemerkosa bersedia asalkan gadis mau kawin menurut agamanya (harus murtad!). Dan sesudah gadis itu murtad, maka si laki-laki ini berusaha keras untuk mempengaruhi keluarga perempuan dengan pendekatan “keramahan” yang luar biasa dan bantuan yang mungkin dibutuhkan berupa materi serta buku-buku bacaan tentang keimanan. Keluarga ini tidak terasa sudah masuk dalam jebakan pemurtadan kaum Nasara.Naudzubillah min Dzalik!

            Di Jakarta lain lagi, pemurtadan dimulai dengan merusak simbol Islam. Para pelacur yang beroperasi di hotel-hotel, disuruh pakai jilbab dan dibayar oleh suatu organisasi pemurtadan yang memiliki dana besar.  Tujuannya untuk merusak citra wanita Muslimah yang mengenakan jilbab. Mereka mau mendiskreditkan para Muslimah berpakain santun  dengan jilbab itu. Inilah upaya busuk Non Muslim tertentu untuk merusak Islam. Apa usaha kita untuk membentengi akidah dari ”serangan brutal” ini?m

Boks II  Bayan:

WAWANCARA ARIMATEA

Arimatea kepanjangan dari Advokasi Rehabilitasi Imunisasi Aqidah yang Terpadu Efektif & Aktual. Dideklarasikan 3 tahun silam, kini Arimatea telah menjadi salah satu ormas Islam yang “diperhitungkan” keberadaannya oleh para misionaris Kristen. Karena tidak seperti ormas Islam lainnya yang menggunakan cara-cara fisik dalam menghadapi upaya pemurtadan di daerah,  Arimatea telah melakukan riset dan studi lintas agama, khusus untuk mengimbangi berbagai gerakan rongrongan agama lain terhadap aqidah umat Islam Dalam suatu kesempatan presentasi ilmiah “Gerakan Gereja 2005-2020, di Masjid Muhajirin Malang, wartawan CN berhasil mewawancarai Ketua Umum Arimatea Habib. Muhsin Al-Attas. Berikut petikannya:

Apa visi dan misi Arimatea?

Arimatea adalah, Pertama forum dakwah lintas umat. Kita ingin memperkenalkan Islam kepada orang-orang non muslim, yang belum faham dengan Islam. Kedua, kita ingin meluruskan pemahaman orang-orang non muslim, yang selama ini salah faham terhadap Islam. Sehingga kita sebagai orang Muslim mempunyai kewajiban sebagaimana Rasulullah SAW juga sering memperkenalkan Islam, dan sering pula meluruskan pemahaman non muslim terhadap Islam. Ketiga, visi & misi ini adalah membentengi akidah umat Islam, dari upaya rongrongan non muslim untuk memurtadkan orang Islam di akhir zaman ini. Makanya Arimatea ini kita jadikan sebagai lembaga riset lintas agama, mengkaji, mengadakan penelitian, investigasi, kemudian bahan-bahan tersebut kita informasikan kepada umat Islam. Atas dasar riset dan penelitian tersebut kita melangkah membuat suatu program dakwah, sehingga diketahui bagaimana peta orang-orang non muslim yang ingin merongrong akidah kita.

Apa benar isu kristenisasi di Indonesia itu berjalan?

Jelas, kristenisasi itu ada dan berjalan, bukan di Indonesia saja, bahkan di seluruh dunia. Ini merupakan kenyataan yang telah terjadi dan telah kita saksikan bersama. Allah SWT pun telah menginformasikan kepada kita, firman-Nya:

`s9ur 4ÓyÌös? y7Ytã ߊqåkuŽø9$# Ÿwur 3“t»|Á¨Y9$# 4Ó®Lym yìÎ6®Ks? öNåktJ¯=ÏB 3 ö@è% žcÎ) “y‰èd «!$# uqèd 3“y‰çlù;$# 3 ÈûÈõs9ur |M÷èt7¨?$# Nèduä!#uq÷dr& y‰÷èt “Ï%©!$# x8uä!%y` z`ÏB ÉOù=Ïèø9$#   $tB y7s9 z`ÏB «!$# `ÏB <c’Í<ur Ÿwur AŽÅÁtR

Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu hingga kamu mengikuti agama mereka. Katakanlah: “Sesungguhnya petunjuk Allah Itulah petunjuk (yang benar)”. dan Sesungguhnya jika kamu mengikuti kemauan mereka setelah pengetahuan datang kepadamu, Maka Allah tidak lagi menjadi pelindung dan penolong bagimu.

Ini adalah ayat yang menginformasikan tentang keberadaan kristenisasi, sehingga kita tidak boleh ragu lagi bahwasannya kristenisasi itu ada. Ada beberapa golongan orang Islam yang mereka tidak mengakui adanya kristenisasi. Ini merupakan indikasi bahwa orang-orang tersebut sudah terpengaruh pikirannya oleh Zionisme, sehingga ia menganggap kristenisasi itu isu yang diciptakan oleh orang Islam sendiri, ini adalah fitnah yang luar biasa. Sudah jelas ayat Allah telah memperingatkan kita, dan pada kenyataannya ketika kita melakukan investigasi di masyarakat, banyak ditemukan korban umat Islam yang sudah dimurtadkan oleh mereka.

Bagaimana pendekatan Arimatea untuk mengatasi masalah kristenisasi itu?

Kita mengajak kepada komponen Islam dari mana pun berada, mari kita bersatu dalam langkah-langkah mengantisipasi, mengadakan gerakan penyeimbang terhadap gerakan gereja tersebut. Untuk itu, maka dalam forum Arimatea ini ada NU, Muhammadiyah, Persis, dan al-Irsyad. Mari kita bersama-sama membuat satu titik temu dalam rangka untuk menghadapi mereka, tanpa kita harus membahas lagi perbedaan di antara kita.  Kita menyadari bahwa kita memiliki perbedaan, tapi dalam hal ini (masalah kristenisasi), perbedaan itu hendaknya kita abaikan. Adalah lebih penting, yaitu menghadapi gerakan pemurtadan tersebut. Kemudian strategi kedua, kita (Arimatea) melakukan silaturahmi ke ulama-ulama dan tokoh-tokoh seluruh Indonesia untuk mengadakan sosialisasi dan menyampaikan informasi tersebut. Kita harapkan ada kesadaran, jika ada kesadaran akan ada ghirah untuk berjuang. Ketika itulah kita akan mengadakan langkah-langkah dengan duduk bersama membentuk format perjuangan yang kita jembatani melalui forum Arimatea ini.

Bagaimana pendapat Anda, terhadap berdirinya gereja-geraja liar yang sekarang banyak merebak di lingkungan umat Islam?

Betul, gereja-gereja liar memang banyak bermunculan, bahkan bukan hanya gereja saja sebetulnya, ruko-ruko, mal-mal, semuanya beralih fungsi menjadi gereja, adapun dasar mereka melakukan itu karena orang-orang kristen menjalankan amanat agung: menyebarkan Injil ke seluruh makhluk di muka bumi. Itu artinya juga pemurtadan, dan hal itu adalah sesuatu yang tidak bisa ditunda-tunda lagi, mereka pun memaksakan kehendak. Walaupun Indonesia memiliki UU, SKB 2 menteri dan sebagainya, mereka tidak akan mengindahkan hal itu, karena mereka mempunyai target, tahun sekian mereka harus mendirikan gereja sebanyak-banyaknya, tahun sekian harus memurtadkan umat Islam sebanyak-banyaknya.

Apa yang sebaiknya dilakukan umat Islam dalam menangani gereja-gereja liar di Indonesia ini?

Pertama, adalah kesadaran bahwa gerakan gereja itu ada.  Kedua, adalah kesadaran bahwa gerakan itu berbahaya bagi umat Islam saat ini. Ketiga, kita harus bersatu, membuat satu langkah bersama untuk mengantisipasi hal itu. Kalau ada persatuan tidak mungkin pemurtadan di Indonesia terwujud. Jadi jangan sampai umat Islam ini sibuk dengan perbedaan-perbedaan sendiri, sedangkan musuh di depan sudah sangat luar biasa menghadapi kita. Dengan adanya persatuan dari semua ormas Islam, kebersamaan di forum Arimatea ini diharapkan kita bisa mengambil langkah untuk mengantisipasi gerakan kristenisasi terutama pendirian gereja-gereja liar. (Ernas & Helmi)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

RSS
Telegram
WhatsApp