WAHAI ORANG BERIMAN,BERSHALAWATLAH ATAS NABI

Memuji dan menyanjung Rasulullah SAW adalah sunnah nabawiyyah. Sebab Sunnah Nabi adalah apa saja yang dinisbatkan pada Nabi baik perkataan, perbuatan, pengakuan (taqrir), serta sifat-sifat beliau SAW. Taqrir adalah bentuk persetujuan Rasulullah SAW atas suatu perbuatan. Ketika seseorang melakukan suatu perbuatan di hadapan Nabi atau di jaman Nabi, kemudian Nabi tidak melarang atau mengingkarinya.

Maka, ketika seorang sahabat memuji beliau SAW dengan lantunan sya’ir yang awalnya

بَانَتْ سُعَادُ فَقَلْبِي اْليَوْمَ مَتْبُوْلُ

“Telah nampak sang kekasih, maka hatiku hari ini dilanda kerinduan.“

Rasulullah SAW tersenyum mendengarnya. Hati beliau gembira. Kemudian Rasulullah SAW menghadiahkan padanya sebuah burdah (selendang).

Selendang di sini adalah benar-benar selendang. Bukan selendang dalam mimpi Imam Al-Bushiry, pengarang qasidah terkenal Amin tadzakkuri jiiranin... Lalu apa maksud Nabi melepas selendangnya dan menghadiahkan pada penyair tadi? Tak lain ini adalah ungkapan gembira dengan perbuatan sahabat itu.

Dengarkan juga pujian Hassan bin Tsabit, saat Nabi SAW datang ke Makkah

فَإِنَّ أَبِي وَوَالِدَهُ وَعِرْضِيْ #  لِعِرْضِ مُحَمَّدٍ مِنْكُمْ فِدَاءُ

“Sungguh, ayahku, orang tuanya dan harga diriku, adalah penebus bagi kehormatan Muhammad SAW. “

وَأَحْسَنُ مِنْكَ لَمْ َترَ قَطُّ عَيْنِيْ # وَأَجْمَلُ مِنْكَ لَمْ تَلِدِ النِّسَاءُ

خُلِقْتَ مُبَرَّأً مِنْ كُلِّ عَيْبٍ # كَأَنَّكَ قَدْ خُلِقْتَ كَمَا تَشَاءُ

Yang lebih baik darimu, mataku belum pernah melihat.

Yang lebih indah darimu, tak pernah dilahirkan

Engkau diciptakan tanpa cela

Seakan kau telah diciptakan seperti yang kau suka.

Pujian mana yang lebih agung dari ini?

Dalil-dalil ini menunjukkan bahwa memuji-muji Rasulullah SAW sering dilakukan oleh para shahabat. Jika kemudian banyak kaum muslimin yang memuji dan menyanjung beliau SAW, ini bukan perbuatan dosa, bukan bid’ah, tidak merusak tauhid, juga tidak merusak aqidah. Atau kita ajarkan pada anak-anak kita pujian-pujian kepada Rasulullah SAW agar mereka terlatih mengenal Rasulullah SAW dan melantunkan pujian padanya bersama teman-temannya sejak dini.

Ketika Rasulullah SAW datang ke Madinah beliau juga disambut beramai-ramai   dengan pujian

طَلَعَ اْلبَدْرُ عَلَيْناَ  مِنْ ثَنِيَّةِ اْلوَدَاعِ

Sekelompok wanita yang lain juga melantunkan qasidah

نَحْنُ بَنَاتٌ مِنْ بَنِي النَّجَّارِ# يَا حَبَّذَا مُحَمَّدٌ مِنْ جَارِ

“Kami adalah putri-putri Bani Najjar, Alangkah baiknya Nabi Muhammad sebagai tetangga kami.”

Nabi SAW menyambut baik sanjungan mereka seraya berkata,

أَتُحْبِبْنَنِي ؟ وَاللهِ إِنِّي َلأُحِبُّكُنَّ

“Apa kalian mencintaiku? Demi Allah, aku pun mencintai kalian.”(Sirah Halabiyah juz 2 Hal 215)

Saat Rasulullah SAW pulang dari perang Badar, seorang wanita menghadap beliau, “Ya Rasulullah SAW, aku telah bernadzar, kalau Anda kembali dengan selamat, aku akan menabuh rebana.” Nabi menjawab,

أَوْفِي بِنَذْرِكِ

Laksanakan nadzarmu!” Kemudian dia berdiri dan menabuh rebananya. Kejadian itu berlangsung di dalam Masjid Nabawi yang mulia, seusai Nabi melaksanakan shalat dan disaksikan oleh para sahabat. Hal itu dia lakukan untuk mengekspresikan kegembiraannya atas datangnya Rasulullah SAW. (Sunan Abi Dawud juz 9 hal 38)

Sekarang ini banyak orang menggubah qasidah diniyyah. Qasidah tentang tauhid, pujian kepada Allah, memuji kebesaran Islam. Namun tak satu pun dari qasidah mereka yang memuji Nabi SAW. Kita tidak mengingkari bahwa itu semua adalah qasidah diniyyah. Tapi mana sifat-sifat Nabi?  mana akhlaq Nabi?, mana qasidah yang melunakkan hati dan membuat kita rindu pada Rasul SAW? Apa salahnya kalau kita menyebut akhlaqnya yang mulia atau pujian Allah padanya dengan qasidah yang menuntun hati menuju cinta Rasulullah SAW? Tidak cukup dengan qasidah-qasidah  yang kering seperti ini..

Kita tahu tauhid memang pokok. Tapi mencintai Nabi SAW adalah bagian dari tauhid itu sendiri. Siapa yang memisah antara tauhid dan mencintai Nabi SAW?

Rasulullah SAW sendiri mengikatkan cinta kepadanya pada keimanan. Beliau SAW bersabda :

لاَ يُؤْمِنُ اَحَدُكُمْ حَتَّى أَكُوْنَ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِنْ مَالِهِ وَوَلَدِهِ وَالنَّاسِ أَجْمَعِيْنَ

“Tidaklah sempurna iman salah seorang dari kalian kecuali aku menjadi orang yang paling dicintainya dibanding hartanya, anaknya, dan seluruh manusia”

Diriwayatkan bahwa Umar ra berkata, “Ya Rasulullah SAW, aku mencintaimu melebihi hartaku dan anakku, kecuali diriku sendiri.” Nabi menyuruh mengulanginya. Umar pun berkata, “Aku mencintaimu melebihi segalanya, kecuali diriku sendiri.” Kemudian Rasulullah SAW bersabda:

لاَ يُؤْمِنُ اَحَدُكُمْ حَتَّى أَكُوْنَ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِنْ مَالِهِ وَوَلَدِهِ وَنَفْسِهِ

Mendengar itu Umar berkata, “Ya, aku mencintaimu melebihi diriku sendiri”.

Rasulullah SAW lalu bersabda, “Sekarang.., Wahai Umar.” Maksudnya sekarang sempurnalah imanmu.

Sayyidina Umar ketika menyatakan lebih mencintai dirinya bukanlah suatu kekurangan, justru dia mengungkapkan apa yang ada dalam hatinya dengan jujur. Saat itu dia masih seorang murid yang sedang dididik dalam madrasah Nabi yang mengajarkan mahabbah. Perkataannya yang pertama dan kedua kali adalah ungkapan perasaannya kepada Nabi secara jujur dan tulus. Kemudian Nabi membimbingnya. Pada kali ketiga imannya pun menjadi sempurna.

Lalu bagaimana sebenarnya pujian yang dilarang oleh Rasulullah SAW? Nabi sendiri telah menjelaskan dalam sabdanya:

لاَ تُطْرُوْنِيْ كَمَا أَطْرَتِ النَّصَارَى عِيْسَى ابْنِ مَرْيَمَ

“Jangan puji aku seperti orang Nashara memuji Isa bin Maryam”

Pujian yang dimaksud adalah pujian yang menempatkan Rasulullah SAW pada kedudukan yang tidak semestinya. Orang-orang Nashara menyanjung Nabi Isa hingga menyamakannya dengan kedudukan Tuhan atau anak Tuhan. Ini pujian yang keliru. Kita menyanjung Rasulullah SAW tapi tidak melebihkannya hingga menyamai kedudukan Allah SWT. Pujian yang tercela adalah menempatkan Nabi pada derajat yang hanya menjadi milik Allah, maka tidak boleh kita katakan Nabi itu sang pencipta, atau anak pencipta. Adapun selain itu, tak masalah jika kita memujinya dengan pengagungan.

Imam Bushiri mengisyaratkan dalam masalah ini,

Tinggalkan apa yang dilakukan orang nashara dalam memuji nabi mereka, pujilah Nabi dengan bijak, Pujilah sesukamu karena  keutamaan Nabi tak terbatas, mulut pun tak mampu mengungkapkannya.

Kekhususan Nabi tidak terbatas, tapi jangan keluar dari batas ini pada batas ketuhanan. Dalam hal-hal yang khusus untuk Allah. Adapun selain itu, berupa pujian, kerinduan pada beliau, pada tempat-tempat yang pernah didatanginya, tak ada masalah.

Kita tahu bahwa qosidah pujian pada Rasulullah SAW termasuk sarana dakwah yang efektif di berbagai daerah. Di antaranya Indonesia, Afrika dan Kenya, di sana ada seorang da’i masyhur, Imam besar Habib Ahmad Masyhur bin Toha Al-Haddad. Beliau berkata, “Dulu aku dengan berkah shalawat atas Nabi, berkumpul dengan  ribuan orang dalam  lapangan yang luas, secara serentak mereka melantunkan “Shallallah alaa Muhammad Shallallah alaih Wasallam…” dalam sekejap, shalawat itu mampu membuat banyak orang masuk Islam. Saya kenal juga dengan Habib Muhammad bin Ali Al Habsyi, Jakarta. Beliau pernah mengadakan peringatan maulid Nabi  yang dihadiri banyak orang hingga meluber ke jalan raya. Ketika sampai pada puncak acara, gemuruhlah suara shalawat atas Nabi, “Shallallah alaa Muhammad Shallallah alaih Wasallam…” Semua yang hadir membaca shalawat dengan khusyu’. Tak sedikit di antara mereka yang menangis terharu. Hal itu membuat beberapa orang non muslim heran dan takjub, tak terasa bibir mereka pun ikut bergerak menirukan shalawat. Usai acara, mereka menghampiri Habib Muhammad Al-Habsyi, “Kami kagum dengan qasidah ini, siapa yang diperingati dalam acara ini?” tanya mereka penasaran. Beliau  jawab, “Yang dipuji adalah Rasulullah SAW,” akhirnya mereka pun masuk Islam. Itu di Indonesia, begitu pula di daerah lain seperti Senegal, Afrika dan lainnya.

Perintah shalawat sendiri menurut Imam Syafi’i lebih utama daripada perintah sujudnya malaikat kepada Nabi Adam berdasarkan ayat:

إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا

Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, bershalawatlah pada nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya (Al-Ahzab:56)

Ketika ditanya alasannya, Imam Syafii menjawab, “Pertama, Sujudnya malaikat itu telah berlalu dan selesai. Sedangkan shalawat kepada Nabi berlangsung terus menerus, sesuai dengan redaksi kata Yusholluuna (fi’il mudhari’). Dari dulu sampai sekarang mereka bershalawat, hingga pada waktu yang dikehendaki Allah SWT. Kedua, Sujud kepada Nabi Adam hanya dilakukan oleh malaikat, sedangkan Shalawat dan salam pada Nabi SAW dilakukan oleh Allah SWT beserta seluruh malaikat. Ketiga, sujudnya malaikat pada Nabi Adam adalah sebagai ujian, karenanya iblis gagal dalam ujian tersebut. Adapun shalawat pada Nabi adalah untuk memuliakan beliau SAW. Dengan shalawat ini, Allah memuliakan, mengagungkan dan melimpahkan kebaikan kepada beliau Al-Musthafa SAW. Masun Said Alwy

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

RSS
Telegram
WhatsApp