MENJADI INSAN KAMIL

Tatkala Allah berencana menciptakan manusia di permukaan bumi, para malaikat seolah mengajukan keberatan. Mereka menengarai bahwa manusia hanya akan membuat rusuh dan fasaad serta menumpahkan darah dimana-mana. Bukankah para malaikat senantiasa bertasbih dan menquduskan Allah? Namun Allah tetap menciptakan khalifah di atas bumi dan berseru kepada para malaikat bahwa sesungguhnya Ia tahu apa yang mereka sama sekali tiada mengerti.

Maka berasal dari segumpal tanah, Adam pun tercipta. Berbagai nama dan asma kemudian diajarkan Allah kepada Adam. Ketika kemudian diserukan kepada para malaikat agar mereka menyebutkan nama-nama ini, ternyata mereka tiada mampu dan tunduk bersahaja mengakui kebesaran dan kebenaran Allah.

Apa yang dirisaukan oleh para malaikat tentang tindak- tanduk manusia di permukaan bumi memang tidaklah salah. Tengoklah betapa dahsyatnya bencana yang telah ditimbulkan manusia selama ini. Bencana alam yang datang silih berganti adalah akibat tangan-tangan manusia sendiri. Banjir, tanah longsor, gempa bumi adalah sebagian dari sekian banyak peristiwa alam yang kalau kita amati lebih seksama, merupakan akibat tingkah- laku manusia yang tiada pandai memikul amanat yang dipercayakan Allah kepada mereka sebagai ’khaliifatan fil’ardhi.’ Perhatikan peringatan Allah dalam Al-Ahzab 72 :

إِنَّا عَرَضْنَا الْأَمَانَةَ عَلَى السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَالْجِبَالِ فَأَبَيْنَ أَنْ يَحْمِلْنَهَا وَأَشْفَقْنَ مِنْهَا وَحَمَلَهَا الْإِنْسَانُ إِنَّهُ كَانَ ظَلُومًا جَهُولًا

‘Sesungguhnya Kami telah mengemukakan amanat kepada langit, bumi dan gunung-gunung, maka semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, dan dipikullah amanat itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu amat lalim dan amat bodoh.’

Adapun mengenai darah yang tumpah, kita semua tahu betapa sadis dan jahatnya prilaku manusia di muka bumi selama ini. Setiap hari kita melihat dan mendengar nyawa melayang seolah tak punya arti. Masih segar di ingatan kita ketika seorang gadis Palestina kecil menjerit-jerit histeris menyaksikan seluruh keluarganya tewas mengenaskan di hadapannya setelah dihantam rudal Israel. Di Irak, tanah-tanah menjadi merah karena ceceran darah yang seolah tak pernah ada akhirnya. Tubuh manusia tercabik-cabik bagai tak punya makna apa-apa. Di tanah air tercinta ini, anak membunuh orang-tuanya, suami menghabisi nyawa istri yang melahirkan anak-anaknya, orang tewas hanya karena puluhan ribu rupiah, adalah sekelumit contoh yang hampir setiap saat dapat kita saksikan di tayangan televisi. Anehnya, berita-berita sadis seperti ini disampaikan orang seraya tersenyum tanpa beban apa-apa.

Tulisan ini tidaklah saya maksudkan untuk memaparkan peristiwa-peristiwa seperti di atas. Saya hanya ingin mengajak pembaca mencoba melakukan pengamatan ke sisi yang lain dari kehidupan ini bahwa terlepas dari kesia-siaan manusia di atas bumi ini, sebenarnya kita masih berkesempatan menjadi muslim yang berdaya-guna untuk orang  lain. Di dalam salah satu haditsnya, Rasul pernah bersabda: ‘Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat untuk orang lain.’

Kalau kita cermati sabda Rasul di atas, kita tak dapat begitu saja melepaskan pengamatan kita dari perlunya penekanan tertentu pada frase ‘orang lain.’ Rasul tidak mengatakan bermanfaat ‘bagi dirinya’ atau ‘bagi keluarganya’, tetapi justru ‘anfauhum linnaas.’ Mengapa? Sebab jika kita bermanfaat bagi diri kita atau bagi keluarga kita, itu hukumnya wajib. Setiap orang yang sehat fisik dan mental, tentu akan selalu berusaha menjadi orang yang berguna bagi diri dan keluarganya. Ini adalah sesuatu yang wajar dan tentu saja tidak perlu membuat kita merasa heran. Tetapi berdaya-guna bagi umat? Inilah justru yang menjadi inti permasalahannya!

Banyak orang yang merasa tidak memiliki apapun dalam hidup mereka yang bisa didaya-gunakan untuk kepentingan orang lain. Ini tidak sepenuhnya benar karena pada hakekatnya setiap orang yang terlahir ke dunia ini dilengkapi dengan fasilitas dan karunia yang bisa dimanfaatkan.

Mengamati apa yang bisa kita berikan kepada umat, ada beberapa fasilitas yang sebenarnya banyak dimiliki oleh individu-individu muslim yang tampaknya masih enggan didaya-gunakan bagi perkembangan dan kemajuan umat. Perhatikan bagaimana mesjid-mesjid dan pesantren-pesantren kita terengah-engah kehabisan nafas dalam membangun. Di mana-mana kita menyaksikan bangunan rumah Allah ini terbengkalai, adakalanya sampai bertahun-tahun. Kita sedih dan sangat prihatin melihat kotak-kotak amal dipamerkan orang di tengah-tengah jalan meminta belas kasih dan uluran tangan pengguna jalan. Kita juga sedih dan kecewa menyaksikan kota-kotak amal dibawa berlarian ditepi jalan diikuti mobil yang berteriak-teriak di belakangnya dan dibawa masuk ke toko-toko tanpa memperhatikan dengan seksama pemilik toko seorang muslim atau bukan. Di sebuah toko komputer besar di Surabaya, saya pernah melihat seorang gadis berjilbab menyodorkan sebuah map bantuan atas nama sebuah pondok putri. Pemilik toko, jangankan menyodorkan uang bantuan, menoleh saja pada sang gadis tidak!

Mengapa semua ini harus terjadi di hadapan kita sementara ada jutaan muslim di negeri ini yang bergelar jutawan. Andaikan keinginan dan hasrat menjadi orang yang berguna bagi orang lain ini disadari sepenuh hati, barangkali apa yang saya utarakan di atas ini tidak perlu terjadi. Kalau Allah melapangkan rizki kita di dunia ini, bukankah terbersit di situ semacam pesan Ilahiah agar sebagian dari rizki yang diberikanNya bisa memberikan suatu makna bagi kepentingan dan tumbuh-kembangnya Islam? Kita seringkali lupa bahwa kita ini terlalu mencintai diri kita, padahal kita juga tahu bahwa harta dan segala kenikmatan yang diberikan Allah kepada kita, kelak akan ditanya kita pakai untuk apa saja?

Menjadi orang yang bermanfaat bagi orang lain juga dapat direalisasikan lewat ilmu. Berbicara tentang ini, hendaknya kita tidak menjadi orang yang sempit wawasan. Menyebar-luaskan ilmu yang kita miliki tidaklah semata-mata berarti menyebarkan ilmu agama. Apapun ilmu yang kita miliki, selama itu diajarkan dan disebar-luaskan dengan niat ikhlas karena Allah semata, tentu akan tercatat di hadapan Allah sebagai amalan yang bermanfaat untuk umat. Rasul pernah berpesan agar setiap orang menyampaikan berita tentang beliau walaupun hanya dengan satu huruf saja. Perhatikan pula sabda beliau yang lain, yang kira-kira berbunyi begini: ‘Barang siapa yang menghendaki dunia, maka hendaklah dia berilmu. Barang siapa yang menghendaki akhirat, maka sarana yang diperlukannya adalah ilmu. Barang siapa yang menghendaki keduanya, sarananya adalah juga dengan ilmu.’

Memang benar bahwa tidak setiap dari kita beruntung menjadi orang yang berilmu dan dapat memanfaatkan ilmu kita bagi kepentingan orang banyak. Namun ini tentunya tidak berarti harapan putus sampai di situ. Dengan sarana apa pun yang kebetulan kita miliki, kita sebenarnya masih dapat berdaya-guna bagi sentral-sentral pendidikan Islam dan mereka-mereka yang berkecimpung di dalamnya. Perhatikan bagaimana perpustakaan di sekolah-sekolah dan pesantren-pesantren Islam masih sepi dengan buku-buku bacaan. Guru-guru dan para ustadz masih banyak yang bergaji sama besarnya dengan pembantu rumah-tangga. Guru-guru mengaji kita banyak yang menerima honor tidak lebih dari 50 ribu rupiah sebulan.

Pertanyaan yang barangkali perlu kita ajukan adalah, masih adakah seberkas kemauan kita untuk mencoba menjadi muslim yang bermanfaat untuk orang lain. Ataukah kita sudah merasa cukup nyaman setelah bisa menjadi orang yang bisa memberikan manfaat bagi diri dan keluarga kita?

Ada lagi sebuah sikap positip menuju insan berguna yang seringkali kita abaikan begitu saja yaitu mengutarakan hal-hal yang bermanfaat. Belakangan kita sering mendengar statemen-statemen miring yang dikeluarkan justru oleh tokoh-tokoh Islam sendiri. Statemen semacam ini bukannya membawa harapan baru bagi Islam dan umat, bahkan ternyata menimbulkan keresahan dan benturan disana-sini. Sungguh bijak Rasul yang pernah bersabda: ‘Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaklah dia mengatakan yang baik-baik atau diam.’

Lontaran-lontaran pernyataan ngawur tentang kaidah-kaidah Islam atau tentang Al-Qur’an misalnya, seringkali seenaknya saja diucapkan orang-orang tertentu. Kita tidak mengerti mengapa harus dibuat statemen-statemen yang hampir dapat dipastikan menimbulkan ketersinggungan dan kontradiksi. Betapa tiada terbatasnya kesempatan dan peluang mengeluarkan pernyataan-pernyataan indah yang dapat menciptakan suasana sejuk dan harmoni di antara umat. Mengapa harus dibuat ucapan-ucapan konyol yang akibatnya menimbulkan rasa benci dan sakit hati?

Di dalam surat Ibrahim ayat 27 Allah mengisyaratkan suatu janji untuk meneguhkan iman orang-orang beriman dengan ucapan yang teguh dalam kehidupan dunia dan akhirat. Yang dimaksudkan dengan ucapan-ucapan yang teguh adalah ‘kalimatun thayyibah.’ Amati pula janji Allah sebagaimana terfirman pada Al Ahzab 70:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا (70) يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ

 ‘Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kamu kepada Allah dan katakanlah perkataan yang benar. Niscaya Allah akan meluruskan amal-amal kamu dan mengampuni dosa-dosa kamu.’ Demikian pentingnya mengutarakan hal-hal yang baik dan bermanfaat ini sehingga kata ‘gaulan’ atau yang berkaitan dengan itu muncul 94 kali dalam A-Qur’an.

Semua amalan baik yang kita lakukan dengan tujuan menjadi orang yang berguna untuk umat kenyataannya memang tidak selalu mendapat imbalan yang baik pula dari orang lain. Adakalanya niatan dan jerih-payah semacam ini direspon orang justru dengan sikap-sikap yang tidak menggembirakan. Oleh karena itu, apapun yang kita berikan demi kemaslahatan orang lain, hendaknya sepenuhnya ditujukan menuju ridho Ilahi. Harta yang kita belanjakan, ilmu yang kita sebarkan serta pernyataan-pernyataan yang dapat membangun kekuatan serta ketentraman di kalangan muslimin, hendaknya dijadikan perniagaan dengan Allah semata. Ini berarti, bahwa ketika dengan potensi yang dimilikinya, seorang muslim berusaha menjadi orang yang paling bermanfaat, maka pada saat yang sama usaha ini harus dilandasi oleh sikap ikhlas karena Allah saja. Di dalam filosofi Islam, ikhlas tergolong sikap yang teramat tinggi kedudukannya. Ingatlah peristiwa ketika iblis diusir Allah. Sesumbar iblis tatkala itu adalah mengganggu seluruh anak manusia terkecuali hamba-hamba Allah yang ikhlas. Ini memberikan kita suatu keyakinan bahwa perbuatan yang dilandasi oleh sikap ikhlas tidak akan pernah dapat dicederai kesucian dan keanggunannya sekalipun oleh iblis!

Perhatikan betapa indahnya petunjuk Allah dalam surat Al-Insaan 9 berikut ini:

$oÿ©VÎ) ö/ä3ãKÏèôÜçR Ïmô_uqÏ9 «!$# Ÿw ߉ƒÌçR óOä3ZÏB [ä!#t“y_ Ÿwur #·‘qä3ä© ÇÒÈ

’Sesungguhnya kami memberi makanan kepadamu hanyalah untuk mengharapkan keridhaan Allah. Kami tidak menghendaki balasan dari kamu dan tiada pula (ucapan) terima kasih.’ Ayat ini menjelaskan betapa ikhlasnya orang-orang ‘Abrar’ yang menyatakan bahwa mereka memberikan makanan kepada orang miskin, anak-anak yatim dan para tawanan hanyalah untuk mengharapkan keridhaan Allah semata. Mereka tidak menghendaki balasan dan tidak pula mengharapkan ucapan terima kasih. Jadi, di saat hendak memulai suatu usaha sosial menuju kepentingan Islam dan muslimin, hati dan lidah ini hendaknya berniat ikhlas karena Allah tanpa dicampuri oleh perasaan lain seperti memperoleh balasan setimpal, atau mengharapkan pujian dan sanjungan orang lain.

Menurut hemat saya, di hadapan setiap muslim senantiasa terhampar kesempatan berbuat sesuatu bagi kepentingan Islam. Ukuran seberapa besar atau kecilnya kiprah dan kontribusi yang bisa dia berikan, tidak seharusnya menjadi masalah. Kontribusi yang menurut kaca-mata kita tidak teramat berarti, boleh jadi teramat besar di hadapan Allah manakala itu dilakukan dengan penuh keikhlasan.

Tiada alasan bagi setiap orang yang mengaku sebagai seorang muslim untuk tidak berbuat sesuatu bagi kemaslahatan muslim yang lain. Tak seorangpun yang diciptakan Allah di dunia ini yang tidak dilengkapi dengan seberkas kemampuan. Permasalahannya hanyalah, adakah seberkas kehendak untuk membaktikan seberkas kemampuan ini?

Kita boleh menjadi manusia-manusia yang berdaya-guna bagi keluarga kita sebab sudah barang tentu itu merupakan sikap terpuji. Tapi itu saja tidaklah cukup! Setiap muslim harus senantiasa berusaha menjadi orang-orang yang ada gunanya bagi muslim lainnya. Kemudian, kita pun boleh tersenyum, sebab dengan begitu, Insya Allah kita pun sudah diberi kesempatan memasuki pintu menuju muslim yang kamil….!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

RSS
Telegram
WhatsApp