Isu Itu Ibarat Racun

Arkian, seorang lelaki hendak membeli budak di pasar. Ada penjual yang berteriak-teriak menawarkan dagangannya. Dagangan itu tak lain adalah seorang pemuda tegap dan kuat, yang dipuji setengah mati oleh penjualnya . Tiada cacat, katanya, pada budaknya itu kecuali satu: dia suka mengadu domba. Lelaki calon pembeli berpikir, “Ah, kalau cuma masalah adu domba, itu soal kecil. Aku pasti dapat menanganinya.” Lelaki itu sudah terlanjur cocok rupanya dengan pemuda tersebut. Singkat kata, transaksi berjalan. Deal.

Budak itu lalu dibawa pulang oleh si pembeli. Sampai di rumah, pemuda ini memang sesuai dengan harapan. Dia bekerja dengan tangkas, tenaganya kuat. Dia pun tak pernah bikin ulah.

Namun, setelah beberapa hari tinggal di rumah baru, mulai timbul sifat aslinya. Dia menebar racun fitnah kepada si nyonya rumah. “Nyonya, Tuan kebelet kawin lagi atau mengambil selir. Katanya, dia sudah tidak cinta pada Nyonya,” si budak berkata. “Nyonya tak usah khawatir. Saya punya resepnya. Kalau Nyonya ingin supaya dia tetap mencintai Nyonya, ambillah beberapa helai bulu jenggotnya. Nanti malam, saat Tuan tidur lelap, ambillah pisau lalu cukurlah beberapa helai bulu jenggotnya. Setelah itu, simpan helai-helai bulu jenggot itu pada diri Nyonya. Bawalah bulu itu ke manapun Nyonya pergi, dijamin Tuan mencintai Nyonya lagi,” katanya.

Perempuan itu tidak menjawab, tapi dalam hati dia berkata, “Ya.” Hatinya bergejolak.  Dia benar-benar termakan oleh hasutan itu. Akhirnya, dia putuskan untuk mencukur bulu jenggot suaminya.

Sementara itu, si pemuda menghasut tuannya. “Tahukah Tuan, Nyonya atau istri Tuan punya PIL (pria idaman lain). Dia mencintai pria itu, dan dia ingin lepas dari Tuan,” katanya. “Tuan, dia punya rencana jahat. Malam ini dia hendak menyembelih Tuan. Kalau Tuan tidak percaya pada saya, berpura-puralah tidur malam ini. Lihat bagaimana Nyonya mendatangi Tuan. Dia pasti membawa sesuatu untuk dipakai menyembelih Tuan.”  

Racun yang sangat jahat. Dan racun itu mulai bekerja pada diri sang majikan yang termakan pula oleh hasutan budaknya. Malam itu, si majikan berpura-pura tidur. Malam semakin larut. Dari celah-celah kelopak matanya yang dia picingkan, dia mengintip istrinya datang membawa pisau hendak mencukur beberapa helai bulu jenggot suaminya. “Wallahi, demi Allah, budakku ternyata benar dengan kata-katanya,” dia membatin. Namun dia diam saja. Dia menunggu hingga istrinya benar-benar dekat.

Ketika istrinya membungkukkan badan lalu mengarahkan pisau ke bawah jenggotnya, yang berarti ke lehernya, secepat kilat lelaki itu merampas pisau dari tangan istrinya lantas dia menyembelih itu perempuan.

Mendengar ribut-ribut, keluarga si perempuan datang. Darah berceceran dari tubuh perempuan tersebut yang sedang meregang nyawa. Mereka serentak mengeroyok itu lelaki, dan membunuhnya. Sejak itu, terjadilah perang berkelanjutan antara kedua keluarga. Semua gara-gara si pemuda budak, sang pengadu domba.

Tabayyun Ala Nabi

Pertumpahan darah itu sebenarnya bisa dicegah seandainya si tuan atau nyonya tak cepat percaya kepada omongan budaknya. Apalagi, jelas-jelas, sang budak berperangai suka mengadu domba. Berarti dia seorang fasik. Padahal berita seorang fasik (pendusta dan pelaku dosa besar) seharusnya tidak ditelan mentah-mentah. Harus ada tabayyun, klarifikasi, seperti ditegaskan dalam firman Allah:

{ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا إِنْ جَاءَكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَإٍ فَتَبَيَّنُوا أَنْ تُصِيبُوا قَوْمًا بِجَهَالَةٍ فَتُصْبِحُوا عَلَى مَا فَعَلْتُمْ نَادِمِينَ}

Artinya:  “Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu.” (Al-Hujurat: 6)

Ayat ini turun berkenaan dengan peristiwa yang mirip dengan cerita di atas. Suatu kali Nabi mengutus Walid bin Uqbah untuk mendatangi Banil Mushthaliq guna menghimpun zakat mereka. Walid pun berangkat ke perkampungan mereka. Ketika mereka melihat utusan Nabi s.a.w. ini, mereka berbondong-bondong menyongsongnya. Walid ketakutan. Konon, menurut satu riwayat, memang ada permusuhan laten antara si Walid dan mereka. Walid segera berbalik badan dan kembali kepada Nabi s.a.w. Di hadapan beliau dia mengarang cerita. Katanya, Banil Mushthaliq telah murtad dari Islam.

Beliau tidak langsung percaya. Beliau mengutus Khalid bin Walid r.a. supaya datang ke Banil Mushthaliq guna mencari tahu kebenaran berita Walid mengenai mereka. Beliau suruh dia melakukan penyelidikan dan tidak buru-buru mengambil kesimpulan.

Maka berangkatlah Khalid ke tempat mereka. Sampai di dekat perkampungan mereka, hari sudah malam. Khalid tidak langsung masuk. Dia suruh sejumlah mata-matanya untuk menyebar pada mereka.

Ketika kembali dari sana, para mata-mata mengabarkan kepada Khalid bahwa Banil Mushthaliq masih memegangi Islam. Buktinya, mereka masih mendengar suara azan dan salat.

Ketika pagi menjelang,  Khalid pergi ke tempat Banil Mushthaliq guna menyelidiki kebenaran kata-kata anak buahnya. Di sana dia mendapati keislaman mereka masih kuat. Maka pulanglah Khalid dan melaporkan kepada Nabi s.a.w. apa yang dia peroleh. Maka turunlah ayat di atas. Nabi s.a.w. pun bersabda, “Pelan-pelan (hati-hati) itu dari Allah, dan buru-buru itu dari syetan.” 

Hati-hati

Ayat di atas membimbing kita bahwa bila kita menerima berita dari orang fasik, hendaknya kita berhati-hati. Jangan buru-buru menerimanya sebelum melakukan tabayyun atau klarifikasi. Terutama bila berita itu berkenaan dengan keburukan orang lain. Terlebih lagi bila berita itu bisa berakibat jauh. Yakni dapat menimbulkan rasa benci, rasa permusuhan di hati kita, atau bahkan konflik alias pertengkaran.

Mungkin berita itu menyangkut keluarga kita — anak kita, orangtua kita, saudara kita atau pasangan hidup kita (suami atau istri). Misalnya, berita tentang perselingkuhan istri atau suami kita. Mungkin saja berita tentang tetangga kita, teman kita atau bahkan musuh kita. Misalnya, kita pernah punya masalah dengan seseorang, dan hingga kini hubungan kita dengannya belum pulih. Tiba-tiba ada orang memberi tahu bahwa musuh kita itu menantang kita, atau mengatakan sesuatu yang tidak mengenakkan hati kita. Biasanya, kita langsung percaya, dan emosi kita langsung mendidih. Ayat di atas menyuruh kita untuk bersikap sebaliknya. Hendaknya kita tidak buru-buru. Jangan langsung percaya. Betapa banyak kasus putusnya hubungan keluarga, pertengkaran, permusuhan, amuk massa hanya gara-gara hasutan yang tidak dicek kebenarannya lebih dulu. Coba baca berita tentang berbagai kerusuhan antarkampung atau antargolongan, hampir semuanya disebabkan isu yang disebar orang tak bertanggung jawab, dan orang-orang langsung menelannya mentah-mentah tanpa melakukan klarifikasi dulu. Padahal, sebenarnya Al-Quran menuntun kita untuk bersikap cerdas dan mengedepankan akal sehat.

Kalau perlu, bila kita tahu bahwa kita sedang diadu domba, kita bisa meniru sikap Khalifah Umar bin Abdil Aziz.  Suatu hari seorang lelaki menghadap padanya. Entah karena ABS (asal bapak senang) atau karena apa, tamu itu menyebut-nyebut seseorang yang, katanya, telah berkata begini dan begitu tentang Khalifah. Umar langsung menyergah, “Ai, kalau kamu mau, kami akan menyelidiki siapa kamu sebenarnya. Kalau kamu berkata jujur, maka engkau tergolong dalam ayat ini, (yang artinya) ‘Apabila datang padamu orang fasik membawa berita, periksalah dengan teliti.’ (Al-Hujurat: 6) Kalau kamu berbohong, kamu termasuk yang disinyalir ayat Al-Quran (yang artinya), ‘… tukang cela, yang bergentayangan menjinjing fitnah.’ (Al-Qalam: 11) Kalau kamu mau minta maaf, aku maafkan kamu.”

Orang itu merasa ketakutan. “Ampun, Amiral Mu’minin, saya mohon maaf,” katanya. “Saya berjanji, tidak akan mengulangi perbuatan ini.”

Atau, kalau persoalannya begitu penting (misalnya menyangkut persoalan umat, orang banyak, sehingga tidak bisa diabaikan begitu saja), kita mesti mencari tahu lebih dulu kebenaran berita itu, sebelum menerimanya. Kita lakukan penyelidikan. Kita lakukan cek dan ricek (pengecekan kembali), atau cek dan kroscek (cek silang).

Hadis di atas memberi tuntunan kepada kita tentang bagaimana kita menghadapi berita penting yang berisiko besar. Di situ diceritakan bahwa Nabi s.a.w. tidak serta merta mempercayai berita dari Al-Walid. Beliau mengeceknya lebih dulu. Beliau utus Khalid bin Walid untuk melakukan penyelidikan seraya berpesan supaya Khalid tidak buru-buru mengambil kesimpulan. Khalid pun bersikap demikian. Dia cek kebenaran berita Al-Walid dengan menyebar sejumlah mata-matanya ke tengah perkampungan Banil Mushthaliq. Setelah itu, esoknya, dia masih perlu mengecek kembali berita yang disampaikan anak buahnya. Barulah sesudah yakin dengan keadaan sesungguhnya, dia melapor kepada Rasul s.a.w.

Kehati-hatian dan sikap tidak buru-buru semakin ditekankan lagi jika kita hendak menceritakan kembali berita berisiko yang kita peroleh kepada orang lain. Nabi s.a.w. bahkan mencela orang yang menceritakan segala berita yang didengarnya, tanpa menapisnya terlebih dulu melalui akal sehat dan kearifan (baca rubrik Bayan edisi ini).

Hamid Ahmad

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

RSS
Telegram
WhatsApp